ISTRI YANG TAK DIANGGAP

ISTRI YANG TAK DIANGGAP
31 " Kenapa dengan gampangnya percaya "


__ADS_3

Berdiri tegak dipinggir jalan sembari menunggu akan kedatangan kendaraan yang lewat, Tristan yang melihat mobil hitam melaju kearahnya ia seketika memberhentikan laju kendaraan seseorang yang kebetulan hendak lewat dari pandangan itu. Seseorang itu dengan rasa takut ia akhirnya keluar dan mengijinkannya untuk masuk setelah dirinya yang diancamkan mengunakan pistol.


"Hey cepat turun dan biarkan aku yang menyetirnya?" ancam Tristan dengan menodongkan sebuah Pis*ol kearah perempuan itu. Merasa saat ia lantas langsung turun dan berbalik duduk di-kursi penumpang


"Anda benar-benar keterlaluan, kejam sekali anda mengancam Wanita yang tidak bersalah ini?" bentak Bintang dengan menunjukkan tatapan tajamnya.


"Bodoh. Dan kamu? "ucapnya dengan menunjuk kearah Wanita dibelakang" Jika kamu tidak inggin nasibmu sama seperti Wanita yang ada di-sampingku ini yang mendapatkan luka cambukan. Dan akan mendapat luka tembakan tambahan maka serahkan ponselmu?" ancam Tristan lagi dengan memberi tatapan tajamnya.


Merasa takut dan tatapannya yang melihat kearah wanita yang ada disamping laki-laki ini dengan memar sekujur tubuh. Wanita itu lantas menurut dan tanpa melakukan sesuatu mau pun pemberontakan.


"Baiklah ini Ponsel saya, anda boleh mengancam saya tapi saya mohon jangan lukai saya ...saya mohon!"


"Baguslah kalau anda sangat penurut seperti itu.


Berhenti dijalan yang letaknya tak jauh dari Hotel. Tristan akhirnya memberhentikan laju kendaraannya, bergegas ia pun turun sekaligus memaksa Bintang ikut turun juga.


"Ayo keluarlah cepat!"


"Dan ini ponselmu cepat pergilah karena aku sudah tidak membutuhkanmu, cepat pergilah jika anda tidak mau merasakan tembakan dariku ini cepat!"


"Baik saya akan pergi. Terima kasih sudah memberi kesempatan terima kasih."ucapnya dengan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Dan kamu? Daripada kamu hanya menatapku dengan tatapan seperti itu lebih baik ayo kita masuk sekarang! Dan ini? Pakai jaket ini agar orang-orang tidak melihat luka kamu itu cepat pakai!"perintahnya.


"Baiklah aku akan memakainya,"balas Bintang yang hanya menurutinya.


Setelah mengambil dan memesan satu kamar untuk mereka tinggali, mereka pun akhirnya telah sampai di depan kamar no 25 tanpa menunggu lagi mereka pun segera memasuki kamar yang bermotif putih tersebut. Tak lupa Tristan juga menguncinya dari dalam sebagai penjagaan.


"Akhirnya aku bisa istirahat juga sekarang," ucapnya yang kemudian Tristan langsung menjatuhkan tubuhnya diatas kasur berwarna putih itu. Lalu ia akan rencana yang sudah direncanakan Sandra sama dirinya.


"Oh iya Sandra lah orang yang merencanakan semua ini untuk menjebaknya? Dan permasalahannya sekarang rencana semua itu gagal lantaran aku yang sudah menyelematkannya jadi gimana cara aku meyakinkan Sandra jika rencana kali ini berhasil seperti yang dia minta?"batinnya dengan menatap Bintang dengan herannya. Sedangkan Bintang yang melihat Tristan memandangnya dengan tatapan cukup sinis, dirinya merasa cemas dan seketika omelan pun ia lontarkan.


"Kamu? Apa yang kamu pikirkan saat ini kenapa kamu menatapku dengan tatapan seperti itu?"


