
Awan mendung yang tadinya cerah, kini dalam hitungan detik awan putih itu berubah menjadi keabuan yang perlahan-lahan tetesan rintik hujan sekejab membasahi tanah.
Seorang anak laki-laki berumur 5 tahunan beserta ayahnya yang berada dalam mobil pun terlihat terpatung, tak terlihat akan suara sahutan yang dihasilkan oleh keduanya.
Si ayah yang nampak terdiam lesu, tak fokus akan laju kendaraan yang dipegangnya, sedangkan si anak yang terlihat murung, sesekali ia menatap kearah ayahnya yang hanya terdiam mematung.
"Ayah kenapa?"ucap anak kecil itu kemudian si ayah yang sadar dirinya lalu memalingkan pandangannya kearah anak kecil tersebut.
"Iya sayang ada apa?"tanya Bagas sesekali ia memegang pipi kanan putranya.
"Apa ayah ada masalah kenapa Rasya perhatiin ayah diam tidak peduli pada Rasya? Ayah gak kenapa-kenapa kan?"
"Sayang, ayah tidak apa-apa itu hanya perasaan kamu aja,"balas Bagas.
"Sekarang apa yang harus ayah katakan pada kamu Rasya? Apa yang harus ayah katakan jika ayah yang ada didepan kamu ini bukanlah ayah kandung kamu? Apa yang harus ayah katakan dan jelaskan nanti?"batin Bagas bersamaan dengan air matanya yang mulai berjatuhan.
Air matanya kembali menetes dari kedua sudut mata manisnya, melihat putra kecilnya yang nampak tidak tau apa-apa,.
"Ayah? Ayah kenapa menangis ayah gak lagi ada masalah kan?"tanya Putranya lagi, berlalu Pria itu duduk berlutut dihadapannya.
Memandang putra kecil berusia 5 tahun disebelahnya, Pria tampan itu hanya menatapnya sembari air mata yang tidak bisa ia hindari lagi.
Suasana yang terlihat semakin mencekam setelah Bagas mengendarai mobil dalam kondisi suasana yang gelap gurita, hujan deras yang melanda wilayah yang ia lalui membuat pandangan Bagas yang sedang melajukan kendaraannya sedikit hilang konsentrasinya
Melajukan kendaraan cukup normal tanpa kecepatan tinggi, Bagas dengan santai ia tetap melajukan nya, naas dari arah berlawanan sebuah mobil truk tiba-tiba datang dari arah berlawanan terkejut akan kehadiran mobil tersebut Bagas yang menghindari sebuah Truk ia pun akhirnya membanting setirnya ke kiri, terkejut Bagas pun akhirnya tanpa sengaja menabrakkan mobilnya tepat mengenai satu batang pohon yang berdiri tepat dipinggir jalan sesaat ia sempat melindungi tubuh putranya dari hantaman keras yang mampu membuatnya celaka.
Akibat benturan yang dia alami, pendarahan pun tidak bisa dihindari lagi, darah yang terus menggalir dikepala Bagas pun akhirnya membuat bagas pun tidak sadarkan diri lagi
Tangisan dari seorang anak laki-laki seketika menjadi setelah anak itu melihat dan menyaksikan sendiri ayahnya membenturkan kepalanya ke setir mobil.
"Ayah ... Ayah ... Bangun! Ayah bangun ada apa dengan Ayah? Ayah bangun ...
Di lain tempat Andra yang hendak ingin menghubungi Bagas membicarakan soal rekaman video cctv lantaran rasa penasarannya pada video yang didapatkan kemaren tidak juga mampu ia lihat, dirinya yang langsung menghubungi nomor Bagas tapi belum juga dirinya berkata langsung suara tangisan anak kecil seketika mengejutkan keningnya.
"Bagas aku ...
Belum sempat Andra melanjutkan ucapan yang hendak akan dibicarakan pada Bagas, dirinya mendengar tangisan seorang anak yang seketika mengejutkan dan mengalihkan akan pembicaraan yang barusan akan ia katakan.
"Ini siapa!" Rasa penasarannya semakin menjadi, berlalu anak kecil yang tak lain Rasya seketika langsung menyahutnya.
"Tolong ayah ... Tolong ayah ...."
"Ada apa sayang kenapa kamu menangis dimana ayah kamu? Dimana dia apa yang terjadi dengan ayah kamu katakan ada apa?"
"Selamatkan ayahku ... Selamatkan ayahku ... Tolong ...."
