
Segerombolan laki-laki dengan ekspresi khas masing-masing, mulai mencari keberadaan seseorang yang tak lain ia adalah Bintang yang tertangkap kamera CCTV kabur lewat pintu belakang . Mereka semua masuk kedalam hutan itu tanpa rasa takut sedikitpun. Karena mereka sudah terbiasa, bahkan malam hari pun sudah biasa.
"Apa sebaiknya kita berpencar saja kalau seperti ini terus, kita tidak akan bisa menemukan keberadaan wanita itu, bahkan kita bisa kehilangan jejaknya!" ujar Rico yang mendapat anggukan kepala dari Tristan.
"Kamu benar! Kita memang harus berpencar!" balas Tristan mengiyakan ucapan sang anak buah.
Rico hanya mengangguk dan melihat Tristan yang mulai berjalan menjauh untuk mengarahkan para bodyguard-nya untuk berpencar.
"Kalian? Dengar ini baik-baik untuk lebih memudah pencarian sebaiknya kita berpencar!" ucap Tristan dengan suara lantang.
"Baik tuan!" balas para bodyguard itu dengan serempak.
"MULAI!"
__ADS_1
Semuanya mulai berpencar. Sedangkan Tristan dan Rico masih bersama, mereka berdua tidak akan berpisah, karena yang akan berpencar adalah para bodyguard-nya saja.
Bintang masih saja bersandar di pohon yang menjulang tinggi itu. Kepalanya sangat sakit bila digerakkan, ia tak sanggup menahan rasa sakit itu. Dan memutuskan untuk berdiam diri, Jika boleh memohon, ia akan memohon jika Tuhan cepat-cepat mengambil nyawanya, agar dia tidak lama merasakan penderitaan yang amat kejam ini.
Angin sepoi-sepoi menambah suasana dingin di tengah hutan itu. Hingga rasa kantuk mulai menyerang mata sayu milik Bintang. Baru saja hendak memejamkan mata, tapi suara teriakan seseorang itu membuat kedua mata bulat gadis itu, seakan terbuka dengan paksa.
"Bintang!"
Bulu kuduknya seketika berdiri, mendengar suara itu itu tubuhnya seketika bangkit membawa semangat akan dirinya untuk pergi lebih jauh lagi. Bintang yang dengan tangan yang bergetar itu mulai meremas tanah di bawahnya untuk meluapkan rasa takutnya. Tak peduli tangannya akan kotor karena tanah itu, yang terpenting ia dapat melampiaskan rasa ketakutannya.
Bintang kalang kabut, ingin bangkit tapi kakinya tak mampu untuk digerakkan. Dengan sekuat tenaga, tangannya berpagutan di batang pohon itu. Bintang mulai bangkit meski harus menahan rasa sakit yang semakin menjalar di tubuhnya.
"Aku harus bisa kabur! Aku nggak boleh ketangkap lagi sama dia! Aku harus pergi!"batinnya dan mulai berjalan, meski masih dalam keadaan tertatih-tatih, memegang kepalanya.
__ADS_1
Bintang memegang kepalanya, dan kembali melanjutkan jalannya. Suara keras itu juga membuat seorang gadis ketakutan. Meredam rasa sakit agar bisa menjauh dari orang itu.
"Ya Allah sakit banget!" lirihnya terisak.
"Bintang!" teriakan Tristan kembali terdengar.
Bintang kembali berusaha mempercepat langkah kakinya, bahkan ia sudah berlari kecil.
"Aku harus bisa lari,"ucapnya dengan suara rintihan.
"Akh!" teriak Bintang ketika kakinya tersandung akar pohon.
Saking paniknya, ia tidak memperhatikan ada akar pohon di depannya. Alhasil kakinya tersangkut dan menyebabkan ia terjatuh. Dan satu lagi, ia berteriak, itu membuatnya semakin panik sendiri. Gadis itu membekap mulutnya dan mencoba untuk bangun kembali namun gagal.
__ADS_1
"Awss!" ringisnya, ketika lututnya kembali mengeluarkan darah merah nan kental.
BERSAMBUNG.