
Berdiri didepan jendela raut wajah Bintang yang tadinya terlihat murung memikirkan banyak masalah yang sedang ia hadapi seketika raut wajah berubah setelah ia merasakan jika ada sentuhan kedua lengan kokoh yang melingkari tubuhnya dari belakang. Dekapannya sangat erat. Kemudian dengan perlahan ia memutar tubuh Bintang, menatapnya sejenak, dan kembali mendekapnya ke dalam pelukannya.
Menyadari dan mengingat aroma parfum laki-laki tersebut ia tahu siapa seseorang yang berani memeluknya.
"Tristan apa ini kamu?" tanyanya yang kemudian Tristan pun menjawab.
"Ternyata biar pun selama ini kamu terlihat benci dan marah bahkan tidak sudi untuk menatap wajahku. Nyatanya kamu mengenali aroma parfum kesukaanku," ledeknya yang kemudian membuat Bintang bisa tersenyum.
"Aku bahagia Bintang. Aku sangat bahagia akhirnya aku bisa melihatmu tersenyum seperti ini. Tuhan apa kamu benar-benar tega kepada hamba dan tega memisahkan kami berdua dengan cara seperti ini. Hamba akui hamba masih punya banyak dosa bahkan sangat sulit untuk dimaafkan kan. Tapi hamba mohon sebelum dia pergi meninggalkan hamba, hamba mohon tolong berilah dia kesempatan yang kedua kalinya agar hamba bisa menebus semua kesalahan hamba padanya hamba mohon.
Batin yang terus berkata tanpa henti. Menatap wajahnya secara diam-diam hinga jatuhlah air mata yang sedari tadi telah ia tahan. Dan tanpa dasar buliran air mata itu tepat mengenai telapak tangan Bintang yang membuatnya tersadar. Berlalu ia meraba-raba wajah Tristan dan menghapus air mata tersebut.
"Apa kamu sedang menangis? Apa kamu sedang menangis melihat kondisiku yang menyedihkan ini. Aku tahu kenyataan ini sangatlah pahit tapi sadarlah biar pun kamu menangis itu yang ada akan tambah membuatmu terluka. Jadi usaplah air mata kamu, hidupku sudah tidak lama lagi bahkan kapan dan dimana aja Tuhan bisa mengambil nyawaku dan sebelum semua itu terjadi aku ingin mulai sekarang hari-hari ku dipenuhi dengan kebahagiaan jadi bisakah kamu kabulkan permintaan aku ini. Bisakah kamu membantuku untuk janganlah menangis karena aku tidak mau diantara kita ada yang menangis lagi jadi kamu bersedia kan?"
__ADS_1
"Iya aku bersedia mengabulkan permintaan kamu. Dan sebelum itu aku ada kejutan untukmu. Dan aku ingin kamu ikut aku sekarang,"ajaknya yang kemudian Tristan membopong tubuh Bintang.
"Kamu mau bawa aku kemana?
"Sudahlah nanti kamu juga akan tahu," balasnya dengan tersenyum.
"Kemana kamu akan membawaku pergi, kamu gak lagi mencoba mengerjai ku kan?" tanyanya yang kemudian Tristan pun menurunkannya.
"Iya, aku memang bisa merasakan udara disini, tapi sayangnya aku tidak bisa melihat seperti apa pemandangan indah yang kamu maksud. Dan aku tidak percaya kalau tempat ini seindah yang kamu katakan tadi, bagiku tempat ini sangatlah biasa sama halnya seperti tempat yang lainnya. Jadi sudahlah ayo kita pergi sekarang aku tidak betah disini jadi ayo kita pergi," ajaknya yang berniat akan pergi tapi Tristan melarangnya.
"Apa kamu berkata seperti itu karena kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan barusan. Apa kamu sangatlah sulit untuk bisa mempercayaiku, tapi sudahlah itu tidaklah penting. Karena aku tahu butuh waktu untuk membuatmu percaya karena aku juga tahu kamu belum mencintaiku sepenuhnya jika nanti perasaan kamu untukku sudahlah ada kamu juga akan percaya jika tempat ini memang sangatlah indah.
Dan satu hal lagi disini dipenuhi dengan ribuan bunga mawar putih mau pun mawar merah dan mungkin sekarang nampaknya biasa lantaran bunga-bunga disini belum bermekaran secara serentak dan nanti tanggal 14 yang dimana jika dihitung dari hari sekarang tingal menunggu dua hari lagi untuk melihat pemandangan indah itu jadi pertanyaan ku apa kamu bersedia menemaniku untuk datang lagi kesini?"
__ADS_1
"Kenapa kamu sangatlah bodoh Tristan? Kamu kan sudah lihat kalau aku ini buta dan apa gunanya aku harus datang lagi ketempat ini jika pada kenyataannya aku tidak bisa melihat semua pemandangan ini. Dan mungkin jika aku akan hadir dan melihat semuanya mungkin itu hanyalah mimpi, mimpi yang tidak akan pernah terjadi.
"Terus jika pada kenyataannya mimpi itu beneran bakal terjadi. Dan kamu bisa mendapatkan pendonor kornea mata apa kamu beneran akan hadir ditempat ini untuk melihat semua ini?
"Jika aku beneran mendapatkan pendonor dan bisa melihat semuanya aku sendiri yang akan datang kesini. Tapi jika nanti kamu mengajakku untuk datang pada tanggal 14 maaf aku tidak bisa.
"Baiklah aku tidak akan memaksamu. Dan aku yakin cepat atau lambat ucapan mu bakalan terjadi dan aku sangat yakin jika suatu saat nanti kamu pasti bakal mendapatkan pendonor aku yakin itu,"
"Kenapa kamu sangat yakin dengan ucapan mu itu? apa kamu seorang peramal?" mendengar ucapan Bintang, Tristan hanya tersenyum.
"Aku bisa berkata seperti itu karena mungkin akulah orang yang akan mendonorkan kornea mataku untuk kamu. Dan mungkin nanti kita akan terbalik nanti, kamu bisa memandang semua pemandangan indah ini sedangkan aku...aku mungkin hanya akan mampu menghirup udara harum dari bunga ini,"batinnya dengan pandangannya yang terus saja memandang kearah Bintang.
BERSAMBUNG.
__ADS_1