
Sandra yang melihat Mama mertuanya terlihat tidak bergerak mau pun detak jantungnya sudah tidak berdetak. Dirinya merasa lega akhirnya apa yang ia rencanakan masih akan berjalan dan tidak ada seorang pun yang akan membongkar kejahatannya.
Tersungkur kelantai dengan berlumuran banyak darah, kedua matanya yang terpejam tidak menunjukkan akan pergerakan. Sandra kemudian melangkahkan kakinya dan mengecek denyut nadinya.
"Mama sudah meninggal maka itu artinya rencana-ku masih akan aman, yang harus aku pikirkan sekarang gimana cara agar diriku tidak sampai ketahuan jika aku lah orang yang sudah membunuh Mama dengan menusuknya mengunakan gunting ini? Tapi cara apa yang harus aku lakukan untuk membuat rencana lain?"
Pandangannya yang mengarah kesana kemari untuk mencari sesuatu. Tak lama pandangan Sandra teralihkan pada ponsel Mamanya yang sudah berada disamping Mamanya, niatnya yang hampir ingin mengambilnya tapi dengan langsung ia menjauh setelah sadar jika tindakannya akan mampu membuat dirinya masuk kedalam penjara lantaran tanda sidik jarinya yang akan tertempel pada handphone yang akan ia ambil.
"Astaga Sandra kamu itu bodoh banget sih apa kamu sadar akibat kecerobohan kamu? Kamu hampir saja memberikan bukti ke-polisi akan kasus kejahatan kamu sendiri sadar gak sih pakai dong ot4k kamu ini?"
Mengambil kresek bekas lalu dengan langsung ia mengambil ponsel itu. Memegang tangan Mamanya agar dirinya menempelkan sidik jarinya tepat pada kode ponsel Mamanya agar bisa membuka ponsel yang terkunci.
Rencananya berhasil setelah ia menempelkan sidik jari itu tepat di kode sidik jari ponsel yang tertera tersebut. Wajah licik sekaligus sinisnya seketika keluar tau rencana apa yang ia rencanakan berhasil sesuai rencana.
Mengetik pesan pada nomor WhatsApp milik Tristan dengan kata " TRISTAN TOLONG MAMA ... TOLONG MAMA ... BINTANG BERENCANA INGIN MEMBUNUH MAMA TOLONG MAMA ...
Kata itulah yang ia kirimkan tepat pada nomor WhatsApp milik Tristan. Tak lupa sebagai pendukung ia juga menyalin pesan itu lalu ia kirimkan pada nomornya sendiri.
"Ide yang sangat bagus bukan? Dengan bukti pesan itu aku rasa Tristan akan percaya jika orang yang telah membunuh Mamanya adalah Bintang! Dan tepat terjadinya kasus kematian Mamanya aku rasa dia akan berbalik sangat membencinya? Bahkan aku tidak sabar melihat seperti apa tanggapan Tristan ketika dia tau Mamanya meningal sedangkan semua bukti mengarah kearah Bintang gimana ya reaksinya nanti? Sudahlah aku harus pergi dari paviliun ini sebelum ada orang yang melihatku!"ucapnya kemudian ia pun keluar.
"Andra ada apa kenapa wajah kamu mengerut kamu punya masalah?"tanya Tristan ketika ia sadar Andra masuk kedalam ruangannya tanpa mengetuk.
"Tuan. Ada hal yang sangat penting yang ingin saya katakan pada tuan ini tidak bisa jika aku ungkapkan ditelepon!"
"Hal penting apa?"tanya Tristan.
__ADS_1
"Nyonya besar! Nyonya besar Tuan."
"Nyonya besar? Mama? Apa yang terjadi dengan Mama kenapa dengan dia? Ada apa dengan Mama Andra ada apa?"
"Akan lebih baik Tuan cepat datanglah ke-rumah sakit disana Tuan akan menerima jawabannya," perintah Andra.
"Andra cepat-lah katakan padaku apa yang terjadi padanya apa kamu jangan bikin aku cemas ada apa?"
"Maaf Tuan saya tidak bisa menjelaskannya sekarang. Akan lebih baik kita sekarang cepat pergi ke-rumah sakit disana Tuan akan tahu apa maksud saya mendatangi Tuan saat ini."
