
Memenuhi syarat untuk mengantarkan Bintang pada salah satu makam dari pendonor yang bersedia mendonorkan kornea mata untuknya. Bintang yang tak menyadari sama sekali jika Tristan yang tak lain adalah Suaminya sendirilah yang mendonorkan kornea matanya itu.
Dirinya, Andara dan juga Andra yang sudah berada didalam mobil menuju ketempat yang ingin mereka tuju yaitu makam, tak terdengar akan suara Andra yang terdengar membahas akan si pendonor tersebut. Dan tidak membutuhkan waktu lama, Andra yang terus berjalan, sedangkan Bintang yang hanya mengikuti langkahnya.
Merasa jika perasannya tiba-tiba tidak enak. Bintang tetap aja mengikuti langkah Andra yang terus saja berjalan tanpa memberikan kepastian yang pasti.
Selama beberapa langkah Bintang mengikutinya akhirnya tak lama kemudian mereka pun telah sampai ditempat yang akan mereka tuju.
Berhenti disamping makam yang terlihat masih baru. Pandangan Bintang terbuka setelah ia melihat dengan jelas jika ada batu nisan yang bertulisan nama Tristan Antonio yang telah tertulis pada batu tersebut.
Seribu pertanyaan ingin sekali ia tanyakan akan tetapi mulutnya serasa terkunci. Bahkan ia tidak mempercayai apa yang sedang ia lihat saat ini. Berharap ini semua adalah mimpi tapi nyatanya ini beneran terjadi.
"Ini apa maksudnya kenapa di batu nisan ini ada nama Tristan yang terpampang disini? Apa nama pendonor itu sama percis seperti nama Tristan? Tapi nama Antonio! Andra kamu gak lagi sedang bergurau kan, aku tahu semua ini pasti prank kan? Aku tahu semua ini hanyalah akal-akalan Tristan untuk mengerjai ku jadi cepat katakan padaku dimana dia sekarang aku ingin marah karena semua ini sangatlah tidak lucu dimana dia?"
"Andra kenapa kamu diam aja ayo cepat katakan padaku apa maksud dari semua ini. Apa Tristan ada disini dimana dia sekarang?"
"Percuma Kak Bintang bersikeras memaksa Andra untuk berkata dimana Kak Tristan. Karena pada kenyataannya apa yang ia katakan memanglah benar. Kak Tristan dia...dia beneran telah pergi meninggalkan kita. Bahkan kornea mata yang tertanam pada kedua mata kak Bintang, kornea itu adakah kornea mata dari kak Tristan sendiri dia..dia sudah meningal,"timpal Andara dengan air matanya yang mulai terjatuh.
"Gak aku tidak percaya. Aku tahu Andara. Aku tahu kamu sangat membenciku tapi bukan begini caranya kamu membalas semua ini bukan begini caranya kamu membalas dengan berkata bohong seperti ini, tidak aku tidak akan pernah percaya!"
"Baiklah jika Kak Bintang masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Dan masih tidak percaya kalau kak Tristan telah pergi tapi setidaknya Kak Bintang bisa merasakan akan kalau kornea mata ini adalah Kornea matanya Kak Tristan?"
__ADS_1
"Tidak itu tidak mungkin, Tristan dia tidak mungkin meninggal itu tidak mungkin?"
"Kak Tristan meninggal bukan karena adanya penyakit yang dia derita, kak Tristan meninggal karena dia berusaha menyelematkan nyawa Kak Bintang disaat Rafa berniat ingin membunuh Kakak. Dan ucapan yang pernah kak Bintang tanyakan padaku mengenai kejadian diruang rawat 19, kejadian itulah yang menewaskan kak Tristan jadi aku mohon kakak harus percaya dan bersabar mengikhlaskan kepergian kak Tristan, kakak harus pasrah dan menerima kepergiannya?"
"Tidak, ini tidak mungkin, ini tidak mungkin terjadi."
Meratapi tulisan nama yang tertera pada batu nisan dengan nama Tristan Antonio, hati Bintang seketika hancur berkeping-keping bahkan ia tidak sanggup lagi untuk menopang tubuhnya sendiri.
Air matanya mengalir dengan sangat deras sampai-sampai ia tidak sanggup untuk mengatakan sepatah kata pun lagi. Mulut yang seketika terkunci ia hanya mampu memegang batu nisan bertuliskan nama suaminya dengan penyesalan dan kecewakan terdalamnya.
