
Ruangan yang terlihat sangatlah sepi dan hanya ada satu seseorang yang telah terbaring lemas diatas brangkar Rumah sakit dengan beberapa selang yang tertempel pada tubuh seseorang wanita itu.
Awalnya suasana terlihat biasanya saja akan tetapi tak lama kemudian datanglah langkah kaki seseorang yang perlahan-lahan mulai mendekati Wanita itu.
Terlihat dari wajah senyumannya seseorang itu terlihat sedang merencanakan sesuatu. Dengan membawa pisau tajam yang berada di genggamannya langkahnya tambah semakin mendekatinya.
Menyadari akan kehadiran seseorang yang berada didalam ruangannya, Bintang yang sedari tadi terbaring ia lantas berniat ingin bangkit, tapi belum juga dirinya mampu bangkit dirinya sudah terlebih dulu mendapatkan pukulan yang akhirnya membuatnya jatuh pingsan kembali.
"Bintang... Bintang ternyata hidupmu sangatlah menyedihkan ya, hanya bisa terbaring tidak berdaya seperti ini. Tapi apa kamu tau kedatangan-ku kesini aku hanya ingin bilang terima kasih! Terima kasih karena kamu sudah berhasil membuat hidupku hancur termasuk menggalami kebangkrutan dan juga seseorang seperti Amel yang meninggalkan aku dan mencampakkan aku begitu saja. Dan kamu? Setelah apa yang kamu lakukan padaku apa aku akan membiarkan kamu bahagia begitu saja dan kembali pada Pria bernama Tristan itu, tidak! Itu semua tidak akan pernah terjadi!"
Dan aku tahu kamu pasti sangatlah menderita dengan semua penderitaan ini dan kamu tenang aja mumpung aku baik jadi aku akan membuatmu tidak perlu susah-susah lagi bertahan dan merasakan rasa sakit yang selama ini telah membuatmu sangat menderita. Karena pisau ini, pisau inilah yang akan mengantarkan mu ke kebahagiaan kamu yang sesungguhnya.
__ADS_1
Berlalu Rafa pelan-pelan ia mulai menghampiri Bintang yang telah terbaring diatas brangkar dalam kondisi tidak sadarkan diri. Pisau yang berada digenggaman nya ia layangkan keatas dan tinggal selangkah lagi pisau itu akan tertancap pada perut Bintang. Akan tetapi dengan kehadiran Tristan yang secara tiba-tiba datang tepat waktu ia langsung mendorong Rafa hinga dirinya jatuh tersungkur.
"Rafa apa yang kamu lakukan apa kamu udah gila! Apa kamu sudah gila karena berniat ingin membunuh Bintang setelah kehancuran kamu berikan padanya selama ini. Apa kamu tidak kasihan, dia sudah menderita apa kamu masih mau menambah penderitaannya lagi.
"Jangan mendekat! Jika selangkah aja kamu berani mendekatiku maka pisau tajam inilah yang akan melukai leher wanita yang kamu cintai ini. Apa kamu mau melihatnya terluka? tidak kan?"
"Sekarang aku tidak tahu harus memulai darimana untuk mengatakan ini sama kamu, tapi aku mohon jangan lakukan itu...aku mohon buanglah pisau itu aku mohon jangan lukai dia aku mohon!"
Mata tajam Rafa yang mengarah tajam kearah Bintang. Dengan adanya pisau yang masih berada di genggamannya membuat Rafa tak segan-segan ingin segera menancapkan pisau ini ke tubuh Bintang.
Tristan yang tidak tingal diam ia berusaha sekuat tenaga menggambil pisau itu dari genggaman Rafa selama hampir beberapa menit mereka beradu akhirnya kemenangan berpihak pada Tristan setelah ia berhasil merebut dan melemparkannya kearah yang agak jauh.
__ADS_1
Akan tetapi nasib buruk terjadi pada Tristan tanpa ia sadari terdapatlah satu buah pisau yang berada diatas nakas bersebelahan dengan sajian buah-buahan. Rafa yang menyadarinya ia segera mengambilnya tak main-main ia kembali menancapkan pisau lancip itu berbalik tepat ke perut Tristan.
Darah segar telah mengalir dari perutnya dan membuat kemeja putih yang dipakainya berubah menjadi merah darah. Tubuh yang seketika hampir tersungkur, rasa sakit, perih yang tiba-tiba menyerangnya membuat pandangan Tristan menjadi kabur.
Belum juga perkataan yang diucapkan oleh Tristan selesai, satu tusukan lagi terlepas dan tepat mengenai perutnya. Dar*h yang mengalir dengan deras membuat Rafa yang melihatnya ia hanya melihat dengan tatapan yang kosong kan tertawa sinis tidak ada langkah dari seseorang yang pria itu untuk bersimpati mau menolong Tristan yang terlihat sudah tidak berdaya dihadapannya.
Rasa lemas semakin telah dirasa olehnya. Tubuhnya yang seketika merosot kebawah yang akhirnya membuatnya tak tahan lagi, dengan bersimbah banyak dar*h akhirnya Tristan pun jatuh tersungkur.
Mulut yang seperti terkunci. Dan tubuh yang tidak mampu ia gerakkan, sesaat kemudian entah apa yang ada dibenak Rafa saat ini. Melihat seorang yang telah tidak berdaya tepat dihadapannya, tidak ada rasa simpati yang hadir dalam benaknya. Tak tahu apa tujuan pertamanya, Rafa dengan langsung ia melangkahkan kakinya ke depan dan tepat di samping wanita yang dalam kondisi sudah tidak berdaya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1