
Sella kamu tau dimana Nurma berada aku kok hari ini tidak melihat, apa dia lagi sakit?"
"Bintang memangnya kamu tidak tau apa yang terjadi dengan nurma? Setelah kejadian kemaren kamu memarahi seseorang kamu sama sekali tidak tau?"
"Aku sama sekali tidak tau apa-apa memangnya apa yang terjadi? Memangnya Nurma kenapa setelah kejadian kemaren?"
"Aku dengar-dengar Nurma dipecat oleh pemilik Resort ini kayanya sih yang aku dengar-dengar seseorang yang kamu marahi adik dari pemilik resor ini, intinya panjang kalau dijelaskan, intinya gini aku bukannya menyalahkan kamu tapi akibat dari kecerobohan kamu Nurma yang jadi sasarannya jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Ini tidak bisa dibiarkan, gadis itu yang salah karena memarahi Nurma tanpa adanya alasan yang jelas, jika harus ada yang dipecat harusnya itu aku bukan Nurma aku harus melakukan sesuatu apa kamu tau dimana tempat pemilik Resort ini berada aku ingin menemuinya?"
"Biasanya kalau jam segini tuan dari pemilik Resort ini mendekam didalam ruangan pribadinya, aku akan suruh seseorang kepercayaan tuan untuk mengantarkan kamu."
"Baiklah segera beritahu dia aku sudah tidak betah, orang salah kenapa malah harus dipecat!"
***** _______________*****
Sesampainya Bintang di ruangan yang ditunjukkan temannya tadi, pandangan Bintang seketika teralihkan, sadar dimana ia menginjakkan kakinya sekarang, langkahnya terhenti setelah ia tahu jika ia memasuki ruangan yang kosong tanpa adanya seseorang yang dimaksudkan temannya barusan.
"Ini beneran ruangan yang dimaksud Sella tadi, tapi mana orang yang dimaksud? Apa dia sedang mengerjai ku?"gumam Bintang yang merasa bingung sendiri.
Baru semenit Bintang putuskan akan pergi dari ruangan ini dan berbalik arah, lagi-lagi langkahnya pun terhenti, bahkan pandangan matanya sekaligus kakinya pun seketika terdiam tak mampu untuk melanjutkan lagi langkahnya sesaat Bintang menyadari dengan adanya kehadiran seseorang yang tiba-tiba masuk keruangan ini tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
Dan seseorang itu yang tak lain ia adalah Bagas sendiri, berbalut setelan jas yang serba hitam dan hanya menggenakan kemeja dalam berwarna putih, membuat ia kelihatan sangat tampan. Akan tetapi bukan itu yang membuat Bintang terpukau akan ketampanan atau pun kehadirannya disini.
Akan tetapi karena tatapan tajam yang ia tunjukkan sekaligus langkahnya yang semakin mendekati Bintang lah yang membuat ia merasa cemas bercampur takut ketika menghadapinya.
"Kamu ngapain disini? Jadi restoran ini milikmu? Jika aku tau dimana aku memilih pekerjaan saat ini, lebih baik aku pergi dan urungkan niatku untuk tetap bekerja disini!"
Mengingat perbuatan yang dulunya dilakukan Bagas membaut lirikan Bintang akhirnya mengalihkan pandangannya dari Bagas.
"Kenapa kamu mengalihkan pandangan kamu dariku? Apa kamu sungguh-sungguh tidak inggin bercakap atau pun berbicara empat mata pada saudara kembar dari Suami kamu sendiri?"
"Saudara kembar? Aku rasa kamu tidaklah pantas untuk menyebutkan kata saudara kembar, Tristan jelaslah sangat berbeda dengan dirimu, dia memang kejam tapi kejamnya dia, dia masih ingat sama seseorang yang sudah menolongnya sedangkan anda?
__ADS_1
Apa setelah anda berhasil menguasai semuanya anda ingin memamerkan semuanya padaku? Ataukah mungkin dengan tujuan anda kesini anda ingin menertawakan diriku yang dimana kondisi-ku jatuh miskin seperti ini?"
"Terserah kamu ingin mengatakan apa aku tidak peduli dengan semua celotehan kamu, tujuanku datang kesini aku hanya ingin berkata jujur? Aku hanya ingin berkata jujur jika aku berencana ingin meminang kamu, aku akui ini kelihatannya sangatlah gila dimata kamu, tapi inilah yang terjadi setelah berpisah denganmu aku merasa hidupku jadi ada yang kurang sempurna jadi apa kamu bersedia mengabulkan permintaan yang aku minta ini?"
"Aku sekarang sadar jika kekayaan yang kamu dapatkan dengan cara licik akhirnya mampu menenggelamkan dan membuktikan siapa jati diri kamu sebenarnya? Aku sadar ternyata kamu tidak sebaik yang aku pikirkan selama ini.
Apa setelah kamu mendapatkan semuanya kamu berencana ingin merubah tampilan dan berlagak kaya seolah-olah wanita mana pun yang melihatnya akan tergoda? Tidak! Bagiku semua itu tidaklah berarti untukku cepatlah pergi!"
"Apa yang aku katakan sungguh-sungguh berasal dari dalam hatiku sendiri. Aku mengatakan ijin karena aku yakin dan sadar jika aku memang sangat tulus mencintai kamu?"
"Sudahlah ucapan Pria macam seperti dirimu sudahlah tidak berarti untukku permisi!"
