
Tak lama akhirnya mereka telah sampai disalah satu hotel yang sudah Tristan pesan.
"Aku terpaksa membawamu kesini karena aku tidak ada pilihan lain lagi
Membaringkan tubuh Bintang diatas ranjang dengan kesadarannya yang masih belumlah pulih. Milli terlihat mengoyak-ngoyak tubuhnya sendiri lantaran merasa kepanasan Milli tak segan-segan hendak melepaskan pakaian yang menutupi tubuhnya sendiri. Tristan yang melihatnya dengan sigap ia langsung menghalanginya.
"Apa kamu udah gila? Jangan lakukan itu!" tegasnya yang tak sengaja malah menyentuh sesuatu yang dimiliki di-dada Bintang.
"Astaga apa yang barusan aku lakukan apa aku menyentuh pusaka itu?" gumamnya yang merasa risi.
"Hey ini tempat ku jadi jaga sifat-mu dan jangan coba-coba kamu menggodaku apalagi sampai-sampai menunjukkan harta kamu itu apa kamu paham!" tegasnya Tristan dengan raut wajah kesalnya.
Mendengar ucapan yang diucapkan Tristan, bintang terlihat tidak meresponnya. Dengan keadaan terbaring dan membolak-balik tubuhnya sendiri. Tatapan Tristan tiba-tiba membuat dia terpukau akan kecantikan Bintang yang sekarang baru ia sadari.
"Kamu terlihat sangat cantik, bahkan kecantikan yang kamu miliki sangatlah berbeda dengan yang dimiliki semua wanita yang aku pandangi," gumamnya yang tersenyum sendiri.
Ucapan manis yang akhirnya terucap dari mulutnya sendiri. Akan tetapi tak lama ia sadar akan ucapan yang ia ucapkan tadi.
"Astaga apa yang barusan aku katakan tadi kenapa aku bisa-bisanya sampai berkata seperti itu? Sudahlah mendingan aku mandi aja," ucapnya yang kemudian ia yang hendak ingin pergi, tangan mungil Bintang langsung menariknya dan akhirnya keduanya pun sama-sama jatuh tersungkur diatas ranjang secara bersamaan.
"Hay apa yang kamu lakukan bisa-bisanya kamu menarik seorang Laki-laki seperti ini apa kamu sudah gila?"bentak Tristan tapi Bintang yang mendengar ocehannya ia malah tidak menggubrisnya.
Berusaha Tristan melepaskan pelukan Bintang, tapi ada daya pelukan itu tambah semakin erat dan membuat Tristan yang berada disisi Bintang pun tak bisa lagi untuk melakukan pemberontakan.
Tristan yang lagi-lagi berniat akan pergi, akan tetapi lagi-lagi langkahnya terhenti setelah bintang yang dengan langsung menarik tangannya dan membuat tubuh Tristan lagi-lagi jatuh tepat dihadapannya.
Bahkan kali ini bintang benar-benar menindihnya pandangan yang tidak bisa dihindari lagi-lagi membuat dua mata yang sama-sama berpandangan itu pun tak bisa dihindari lagi.
Sedangkan cengkraman yang dilakukan Bintang yang semakin mempersulit Tristan untuk melarikan diri darinya, sedangkan Tristan yang sudah menatapnya dengan tatapan bergairah bibirnya yang hampir saja menyentuh lekuk leher Bintang sekaligus pandangan Tristan yang semakin menjadi setelah ia memandang bibir Bintang yang sangatlah mungil.
__ADS_1
"Kamu rupanya sudah berani menggodaku apa kamu sadar dengan siapa kamu ingin beradu bermain ranjang saat ini?"
Perlahan-lahan Tristan memainkan bibir Bintang dengan lembutnya seolah-olah sedang memainkan sesuatu.
Gairahnya keluar. Bahkan keringatnya yang mulai keluar ia akhirnya hilang kendali dan seketika langsung menikam bibir mungil Bintang yang sudah sedari tadi telah berada dihadapannya.
Berusahalah ia ingin melepaskan dua bibir manis yang sama-sama bermain. Tristan malah semakin menjadi dan terus ******* bibir tersebut hinga hampir tak terlihat, terbawa akan suasana Bintang malah ikut menikmati ciuman hangat tersebut.
Tak lama kesadaran Tristan kembali sesaat Tristan yang langsung mengigit leher kanan Bintang yang membuatnya suara ******* pun terdengar dari mulut keduanya.
Tristan yang akhirnya tersadar dengan mengingat kembali akan siapa Sandra, dirinya langsung menghentikan tindakannya. Beranjak dari ranjang ia berada, segera ia hendak akan masuk kedalam kamar mandinya, dirinya seakan-akan menyesal akan perbuatan apa yang barusan ia perbuat tadi.
"Astaga apa yang barusan aku katakan tadi kenapa aku bisa-bisanya sampai melakukan hal seperti itu padanya? Sudahlah mendingan aku mandi aja," ucapnya yang kemudian memasukinya.
"Aw kepala-ku? Kepala-ku sangat pusing ini pasti pengaruh akibat minuman tadi, dasar semua ini gara-gara wanita itu kalau bukan dia gak mungkin aku akan merasa pusing seperti itu. Sudahlah mendingan aku cepat mandi agar pengaruh minuman ini tidak menjalar kemana-mana.
