ISTRI YANG TAK DIANGGAP

ISTRI YANG TAK DIANGGAP
119 " Sampai kapan akan terus terkurung "


__ADS_3

Pagi yang cerah telah terlihat telah menampakkan sinarnya hinga menembus gorden jendela. Sedangkan Bintang yang perlahan-lahan mulai menggerakkan badannya, sekaligus membuka matanya dia merasa seperti ada yang memeluk tubuhnya itu. membuka matanya secara perlahan sambil mengumpulkan nyawanya. Hampir saja dia berteriak saking kagetnya ia menyadari jika sudah ada Tristan yang tertidur menghadapnya sambil memeluk pinggang Bintang dengan cukup erat.


Bintang mencoba untuk melepaskan pelukan itu dengan berhati-hati. Akan tetapi kenapa tiba-tiba jantungnya berdegup kencang dan ini membuatnya sangat tidaklah nyaman.


Hampir saja tangan Tristan terlepas dari pelukannya, tapi lelaki itu sudah lebih dulu menariknya kembali. Wajah keduanya saat ini sangatlah dekat, bahkan hidung mereka hampir bersentuhan.


"Dasar gila apa dia sengaja inggin mengambil kesempatan dalam kesempatan seperti ini?" batinnya yang merasa kesal.


Belum juga pelukan itu terlepas dari keduanya, terlebih dulu Tristan pun berkata dan sekejab membuat Bintang yang berusaha pun terkejut tidak main.


"Mau kemana?" tanya Tristan dengan senyuman.


"Dasar penggoda, jadi dengan seperti ini cara kamu mengait seorang wanita cepat lepaskan," gertaknya yang kemudian Tristan pun membuka mata.


"Ternyata tidur sambil meluk seorang istri sangatlah nyaman ya," bisik Tristan dengan sekali ia memberikan satu kecupan pada keningnya.


"Kamu? Ternyata kamu sekarang sudah berani mencium-ku menyingkir'lah!"tegasnya menunjukkan muka garangnya.


"Memangnya kenapa kalau aku mencium Istriku sendiri, apa itu salah. Dan ingatlah kamu masih punya satu hutang padaku yaitu memuaskan seorang Suami jadi kamu gak mungkin lupa kan dengan kewajiban itu?" bisiknya yang kemudian Tristan bergegas bangkit dan masuk kedalam kamar mandinya tanpa menoleh kearah Bintang yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan garangnya.

__ADS_1


Penyesalan, penyesalan memang selalu datang terlambat, setelah semuanya terjadi dan tidak sesuai dengan keinginan yang kita harapkan, di situ kita baru merasa bersalah. Rasa sesal pun akhirnya datang, seperti yang dirasakan Tristan rasakan sekarang, andai saja Tristan tidaklah egois yang hanya memikirkan dirinya sendiri mungkin semua penyesalan ini gak akan mungkin ia rasakan.


Tapi sama halnya seperti nasi yang sudah menjadi bubur seberusaha apa ia berusaha membalikan keadaan seperti semula. Pada kenyataannya Bintang akan sangat sulit untuk memaafkannya.


Apalagi dirinya yang masih dalam keadaan terkunci didalam kamar hal ini membuat Bintang tambah merasa benci terhadap Suaminya sendiri.


Beberapa menit Tristan melakukan ritualnya didalam kamar mandi, setibanya ia keluar ia dihadang Bintang yang mempertanyakan akan dimana letak kunci berada.


"Kenapa kamu menghadang-ku?"


"Jangan banyak berkata sekarang cepat berikan kunci kamar ini padaku ayo cepat!"


"Jika kamu ingin meminta apapun dariku dengan senang hati aku akan memberikannya,tapi jika kamu meminta satu permintaan itu termasuk meminta kunci kamar ini maaf aku tidak bisa membiarkannya,diluar sana banyak kejahatan yang akan mengancam kamu jadi disinilah tempat yang cocok untuk kamu berlindung saat ini jadi paham kan!"


"Dasar bedebah apa kamu pikir aku akan bodoh yang terus saja terdiam kamu kurung ditempat ini? tidak! itu semua tidak akan pernah terjadi!"ucapnya dengan mengepalkan kedua tangannya.


Setelah merasa kebingungan lantaran sampai sekarang ia tidak kunjung mendapatkan ide cemerlang, beberapa saat suara ketokan pintu pun terdengar.


TOK...TOK...TOK...

__ADS_1


"Silahkan masuk,"ucap Bintang yang kemudian Bibik pun membukanya.


"Ada apa Bik. Apa Bibik akan mengijinkan saya untuk pergi dari Rumah ini?" tanyanya dengan semangat. Akan tetapi setelah Bibik menjawab wajah semangatnya pun seketika luntur.


"Maaf Nyonya ini makan siangnya silahkan makanlah pasti Nyonya sudah sangat lapar sekarang," ucapnya yang kemudian Bibik Ijah pun meletakkan nampan bersama isinya diatas nakas. Dan berniat akan pergi, Bintang yang tahu dengan sigap ia pun menghalanginya.


"Bik tolong ijinkan saya untuk pergi dari Rumah ini saya mohon Bik...saya mohon!"


"Maafkan saya Nyonya saya tidak bisa mengabulkan permintaan Nyonya, Tuan berkata kalau dia melarang saya untuk jangan mengeluarkan Nyonya dari sini jadi maafkan saya, maafkan saya," sambung Bibik dengan menunjukkan kepalanya dan muka penyesalan.


"Baiklah Bik jika Bibik tidak mau membantu saya, saya tidak masalah tapi mendingan Bibik bawalah kembali makanan itu karena aku tidak nafsu untuk makan," balas Bintang yang kemudian ia kembali duduk ditepi ranjang dengan wajah yang terlihat sangat sedih.


"Tapi Nyonya kalau Nyonya sampai sakit gimana nanti Tuan akan marah pada saya jadi makanlah."


"Tidak Bik aku tidak lapar jadi bawalah pergi makanan ini," sambungnya lagi dengan memalingkan pandangannya.


"Baiklah Nyonya maafkan saya..maafkan saya.


"Iya tidak apa-apa Bik. Bibik hanya menjalankan tugas jadi Bibik tidak salah.

__ADS_1


"Baiklah.


BERSAMBUNG.


__ADS_2