Berniat pergi dari pandangannya, Bagas yang seketika menarik tangan Bintang keduanya tak sengaja berpapasan saling bertatapan satu sama lain setelah Bintang yang hampir terjatuh akibat tarikan tersebut.
Melihat tatapan yang ditunjukkan kepadanya membuat Bintang pun seketika bungkam, bahkan mata maupun bibir pun tidak mampu untuk bergerak. Dan akhirnya hampir 10 menit mereka bertatapan, akhirnya kesadaran mereka pun kembali.
Setelah tersadar Bintang yang tak tahan lagi, ia bergegas pergi dari pandangan Bagas tanpa ucapan yang keluar dari mulutnya.
"Aku tau kamu masih kecewa padaku tapi tenanglah tidak akan lama aku akan membantumu mengerti dan paham kenapa aku melakukan semua ini?"
"Kenapa? Kenapa se'berusaha apa aku berusaha menghindar darinya pertemuan ini selalu terjadi lagi kenapa!"
Langit yang tadinya cerah kini seketika menjadi menghitam, lantaran langit yang terlihat mendung dan hujan pun siap untuk membasahi alam semesta ini, rintik-rintik hujan pun mulai berjatuhan dan tidak membutuhkan waktu lebih lama, akhirnya air yang tadinya hanya setetes-tetes yang turun kini pun berubah menjadi 1000 lebih tetes dalam hanya waktu beberapa menit saja.
Dan Bintang yang sudah mengetahui jika dirinya sedang dikepung oleh hujan, tak terhalang niatnya untuk pergi meninggalkan tempat ini dan berteduh ditempat yang aman dan terhindari dari hujan, bahkan dia juga gak perduli apa yang terjadi dengan dirinya jika dia terus menerus memutuskan untuk hujan-hujanan seperti ini.
Dari raut wajah Bintang terlihat dia sudah sangat gemetaran dan menahan hawa dingin ini, seseorang pun datang dari belakangnya dengan mengatakan sesuatu yang akhirnya membuatnya memalingkan wajahnya kebelakang.
"Bintang apa yang kamu lakukan disini, kamu gak lihat sekarang lagi hujan deras bisa-bisa kamu akan sakit kalau hujan-hujanan seperti ini ayo pergi!"
Ajak seseorang itu yang tak lain adalah Bagas, sama halnya dengan apa yang dilakukan Bintang saat ini. Bagas juga hujan-hujanan tanpa memperdulikan dirinya sendiri.
"Kamu?Apa yang kamu lakukan disini. Dan kenapa kamu ikut hujan-hujanan seperti ini, pergilah!"perintah Bintang tapi tak dihiraukan oleh Bagas.
__ADS_1
"Jika kamu inggin mendengar dari jawabanku ini, kenapa kamu juga hujan-hujanan seperti ini. Ayo kita pergi sekarang!" ajak Bagas dengan menarik tangan Bintang, tapi beberapa kali Bintang menolaknya dengan keras.
"Dasar kamu itu keras kepala banget sih, baiklah jika ini yang kamu mau, jangan salahkan aku kalau aku akan pake cara kasar sekarang!"tegas Bagas lagi.
"Maksud kamu apa?" tanya Bintang dengan bingung.
Tanpa menunggu lagi, Bagas pun seketika langsung merangkul tubuh Bintang dari belakang. Dan bergegas membawanya pergi dan memasukkannya kedalam mobil, tidak inggin jika Bintang akan kabur Bagas pun lantas masuk lewat pintu mobil yang sama.
"Bagas apa yang kamu lakukan, turunin aku! Turunin aku! Kenapa kamu mengunciku didalam mobil kamu ini, turunin aku sekarang!"teriak Bintang tapi Bagas sama sekali tidak menggubrisnya.
"Terserah kamu mau berkata apa? Karena yang jelas aku gak akan pernah menurunkan kamu paham!" tegas Bagas balik.
Kenapa kamu keras kepala banget sih?"
"Bukan aku yang keras kepala, tapi kamu sendiri juga keras kepala, jadi jangan salahkan aku kalau aku pake cara paksa seperti ini."
"Dasar menyebalkan!"gumam Bintang yang langsung mengalihkan pandangannya dari Bagas lantaran masih terlihat kesal.
Baru aja Bagas melajukan laju mobilnya, tiba-tiba Bagas kembali menghentikannya.
"Kamu? Kamu kenapa berhenti?" tanya Bintang.
"Mana tangan kamu? Kamu itu sedang kedinginan jadi kamu butuh penghangat, pake ini, ini akan membuat tubuh kamu lebih hangat!"
Tawar Bagas yang memakaikan sebuah jaket untuk dia pakaikan ke Bintang.
"Terus kamu? Kamu sendiri kan juga kedinginan jadi aku gak mau kamu juga butuh jaket ini,"balas Bintang yang melepaskannya kembali.
"Aku tuh laki-laki, jadi untuk masalah kedinginan seperti ini aku bisa tahan lagi. Jadi sudah kamu jangan pernah membantah lagi cepat pakai jangan banyak membantah apa kamu mengerti!"
"Baiklah aku mengerti!"
Seketika pandangan mereka pun tidak bisa teralihkan satu sama lain. Setelah tak sengaja mereka sama -sama bertatapan, bahkan mata mereka tidak terlihat untuk menyempatkan diri mengedipkan matanya sesekali pun.
__ADS_1
BERSAMBUNG