Tanpa se'ucap kata yang Andra ucapkan. Tristan segera pergi sedangkan Andra hanya mengikutinya.
Setibanya ia di ruangan yang sudah dipenuhi dengan adanya beberapa orang yang sudah berkerumun menyaksikan sesuatu. Melihat Sandra yang menangis histeris, disampingnya juga ada Bintang yang terlihat matanya lebam membuatnya bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
Dengan berbarengan suara tangisan sesegukan yang tambah semakin membuat suasana tambah semakin haru pilu.
Tak lama Tristan segera menyelinap langsung kedalam ruangan itu. Sesampainya ia mendapati sebuah pemandangan yang menurutnya semua ini hanyalah mimpi, mimpi yang tidak mungkin terjadi.
Melihat salah seseorang yang telah berbaring lemas diatas brangkar tanpa senyuman atau pun sahutan yang diberikannya. Sedangkan Tristan yang mulai menghampirinya langkahnya mulai melemah bahkan serasa ia tidak kuat untuk menahan langkah kakinya sendiri
Perlahan-lahan Tristan ia pun menghampiri seseorang itu yang tak lain adalah Mamanya sendiri.
Masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, dirinya seketika langsung bertanya pada salah satu Dokter yang ada disampingnya.
"Katakan ada apa dengan Mama Dok? Kenapa dengan dia? Kenapa Mama wajahnya terlihat pucat seperti ini ada apa?"
__ADS_1
"Tuan yang sabar. Mama anda dinyatakan meninggal dunia tuan yang sabar,"ucapnya dengan menepuk pundaknya.
Air matanya mulai pecah. Bagaikan petir yang menyambar disiang bolong dirinya tak percaya dengan pernyataan apa yang barusan dikatakan seseorang dihadapannya.
Melihat seseorang yang sangat ia sayangi yang hanya terbujur kaku tanpa adanya nafas yang terlihat membuatnya melemah seakan-akan tenaga yang ingin menopangnya.
"Dokter cepat katakan padaku, Mama tidak benar-benar meninggal kan? Dia hanya lagi tertidur kan?"tanya Tristan nampak tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Anda harus tabah dia ... Dia telah pergi ninggalin kita semua. Akibat luka yang sangat parah akibat tusukan itu membuatnya kehabisan darah . Dan itulah yang membuatnya tidak bisa diselamatkan."
"Gak, Dokter pasti salah! Gak mungkin! Mama saya pasti masih hidup!" teriak Tristan ia pun menggoyang-goyangkan tubuh Mamanya, berharap ia akan bangun, akan tetapi semua itu sia-sia.
"Mah! Bangun,bangun, Mama bangun!" teriak Tristan dengan memeluk tubuh Mamanya yang sudah tak bernyawa.
"Mama!" teriak Tristan lebih keras. Dengan kepala yang mendongak ke atas, air matanya mengalir begitu deras.
"Tristan kamu yang sabar Mama akan sedih jika melihatmu seperti ini kamu yang sabar!"ucap Bintang mendapatkan dorongan dari Tristan.
"Bagaimana bisa aku sabar! Baru tadi pagi aku memeluknya sebelum berangkat? Bahkan aku juga sempat mengecup keningnya dalam keadaan sehat dan sekarang Mama tiba-tiba meninggal apa kamu tidak mikir?"tegasnya.
Kedua suster yang melihat itupun langsung menarik lengan Tristan, agar ia menjauh dari jenazah Mamanya. Karena jenazahnya akan di tutup dengan selimut putih.
"Lepasin! lepasin aku!" ucap Tristan terus berontak. Namun karena Dokter tadi juga ikut menahan lengannya, alhasil ia tak bisa bergerak.
SEMBARI MENUNGGU LANJUTAN DARI CERITA BINTANG DAN TRISTAN. MAMPIR DULU DI- KARYA PUNYA KAK LADY MERMAD, DENGAN JUDUL "One Night Stand In Dubai DIJAMIN CERITANYA BAKAL NAGIH DAN SANGAT COCOK UNTUK WAKTU LUANG KALIAN TERIMA KASIH 🥰🥰🥰
__ADS_1
BERSAMBUNG.