Melepaskan semua pakaiannya dan dalam keadaan bertelanjang, Tristan akhirnya membebaskan diri melakukan ritual mandinya dengan berendam didalamnya dengan santai.
Suara jatuhan telah terdengar dan spontan membuatnya terkejut dan membuyarkan lamunannya. Akan tetapi yang membuatnya ia terkejut, ia terkejut setelah melihat siapa seseorang yang mulai menghampirinya.
Ia seseorang itu yang tak lain ia adalah Bintang, dalam keadaan yang masih kurang sadar ia berjalan dan terus berjalan mendekati Tristan dimana ia sedang melakukan ritualnya.
Terkejut, Tristan lantas membentaknya.
"Kamu? Apa yang kamu lakukan kenapa kamu dengan beraninya datang kesini. Apa kamu tidak lihat aku sedang mandi!" suara angkuh terdengar menyelekit dadanya akan tetapi tidak dengan Bintang yang mendengar akan suara bentakan ia malah terus berjalan menghampirinya.
"Astaga dia sepertinya sedang mabuk, berapa botol yang sudah ia habiskan sehingga kesadarannya berkurang seperti ini?"gumamnya sendiri.
Langkah Bintang yang mulai tidak stabil, selangkah Bintang akan terjatuh dengan sigap Tristan menangkapnya dan siapa sangka mereka malah ikut terjatuh bersamaan didalam air tempat Tristan berendam tadi.
__ADS_1
"Astaga kenapa kita malah terjatuh didalam air seperti ini, ayo cepat bangunlah ayo bangun!" perintahnya akan tetapi Bintang malah tambah memeluk tampa kesadarannya.
"Hay apa yang kamu lakukan kenapa kamu malah memeluk-ku lepaskan aku!" ucap Tristan tapi Bintang tak menghiraukannya.
"Apa yang kamu sukai darinya? Apa yang sebenarnya membuatmu mencintainya sampai-sampai kamu dengan teganya pergi meninggalkan aku hanya untuk Wanita seperti Selly apa?"bentak Bintang yang tanpa sadar ia melayangkan tamparan tepat mengenai pipi kanan Tristan sebagai pelampiasannya.
"Kamu? Berani sekali kamu menamparku?"gertak Tristan dengan amarahnya yang mulai memuncak.
"Apa kamu tahu kamu itu sangat tampan kalau sedang marah kaya gini Rafa. Dan inilah yang aku suka darimu, tapi kenapa kamu malah dengan teganya meninggalkan aku disaat hubungan kita menuju kejenjang serius kenapa?" ucapnya akan tetapi tambah membuat Tristan bingung akan ucapannya.
"Rafa? Siapa laki-laki itu? Apa Rafa itu laki-laki yang sudah meninggalkannya disaat hari pernikahannya dulu?"batin Tristan yang bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Dengan memainkan bibir Tristan dengan lembutnya seolah-olah sedang memainkan sesuatu. Tristan yang mulai was-was akan detak jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang tidak karuan.
"Ingat Tristan tahan, tahan jangan sampai kamu tergoda akan ucapan dan tindakannya. Ingatlah dia sedang mabuk, dia sedang mabuk," gumamnya yang merasa kacau.
Seakan-akan menjadi wanita nakal. Bintang kemudian perlahan-lahan mulai meraba-raba dada bidang Tristan yang tanpa ada sehelai kain pun yang menutupnya. Bahkan dada berbentuk roti itu pun perlahan-lahan mendapatkan sambutan hangat akan tangan mungil Bintang yang mulai merabanya.
Ga*rahnya keluar. Bahkan keringatnya yang mulai keluar ia akhirnya hilang kendali dan seketika langsung menikam bibir mungil Bintang lagi yang sudah sedari tadi telah berada dihadapannya. Mendorongnya kedalam air, ciuman pun akhirnya tak bisa dihindari lagi.
Lantaran keduanya sudah terbawa akan suasana mabuk, Tristan akibat minuman alkohol tadi membuat Tristan yang kesadaran juga sedikit hilang ia terus menyerangnya hinga keduanya tidak terkendali akan tindakan yang mereka lakukan saat ini.
Tristan nampak terpukau akan pemandangan gunung kembar yang terlihat masih berselimut pakaian dalam berwarna putih yang masih tertata rapi pada tubuh Bintang. Sedetik Tristan terlihat akan melepaskan tali B* tangan mungil Bintang lantas mencegahnya.
"Apa yang ingin kamu lakukan?"
Berniat akan pergi dari hadapan Tristan. Tristan dengan sigap ia langsung menarik tubuh Bintang dan membuatnya jatuh kembali dalam pelukannya.
"Jika kamu sampai berani menginjakkan kakimu untuk keluar dari ruangan ini, maka jangan salahkan aku kalau aku akan bertindak kasar dan lebih kejam dari ini?" ancamnya dengan memainkan bibir mungil tersebut hingga Tristan pun langsung mengigit leher kanan Bintang yang membuatnya rintihan des*han pun terdengar dari mulut keduanya lagi.
__ADS_1
BERSAMBUNG.