ISTRI YANG TAK DIANGGAP

ISTRI YANG TAK DIANGGAP
135 " Buta "


__ADS_3

Tubuh yang seketika merosot kebawah dan membuatnya terduduk dilantai, mengingat apa yang barusan dikatakan oleh Dokter membuat Tristan tidak tahu harus berbuat apa.


Tak lama Andra yang seketika datang, dirinya lantas membantunya untuk berdiri lagi.


"Tuan? Apa yang tuan lakukan kenapa tuan malah bersimpuh disini mana Nyonya Bintang mana dia?"tanya Andra dengan pandangannya yang mengarah kesana kemari.


"Dia sudah buta! Dia sudah buta."


"Apa? Nyonya Bintang buta bagaimana itu bisa terjadi?"


"Akibat kecelakaan yang ia alami lah yang membuat dia menjadi buta seperti ini. Dan yang lebih parahnya lagi aku bodoh karena aku sama sekali tidak sadar jika Istriku mengidap kanker otak ganas, aku tidak becus jadi suami An! Aku tidak becus!"


"Tuan tidak bisa berfikiran seperti ini, semua ini sudah menjadi takdir jadi tuan tidak boleh berkata seperti ini, sekarang nyonya pasti butuh dukungan tuan jadi masuklah nyonya pasti sangat bahagia melihat tuan jadi masuklah!"


"Baiklah aku akan masuk sekarang,"ucapnya dengan mengusap air matanya.


Langkahnya yang tadinya berhenti kini ia pun mulai bangkit dan bergegas ia melangkahkan kakinya memasuki ruangan dimana Bintang yang terbaring. Melihat satu Suster yang masih memeriksa alat-alat Tristan tak menghiraukannya, ia hanya menatap Wanita malang yang kondisinya sudah tidak berdaya diatas tempat ia terbaring.


Terbaring dalam keadaan tidak berdaya dalam keadaan tidak sadarkan diri itulah yang dilakukannya saat ini, perlahan-lahan Tristan mulai menghampirinya, menggenggam dengan erat tangan sekaligus memberikan belaian pada pucuk rambut Wanita yang sangat dicintainya dirinya seketika langsung meneteskan air matanya.


Tristan! Yah, Wanita yang sangat dicintanya itu tertidur pulas di samping tempatnya, senyuman manis terlengkung indah di wajah Bintang yang terlihat sangatlah cantik, biar pun wajah cantiknya mulai tertutup akan wajah pucatnya.

__ADS_1


Tangan kanan Tristan itu mengelus pelan ujung rambutnya dan tidak mempercayai jika apa yang ia lakukan sangatlah nyata jika semua ini ia tidaklah bermimpi.


Dan untuk pertama kalinya ia mampu menyentuhnya biar hanya dalam sekejap.


Sekali lagi ia mengelus rambut Bintang, matanya melebar saat merasakan ada gerakan yang dilakukannya.


Bintang membuka pelan matanya saat sebuah pergerakan seakan menganggu tidurnya. Akan yang membuatnya terkejut ia terkejut lantaran sadar jika pandangannya sama sekali tidaklah jelas. Warna gelap gurita yang seketika memenuhi pikiran dan pandangannya membuat ia berteriak.


Beribu pertanyaan mulai keluar dari pikiran wanita ini, tangannya terus meraba wajahnya yang tidak terlihat jelas pandangnya sama sekali, air mata terus saja mengalir di kedua sudut pipinya, apa ia harus menangis, yah, tentu dia akan menangis.


"Ini kenapa pada gelap gurita kenapa aku tidak bisa melihat apa-apa kenapa ini, ada apa dengan mataku ada apa?"panik Bintang yang mulai melakukan pemberontakan.


"Anda yang sabar ini sudah menjadi takdir yang maha kuasa, anda dinyatakan buta setelah kornea mata anda terkontaminasi penyakit anda yang sudah menjalar kemana-mana anda yang sabar, ini sudah takdir bersabarlah!"ucap Suster yang berada disamping Bintang dan mencoba menenangkannya .


Tak tega Tristan yang melihat kehancuran Bintang, Tristan sigap langsung membekap tubuh Bintang, dengan cepat juga Bintang tidak sengaja mendorong tubuh Tristan hinga terjatuh, tangannya terus meraba kesemua benda yang berada disampingnya, isakan tangisan mulai terdengar begitu lirih di telinganya.


"Aku sudah buta! Aku sudah tidak berguna kenapa anda masih ada disini pergilah! Pergilah dari hadapanku aku ingin sendiri pergilah!"


Tak tahan dengan ucapan yang dilontarkannya. Pandangan suster yang sesekali ia melihat kearah Tristan yang hanya terdiam tanpa bersuara. Dan hanya mampu menitihkan air matanya, suster lantas memberikan satu tamparan untuk Bintang agar mampu untuk menyadarkan dirinya.


"Stop! Apa seperti ini cara anda menyelesaikan masalah? Apa seperti ini cara anda kalah melawan penyakit anda ini!"gertak Suster.

__ADS_1


Tristan yang diperintahkan Suster untuk terus mendekap tubuh Bintang walaupun wanita itu terus memberontak.


"Apa yang sudah kamu perjuangan tidak seharusnya kamu menyerah secepat ini sekarang. Kamu hanya kehilangan penglihatan kamu, nyawa dan umur manusia hanya Tuhan yang tau jadi bersabarlah! Bersabar dan ingin jika masih ada orang yang sangat menyayangi anda bersabarlah!"


"Diriku tidak seberuntung yang suster miliki. Aku tidak punya keluarga yang sangat mengharapkan akan perjuangan atau kehidupan-ku nanti? Aku hanyalah benalu yang tidak ada artinya dan hanya akan menjadikan penyakit aku tidak berguna! Aku tidak berguna!"


"Anda butuh ketenangan jadi maafkan aku jika aku harus memberikan obat penenang ini maafkan aku."


Segera menyuntikkan cairan pada infusnya, tak lama pandangan Bintang mulai terlihat sayup-sayup, kelihatan dari kelopak matanya pandangannya sudah mulai buram dan akhirnya hanya membutuhkan waktu, kelopak matanya itu mulai tertutup dan tidak sadarkan diri dari dekapan pelukan Tristan.


"Maafkan aku tuan! Maafkan aku juga aku harus menyuntikkan obat penenang itu maafkan aku!"ucap Suster dengan menundukkan kepalanya.


"Yang suster lakukan sudah benar, sekali lagi terima kasih atas bantuan suster karena membiarkan rencana saya tanpa diketahui Istri saya jika saya ada disini, sekali lagi terima kasih."


"Anda orang yang baik, dari tatapan anda terlihat anda sangat menyayanginya jadi aku harap mulai sekarang anda harus meluangkan waktu anda yang banyak untuk memenuhi waktu akan kepergian istri anda nanti bersabarlah!"


"Terima kasih sus, sekali lagi terima kasih atas bantuan suster."


"Sama-sama mari saya tingal dulu."


"Baik Sus."

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2