Kini perintah yang ia lontarkan seketika mengejutkan Bintang,belum lagi perintah Tristan yang meminta Bintang untuk membuka pakaiannya seketika membuatnya terkejut tidak main.


"Apa maksudmu menyuruhku untuk membuka pakaianku? Apa kamu pikir dengan adanya aku yang menurut apa kata kamu? Aku akan menuruti semua permintaan kamu? Tidak? Itu tidak akan mungkin jadi buanglah pikiran kamu itu!"


"Dan satu hal lagi dengan niat kamu menyelamatkanku jangan berharap jika aku akan baik hati, karena apa? Karena itu sama sekali tidak akan pernah terjadi. Bagiku kamu itu hanyalah orang yang hanya akan menganggap ku sebagai benalu, iya benalu yang harus dimusnahkan ya kan?"


"Iya memang aku hanya menganggap-mu hanya sebatas benalu yang harus dimusnahkan apa itu kurang puas untuk membuatmu menurut akan permintaanku?"


"Iya memang sekarang kamu hanya menganggap-ku sebatas benalu, tapi kamu kan tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, sekarang kamu membenciku? Bahkan tega berniat ingin membunuhku tapi yang namanya hati kita kan tidak pernah tahu. Jadi berhati-hatilah karena orang yang terlihat diam itu bukan berarti ia mengalah. Ada kala seorang pendiam akan bangkit dan bersikap lebih kasar jika harga dirinya sudah diinjak-injak. Bahkan lebih parahnya lagi mungkin ia bisa sekejam singa yang sudah terlepas dari kandangnya dan tidak segan-segan akan memangsanya, apa kamu mengerti?" tegas Bintang dengan menunjukkan wajah beraninya.

__ADS_1


"Berani kamu berkata seperti itu kepadaku?"


"Iya aku berani. Karena aku sudah capek, menjadi Istri dari seorang Pria yang kejam dan tidak berperikemanusiaan seperti mu dan aku hanya diam disaat kamu sedang menghinaku, bukan berarti aku harus diam dan menurut selamanya kan?"


Dan sekarang sudah gak ada alasan lagi buatku untuk tetap bersamamu. Harusnya aku taat akan hatiku untuk tidak percaya sama semua perkataan kamu karena bagiku tinggal bersamamu yang ada aku malah akan tambah tersiksa olehmu dan ternyata benar kan dugaan-ku kamu hanya ingin menjebak ku lagi? Harusnya aku sadar kalau kamu itu manusia yang punya kepribadian ganda yang mampu menipu banyak orang dengan perubahan sikap kamu itu jadi tidak akan alasan untuk aku percaya sama semua perkataan kamu jadi aku harus pergi!"


Baru selangkah Bintang menginjakkan kakinya berniat akan pergi dari pandangannya. Tristan tiba-tiba langsung mencengkram tangan kanan bintang.


"Kamu mau kemana?" tanya Tristan dengan tegas.


"Kenapa? Apa itu masalah buatmu?"


"Apa kamu lupa kamu itu masih jadi Istriku jadi harusnya kamu itu menurut sama apa kata Suami. Apalagi para lelaki hidung belang yang masih mengincar-mu apa kamu belum puas juga?"


"Menurut. Untuk apa aku harus menurut sama kamu. Kamu sendiri aja gak pernah menghargai-ku menjadi Istrimu jadi apa gunanya aku masih bertahan disini. Dan lelaki hidung belang yang kamu maksudkan bukankah lebih berbahaya dirimu ketimbang dengan mereka jadi lepaskan cengkraman tangan kamu itu lepaskan!" perintah Bintang dengan tegas tapi Tristan tidak menghiraukannya.


" lepaskan aku!"


Belum juga keduanya selesai dalam perdebatan mereka, Tristan tiba-tiba dikejutkan degan adanya ponsel yang tiba-tiba berdering.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2