Menyesali semuanya tapi sama halnya seperti nasi yang sudah menjadi bubur, berusaha apa ia berusaha untuk mengembalikan semuanya seperti sedia kala itu pun percuma, lantaran takdir buruk sudah menimpanya. Dan takdir lain sudah ia derita. Dan yang tersisa hanyalah kenangan, kenangan yang tidak akan pernah terlupakan.
Hari telah berlalu dengan sangat cepat, baru berapa hari Bintang mengetahui akan kematian yang dialami Tristan Suami yang selama ini tidak pernah ia harapkan untuk bisa memaafkannya. Tapi kejadian yang terjadi menimpanya telah menyadarkan akan isi hatinya yang sesungguhnya, harus dengan lapang dada Bintang harus berpasrah jika apa yang terjadi memanglah sungguhan bukan adanya bunga tidur yang biasa setiap malam mengganggunya.
Tempat ini tempat ini adalah tempat dimana dua hari yang lalu kamu pernah mengatakan jika tempat ini adalah tempat yang paling indah dan paling favorit buat kamu.
Dan aku juga masih ingat dimana aku tidak percaya jika tempat ini memang beneran sangatlah indah, tapi kenapa disaat semua bunga pada bermekaran dengan sangat indah disini hatiku rasanya sangatlah sunyi.
Bahkan melihat bunga-bunga ini kesedihanku masih belum bisa terobati sepenuhnya.
Tristan apa disana kamu juga berfikir sama dengan apa yang aku pikirkan saat ini. Apa disana kamu juga sangat merindukanku sama halnya seperti diriku yang sudah sangat merindukan akan kehadiranmu.
__ADS_1
Sekarang aku sadar hidup di dunia ini hanya sandiwara belaka. Sandiwara yang berpura-pura jika kita terlihat bahagia dan pura-pura tersenyum padahal hati kita membiru.
Dan ternyata perasaan kecewa yang aku alami waktu dulu tidak sebanding dengan perasaan yang aku rasakan selama ini, jika aku aku sempat beranggapan jika kamu adalah laki-laki kejam yang mungkin tidak akan pernah bisa berubah menjadi baik dan penyayang, nyatanya berbeda dari dugaan ku kamu adalah laki-laki yang sangat baik.
Memang pada dasarnya penyesalan akan datang dari akhir-akhir dan itulah yang aku rasakan selama ini, biar pun kita sudah tidak bisa bersama aku yakin di surga nanti kita pasti bisa berkumpul bersama.
Dan penyesalan terbesarku disaat semua sifat baiknya telah terbukti, nyatanya aku belum bisa memperlakukannya baik layaknya seorang Suami, bahkan disaat akhir-akhir hidupnya aku sempat membuatnya kecewa lantaran aku selalu menyalahkannya dan tidak memberikan dia kesempatan kedua untuk menjelaskan semua itu.
Aku sadar kadang memang penyesalan selalu datang diakhir. Dulu aku sangat membencimu tapi sekarang rasa benci itu telah berubah menjadi cinta biar pun semuanya sudah terlambat aku akan menyimpan rasa cinta ini hinga Tuhan menjemput ajal ku nanti.
Memandang langit yang sangat cerah dengan warna biru muda yang menyala terang, ditambah lagi dengan adanya burung-burung yang berkicau dengan sangat merdu. Bintang secara pelan ia memejamkan kedua matanya untuk menenangkan diri sekaligus menghirup udara segar ditempat ini.
Dan kemudian setelah ia kembali menundukkan kepalanya setetes cairan kental berwarna merah keluar dari hidungnya. Bintang menopangnya mengunakan kedua tangannya. Ketakutan membuatnya berkeringat dingin. Bintang tersenyum miris melihat cairan apa telah ternoda ditangannya.
"Apa udah saatnya aku untuk pergi? Apa aku bakalan mati sekarang? Kenapa hidupku jadi sesingkat ini?"
Semua orang menginginkan kebahagiaan. Sekecil apapun kebahagiaan itu, semua orang ingin merasakannya. Kebahagiaan yang tulus, perasaan disayang, dimanja, dinomor satukan, semua orang mendambakannya termasuk aku sendiri.
Jika orang lain bisa mendapatkannya, kenapa aku tidak? Ya, ternyata kebahagiaan itu bukan tidak pernah ada, tapi tidak disadari saking kecilnya. Dan ada juga kebahagiaan yang begitu besar, tapi nyatanya kebahagiaan itu semuanya palsu.
Apa kebahagiaanku sangatlah mahal bila dibeli sampai-sampai untuk mendapat kebahagiaan yang sempurna aku harus melalu rintangan sebesar ini.
__ADS_1
BERSAMBUNG.