
Memalingkan pandangannya dari hadapan Erlangga, Tristan akhirnya berniat akan pergi tanpa memberikan pukulan lagi padanya.
Sedangkan Richard yang hanya diam dan menundukkan kepalanya, kini kakinya seketika melemah bahkan ia tidak mampu lagi untuk merangkul dirinya sendiri.
"Aku sadar apa yang aku lakukan memang sangatlah jahat. Dan kamu? Kamu masih punya satu tugas lagi Tristan, kamu masih punya satu tugas untuk menyelamatkan seseorang.
"Bintang ada disalah satu gudang kosong yang lokasinya ada dijalan permata. Aku sengaja menculiknya karena aku berharap dia akan jadi milikku setelah aku memberikan ancaman padanya, jadi cepat selamatkan dia!"
Langkah Erlangga yang mulai berbalik dari arah berlawanan, Tristan yang sudah menunggu akan rencananya sedari tadi, ia kemudian mengeluarkan pistol yang sedari tadi ia sembunyikan dari dalam pakaiannya dan dengan tepat, ia melayangkan dua tembakannya tepat mengenai kedua kaki mulus Erlangga. Dirinya yang sama sekali tak percaya setelah terkena tembakan, tubuhnya seketika tersungkur bersamaan dengan rintihan sakit akibat tembakan yang barusan ia alami barusan.
"Kamu lupa aku punya beberapa ekpresi yang mampu menjatuhkan lawan, aku memang tidak mampu untuk membunuh-mu dan tembakan itu? Tembakan itu sangat tetap untuk kamu dapatkan akibat apa yang sudah kamu lakukan selama ini!"
"Kamu berani menipuku Tristan?"tegas Erlangga dengan rintihan sakitnya.
"Kamu masih bertanya kenapa aku menipumu? Terus kamu? Bukankah selama ini kamu berpura-pura menjadi Richard kamu anggap bukan sebagai penipuan?"
__ADS_1
Terdengar suara mobil polisi yang perlahan-lahan semakin mendekat pada titik dimana Tristan berdiri saat ini, dari arah barat, satu mobil Polisi terlihat mulai mengepung dimana Erlangga terlihat tidak berdaya akan kondisinya yang bersimbah banyak darah.
"Tangkap dia Pak! Dia buronan bernama Erlangga yang sudah beberapa bulan berkeliaran, aku punya banyak bukti untuk membuktikan jika benar dialah Erlangga yang selama ini kalian cari!"timpal Tristan.
"Baik tuan sekali lagi terima kasih atas bantuan anda karena bersedia menangkap buronan ini dengan tangan anda sendiri,ayo bangun!"tegas polisi yang langsung menarik Erlangga agar terbangun dari tempat ia bersimpuh.
"Kamu akan sangat menyesal Tristan! Kamu akan sangat menyesal!"
"Di-dunia semua orang memang sudah pasti akan mengalami penyesalan terberat. Dan kamu? Kamu duluan yang memulainya jadi jangan salahkan aku kalau aku pakai cara licik untuk menangkap kamu. Dan sekali lagi terima kasih atas bantuan anda memberikan lokasi Bintang berada terima kasih!"
Segera pergi dari pandangan semuanya, Tristan mulai menjalankan kembali laju kendaraannya.
SATU JAM KEMUDIAN
Ketika Bintang terus berteriak, kawanan penjahat yang sudah tidak sabar lagi bergegas mereka datang dan menyumpal mulut sekaligus, mempererat ikatan tangan dan kakinya agar Bintang tidak berhasil meloloskan diri dari mereka.
__ADS_1
Selain itu salah satu dari mereka juga menarik rambut Bintang dan menampar wajah manis milik Bintang, hingga mengeluarkan darah segar dari pucuk bibirnya.
"Jika kamu tidak ingin mati dengan mengenaskan ditempat ini jadi diam lah apa kamu mengerti!" tegas salah satu penjahat itu dengan mencengkram dagu Bintang dengan kasar.
"Tidak. Sampai kapanpun aku tidak akan diam, orang-orang seperti kalian harus secepatnya dilenyapkan dari muka bumi ini. Dan aku pastikan sebelum kalian melenyapkan aku mau pun Tristan ditempat ini terlebih dulu kalian sendirilah yang akan mendekam didalam jeruji besi apa kalian mengerti!"gertak balik Bintang.
Melihat Bintang yang tidak takut akan ancaman yang dilontarkan penjahat itu, Ia pun kembali mendapat satu tamparan sampai sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
"Dasar rupanya kamu tidak ada perasaan takut pada kami. Apa kamu ingin mati sekarang juga. Ataukah kamu ingin kami buat kamu tersiksa dengan mengorbankan kesucian mu pada kami bertiga dan membiarkan kami menikmati tubuhmu ini," ancam salah satu penjahat dengan pandangannya yang menatapnya dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Kayaknya dia memang sengaja ingin memancing kesabaran kita. Dan apa kamu tidak takut dengan senjata ini? Apa kamu tidak takut jika isi dari senjata ini akan menembus kedalam perut mau pun kepalamu apa kamu tidak takut dengan semua itu?" ancam salah satu penjahat yang lainnya.
Penjahat itu lagi dan lagi kembali menampar Bintang dan secara sengaja akibat tamparan yang terlalu keras membuat wajah Bintang tak sengaja terbentur disalah satu benda keras yang seketika membuat mata Bintang seketika menjadi rabun akan bayang-bayang hitam.
"Mataku ... Apa yang terjadi dengan mataku, kenapa mataku jadi rabun seperti ini?" batinnya yang terlihat panik sekaligus dipenuhi rasa kecemasannya. Tak lama kesabarannya yang mulai menghilang, dirinya pun jatuh tersungkur tepat di-kursi yang didudukinya.
__ADS_1
"Hey kamu? Kenapa kamu diam saja apa kamu tidak dengar perkataan kita. Apa kamu sudah tuli mau membohongi kita dengan cara pura-pura pingsan?" gertaknya yang kemudian salah satu dari mereka menodongkan senjata kearah Bintang.
BERSAMBUNG.