
Memandang langit yang sangat cerah dengan warna biru muda yang menyala terang, ditambah lagi dengan adanya burung-burung yang berkicau dengan sangat merdu. Bintang secara pelan ia memejamkan kedua matanya untuk menenangkan diri sekaligus menghirup udara segar ditempat ini.
Dengan terduduk disamping makam dari Suaminya yaitu Tristan, dirinya menabur beberapa jenis bunga harum sekaligus mencabut beberapa rumput-rumput liar yang mulai mengerubungi makam Suaminya tersebut.
"Maafkan aku sayang? Maafkan aku karena aku sudah agak telat bisa mengunjungimu setiap hari. Dan aku tau setiap kali aku berkunjung aku pasti akan memberikan air mataku padamu, tapi kamu tenang saja kali ini aku datang kesini tanpa adanya air mata yang akan aku tunjukkan padamu, aku sadar aku egois karena sudah tiga tahun lamanya aku pergi, aku masih sangat mengharapkan akan hadirmu kembali.
Oh iya apa kamu di alam sana juga berfikir mengenai siapa sebenarnya bagas? Atau mungkin kamu tau siapa dia jujur aku sedikit bingung siapa sebenarnya dia apa dia sunguh sunguh kembaran kamu atau memang kalian hanyalah seseorang yang memiliki wajah yang mirip tanpa adanya hubungan darah diantara kalian, sunguh aku bingung apa yang harus aku percayai?"
rintik rintik hujan terlihat mulai berdatangan awan mendung yang tadinya terlihat menghitam dengan pekat, kini awan hitam itu mulai berkelombang yang mengakibat hujan deras terlihat mengguyur wilayah dimana bintang berada saat ini.
hujan yang semakin deras tak menghiraukan niat bintang untuk bangkit atau pun meneduh dari siraman air hujan yang cukuplah dingin ini.
''kamu lihat tristan biar pun sekaran lagi hujan entah kenapa aku sangat sulit untuk pergi dari tempat ini dan meningalkan kamu sendiri seorang diri?"
"Dan entah kenapa aku merasa sedikit bahagia jika tubuhku tersiram air hujan seperti ini?"
Hujan yang semakin deras telah membuat pakaikan yang dikenakannya menjadi basah kuyup, dinginnya air ini tak menghiraukan langkah Bintang untuk pergi menghindari akan kondisinya yang nantinya mampu membuatnya bisa terjatuh sakit.
__ADS_1
Tak lama langkah kaki seseorang terlihat mulai menghampirinya, meneduhkan satu payung diatas kepala Bintang dimana ia terduduk saat ini, Bintang yang tadinya merasa ada aneh lantaran rintikan hujan yang tiba-tiba tidak mengenai dirinya, Bintang kemudian memandang kearah atas dan melihat satu buah payung hitam yang sudah berada disisinya.
Melihat balik siapa seseorang yang melakukannya, Bintang kemudian mengalihkan pandangannya setelah tau siapa seseorang yang berbuat seperti ini padanya.
''Apa yang kamu lakukan disini siapa yang menyuruhmu untuk kemari dan memberikan payung itu agar tidak mengenai diriku?"
''Aku datang kesini bukan atas dasar suruhan dari seseorang, tapi aku datang kemari karena aku ingin mengajak kamu pergi dari sini, ini hujan apa lagi yang ingin kamu tunggu apa kamu masih bodoh ingin berdiam diri yang akhirnya membuat kamu nanti akan jatuh sakit?"ucap Bagas yang dengan lancangnya.
''Mau sakit atau pun tidak ini urusanku, kamu juga hanyalah sekretarisku jadi untuk apa kamu masih memperdulikan ku, sudah pergilah dari sini karena aku ingin sendiri dan pastinya aku juga masih betah berada disini biarpun lagi kehujanan."
''Ternyata memang sulit menyadarkan seseorang yang sudah terlanjur bucin sama seseorang? Aku tau kalau kamu memang istrinya tapi harusnya kamu bisa berpikir sedikit, kamu boleh berpikir jika kamu merasa kehilangan akan meninggalnya Suami mu tapi bukan seperti ini caranya! Bukan seperti ini!"
"Baiklah aku akan pergi tapi setelah aku pergi aku ingin kamu bisa memikirkan apa yang aku maksudkan tadi permisi!"
Melihat Bagas yang mulai menjauh dari langkah ia terdiam saat ini, bayangan Bintang terlihat mulai buram ketika dirinya menatap langit yang hanya terpenuhi akan tetesan air hujan.
Bintang yang berniat akan pergi, melangkahkan kakinya dari tempat ia terdiam tadi, tubuhnya serasa tak mampu untuk ia gerakkan, akibat kelamaan terduduk kakinya terasa kaku, kram dan juga kesemutan yang menyerangnya secara bersamaan.
__ADS_1
Sedangkan disisi lain Bagas yang tadinya terlihat sudah mulai menjauh dari langkah Bintang, tak ada angin tak ada hujan Bagas kemudian datang dan memberikan tangannya untuk membantunya berdiri setelah dirinya menyadari akan Bintang yang membutuhkan bantuan akan seseorang.
"Pegang lah tanganku ini!"satu ucapan yang akhirnya Bagas tunjukkan, Bintang yang melihat sesosok tangan sudah siap meraihnya, dia lebih memilih menolaknya.
"Aku tidak butuh jabat tangan kamu itu jadi pergilah!"
"Dasar keras kepala!"
Tak tahan dengan seseorang yang mempunyai jiwa keras kepalanya yang sangat tinggi. Bagas akhirnya mulai merangkul tubuh Bintang yang tadinya masih bersimpuh dilantai, dengan membopong tubuh Bintang dan mengangkatnya dengan entengnya.
Bintang yang mengingat perlakukan Tristan yang juga pernah melakukan semua ini padanya, dengan tegas Bintang menyuruhnya untuk menurunkannya tapi ucapannya sama sekali tidak diambil oleh Bagas dan lebih memilih terus saja berjalan hinga keduanya sampai di mobil.
"Jika anda akan terus saja menjadi orang yang keras kepala? Maka jangan salahkan aku juga kalau aku akan bertindak ikut keras kepala juga paham!"
"Anda siapa berani sekali anda berkata seperti itu pada saya?"
"Sudahlah pasang sabuk pengaman Nyonya aku akan mengantarkan Nyonya pulang sekarang!"
__ADS_1
BERSAMBUNG.