ISTRI YANG TAK DIANGGAP

ISTRI YANG TAK DIANGGAP
147 " Akankah Bintang akan menyusul Tristan "


__ADS_3

Berjalan dalam langkah yang pelan, ditambah lagi air mata yang terus mengalir dari kedua sudut matanya. Langkah Bintang seketika terhenti sesaat ia sampai disalah satu makam.


Terduduk bersimpuh bersebelahan dengan salah satu batu nisan bertuliskan "Tristan Antonio" Wanita yang memakai jilbab putih dengan jubah panjang putih itu terus-menerus meneteskan air matanya hinga tidak terhitung akan berapa jumplah buliran air matanya yang berhasil terjatuh membahasi kedua pipinya.


"Maafkan aku Tristan, maafkan aku karena aku tidak bisa setiap hari menjenguk mu disini. Ngomong-ngomong apa yang kamu lakukan disana apa kamu disana sudah bersanding dengan beberapa bidadari yang sangat cantik. Apa kamu sudah lupa dengan siapa aku, sampai-sampai kamu tidak pernah datang didalam mimpiku apa kamu sampai segitunya ingin melupakanku sampai-sampai kamu tega mengabaikan ku seperti ini.


Apa kamu tahu selama ini kamu itu laki-laki pengecut laki-laki pengecut yang bisanya hanya bisa membuatku menderita. Dulu kamu membuatku menderita karena kamu tidak pernah mencintaiku mau pun mau menganggapku sebagai Istrimu. Tapi apa yang kamu lakukan sekarang, giliran kamu sudah bisa mencintaiku kenapa kamu malah terlebih dulu pergi meninggalkanku apa kamu tahu seperti apa rasanya hidup dalam benang-benang penyesalan dan kekecewaan. Apa kamu tahu gimana rasanya kehilangan seseorang yang paling aku cintai kamu tidak pernah tahu gimana rasanya.


Kamu disana bisa tenang karena hidupmu sangatlah bahagia karena sudah didampingi beberapa bidadari yang mengawal mu tapi apa kamu tahu gimana rasanya perasaanku sekarang.


Tapi aku tidak masalah jika kamu tidak akan datang kedalam mimpiku karena mungkin secepatnya aku juga akan menyusulmu.


"Kak Bintang apa yang kakak bicarakan kakak tidak baik berkata seperti itu?"timpal seseorang yang tak lain adalah Andara yang tiba-tiba menyahut akan ucapannya.


"Iya Nyonya, nyonya tidak baik berkata seperti itu,"timpal Andra yang juga berada dibelakangnya.

__ADS_1


"Kalian kenapa ada disini? Apa kalian juga membuntuti-ku?"


"Itu tidaklah penting kak, karena yang terpenting sekarang aku tidak mau kakak ngomong kata-kata seperti itu lagi kak harus yakin kakak pasti bisa melewati semua ini, makan pasti bisa?"


"Tapi itu memang kenyataannya. Mungkin sebentar lagi aku juga akan menyusul kakak kamu Andara. Karena kamu juga tau kan kondisi-ku tambah semakin parah seperti apa?"


" Oh iya Andara..apa kamu mau mengantarku ke masjid yang dibangun oleh kakak kamu, kan sekarang masjid itu mulai awal pembukaannya, aku juga ingin menghadirinya,"ucap Bintang.


"Tapi Kak, kondisi kakak kan sekarang malah semakin parah jika kondisi kakak mengalami drop dimana, jadi lebih baik kakak di Rumah aja ya sama Bibik.


"Baiklah kita akan mengantar kak Bintang sekarang.


Setelah perjalanan yang menempuh waktu hampir satu jam, mereka akhirnya telah sampai masjid yang sangat luas dengan dikelilingi halaman yang sangat megah.


Lantaran kondisi Bintang yang sudah semakin parah dan tidak sanggup untuk berdiri dan hanya mampu duduk di kursi roda, ia hanya bisa menjalankan sholat Dhuhur dengan keadaan terduduk.

__ADS_1


Mukena yang sudah ia pakai dengan cantik dan membuat auranya terpancar keluar, Bintang kemudian menjalankan sholat dhuhur seperti biasanya.


Setelah menjalankan sholat ia akhirnya berkumpul bersama dengan yang lainnya untuk melakukan potong pita atas jadinya Masjid ini.


" Kak Bintang, mendingan sekarang kakak aja yang maju dan memotong pitanya ya?"


"Tapi kenapa harus aku, kan ada kamu juga disini jadi mendingan kamu aja yang memotong pita ini. Karena kamulah lah orang yang cocok memimpin acara ini."


"Kak Bintang kita akan sangat senang jika kak Bintang lah orang yang memimpin acara ini. Dan kita tidak akan marah jadi silahkan majulah kak orang-orang sudah menunggunya.


"Baiklah kalau itu permintaan kalian,"ucap Bintang yang selangkah dirinya akan menghadap pada pita yang akan dia putuskannya.


Belum juga Bintang berkata sepatah kata lagi, tubuhnya tiba-tiba menjadi gemeteran, keringatnya yang tiba-tiba keluar , bahkan wajahnya yang tadinya baik-baik saja berubah menjadi sangatlah pucat setelah dia mencoba menahan rasa sakit yang sedari tadi ia tahan, pandangan mata juga mulai rabun, rasanya sudah tidak sanggup untuk mengucapkan sepatah kata pun lagi, melihat Bintang yang sedari tadi terdiam dan orang-orang yang melihatnya tambah semakin panik.


Lantaran tak mampu menahan dirinya, yang akhirnya membuat dirinya pun terjatuh dipangkuan Adik iparnya. Melihat hal ini tidak ada kata lain yang bisa diucapkan oleh Andara terkecuali dia hanya bisa menangis.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2