
"Kayaknya mulai sekarang aku harus berhati-hati berada dirumah ini, karena jujur aja setelah melihat sifat Sandra yang sebenarnya aku takut kalau dia benar-benar akan nekat melakukan hal diluar batas, jadi yang harus aku lakukan sekarang aku harus waspada iya itu yang paling penting sekarang,"batinnya.
Ucapnya yang kemudian ia yang hendak akan pergi tiba-tiba tubuhnya serasa sangat berat dan hampir saja Bintang terjatuh lantaran tubuhnya tiba-tiba melemah.
Bahkan darah segar tiba-tiba keluar dari lubang hidungnya sesekali ia mengusapnya dengan tissue, tapi darah terus keluar hingga membutuhkan banyak tissue untuk ia gunakan.
"Hampir setiap hari aku mimisan dan setiap hari juga aku selalu menyimpan sendiri penyakit ku ini jadi sekarang sudah tidak ada waktu bagiku untuk bersenang-senang cepat atau lambat aku harus segera melakukan kemoterapi lagi agar penyebarannya melambat, jadi aku harus bertindak lebih cerdik untuk membodohi mereka terutama Tristan agar aku bisa mendapatkan uang untuk biaya berobat ku. Apalagi uang tabungan ku yang hanya sisa 200 juta yang segitu tidak akan sanggup untuk biaya kemoterapi mau pun cuci darah setiap minggunya,"batin Bintang yang kemudian ia melanjutkan lagi jalannya.
Malam yang dingin berbarengan dengan adanya hujan lebat yang datang membuat suasana bulu kuduk seketika datang membangkitkan suasana. Perut Tristan yang mulai keroncong terasa lapar, dirinya menghampiri dapur dan dekat meja makan tapi apa yang tersaji hanyalah nasi yang ternak didalam rice cooker. Sedangkan dia membuka tempat tudung saji tidak tersaji apa-apa.
Kemudian Tristan berjalan menuju keruang tamu, menghampiri Mama dan Istrinya yang lagi asyik-asyiknya menonton televisi.
"Oh iya Ma, Tristan lapar apa tidak ada sama sekali makanan di dapur? Apa kalian tidak masak malam ini?"tanya Tristan.
"MMM gimana ya sayang tadi aku dan Mama makan diluar, kami tidak sempat membeli makanan karena sekarang suasananya lagi berubah hujan deras jadi maaf ya kalau untuk malam ini aja kamu makan sama telor ceplok?"balas Sandra yang menimpali pembicaraannya.
__ADS_1
"Ya elah bilang aja tidak bisa masak aja kan gampang, ngapain juga pakai acara banyak alasan yang aneh-aneh,"timpal Bintang yang menyahut akan pembicaraan mereka.
"Apa kamu bilang tadi? Tidak bisa masak?"tegas Sandra dengan raut wajah tidak terimanya.
"Iya kamu kan memang tidak bisa masak jadi itukan alasan pertama kenapa kamu tidak mau memasak di dapur? Atau mungkin karena kamu anak dari anak orang kaya, kamu merasa harga diri kamu terinjak setiap kali kamu masuk kedalam sana dan melakukan kewajiban kamu layaknya seperti seorang pembantu!"
"Cukup! Aku bilang cukup aku bukanlah tidak bisa masak tapi aku memang lagi malas untuk masak, tapi ya sudahlah kalau kamu memaksaku untuk masak baiklah aku akan masak!"
"Baiklah ayo masak sekarang kebetulan aku sangat penasaran dengan hasil kerja keras kamu nanti?"
Masuk kedalam dapur, membuka kulkas melihat beberapa sayur mentah seperti kangkung, sawi putih, sawi daging dan berbagai macam sayuran yang lainnya. Sedangkan dalam freezer ada juga udang, bakso dan ikan segar yang lainnya, Sandra yang diselimuti rasa paniknya membuat Sandra bingung gimana cara ia menyajikan makanan untuk malam ini.
"Kamu lagi apa kok lama sekali kamu lagi berbicara pada sayuran itu untuk membantunya agar langsung bisa matang dan bisa dihidangkan?"ledek Bintang yang seketika membuyarkan lamunan Sandra.
"Sekali lagi anda berbicara aku akan melempar anda mengunakan ulek-ulek'kan ini apa anda paham!"
__ADS_1
"Ayo Sandra kamu pasti bisa kamu pasti bisa,"batinnya.
Memulai memasak dengan teliti, terlebih dulu ia memotong sawi hijau yang ia potong menjadi dua bagian menjadi besar-besar, memotong dua siung bawang merah dan putih tanpa ia kupas kulitnya dengan tebal-tebal, lalu ia mengambil wajan yang ia kasihkan minyak sedikit dan memulai menyalakan kompor seperti biasanya. Menumis bawang berserta dua telor, setelah layu diberikannya air sedikit, beserta garam satu sendok, micin satu sendok teh penuh berserta saus dan kecap sesuai selera.
Menyajikannya diatas piring lalu ia berikan pada Tristan beserta yang lain yang sudah menantikan diruang makan.
"Ini aku sudah memasak, jadi sekarang kamu sudah tidak bisa lagi meledek dan mengata-ngataiku kalau aku tidak bisa masak kan?"
"Kamu berikan dia berapa garam dalam masakan kamu ini? Apa satu sendok saja cukup?"jawab Bintang yang membuat pandangan Sandra berdecak kaget.
"Maksudnya satu sendok garam belum terasa asin?"tanya Sandra serasa sedikit penasaran.
"Ya entahlah aku kalau memberikannya aja dua sendok teh jadi tambahkan sana!"Bergegas Sandra yang akan pergi tapi Tristan melarangnya.
"Apa yang kamu lakukan apa kamu ingin membuat lautan dalam sayur ini sudah cukup satu sendok menurutku itu sudah cukup asin jadi jangan tambahkan lagi,"timpalnya.
__ADS_1
"Baiklah!"
BERSAMBUNG.