"Sayang kasih tau om apa yang terjadi dengan ayah kamu? Kamu bisa kan berikan telefon ini pada ayah kamu berikan ya sayang?"ucapnya yang dipenuhi rasa cemasnya.
__ADS_1
"Ayah kecelakaan tolong dia ... Tolong dia ...
"Baik sayang om akan menolong ayah kamu, kamu yang tenang ya om akan segera kesana sekarang!"
Rasa gugup seketika menyertai Andra, dirinya yang sudah membawa kunci mobil, menjinjing satu buah jaket hitamnya, satu langkah kakinya sudah berhasil ia injakkan kedalam mobil, selangkah lagi ia berniat ingin masuk dan menutup pintu mobilnya tapi niatnya terhalangi setelah seseorang datang dan menghentikan langkahnya.
"Nyonya?"
"Andra kamu mau kemana apa yang terjadi kenapa kamu kelihatan sangatlah gugup! Ada apa?"
"Itu nyonya! Bagas kecelakaan aku berniat ingin mendatangi langsung ketempat lokasinya?"
"Astaga!"
"Maaf nyonya aku tidak bisa lama-lama aku harus pergi!"
"Aku ikut!"
"Baiklah cepat masuklah!"
Mendatangi lokasi langsung tempat kejadian akan kecelakaan itu, pandangan Andra mau pun Bintang seketika tertuju pada satu mobil yang menghantam pohon dengan kondisi depannya sedikit ringsek, mendengar suara tangisan anak kecil yang akhirnya menyadarkan mereka seketika langsung menghampirinya.
"Bagas apa yang terjadi denganmu kenapa kamu bisa sampai seperti ini? Nyonya bisa tolong alihkan pandangan Rasya dari Ayahnya takutnya dia akan trauma melihat ayahnya seperti ini?"pinta Andra pada Bintang.
"Sayang kamu ikut Tante ya, ayah kamu baik-baik saja kamu ikut Tante ya?"ajaknya yang langsung memeluk Rasya dan memalingkan pandangan Rasya kebelakang.
"Tidak mau! Aku tidak mau! Aku mau bersama ayah, aku mau disamping ayah?"ucapnya dengan suara tangisan tersedu-sedu.
"Sayang kamu jangan takut ayah baik-baik saja, ikutlah dengan Tante ayah tidak apa-apa,"ucapnya berbarengan rasa sakit yang sedikit ia rasakan.
"Bagas kondisi kamu lagi lemah aku antar kamu ke rumah sakit ya?"timpal Andra.
"Jangan! Aku tidak mau ke-rumah sakit jangan bawa aku kesana jangan!"ucap Bagas sesaat ia sadar dan menolak akan ajakan Andra.
"Bagas apa kamu sudah gila? Kamu gak lihat jidat kamu bersimbah darah seperti ini kenapa kamu masih tidak mau kita larikan kesana, sudah jangan membantah kita akan mengantarkan kamu sekarang diam-lah!"tegas Bintang.
"Haruskah aku membantah apa kata kalian? Aku sudah cukup lelah jangan bawa aku ke rumah sakit apa kalian masih tidak paham juga!"
"Baiklah cepat kita bawa dia pulang kerumahnya?"timpal Andra melerai perdebatan.
"Aku juga tidak mau pulang?"timpal Bagas.
"Kadang aku bingung apa yang ada dengan dirimu ini? Kita mencoba melarikan kamu ke Rumah sakit mau pun kekediaman kamu sendiri kamu menolaknya ada apa? Apa yang terjadi dengan dirimu ini ada apa?"
"Sudahlah kayaknya sesuatu telah terjadi dengannya, kamu antarkan Bagas ke apartemen ku biarkan mereka untuk sementara tingal bersama kita disana. Aku merasa ada sesuatu yang terjadi jadi jangan paksa dia cepat angkat dia sekarang!"
"Baiklah nyonya
__ADS_1
_________________________________
"Gimana Dok keadaan teman saya? Dia tidak mengalami luka yang serius kan akibat benturan tadi?"
"Anda tenang saja dia baik-baik saja? Dia hanya mengalami pendarahan dikit tapi itu sudah kami atasi selanjutnya jangan biarkan dia untuk banyak beraktifitas!"jelas Dokter.
"Baik Dok sekali lagi terima kasih!"
"Iya sama-sama mari saya tingal dulu!"
"Baik Dok mari saya antar ke rumah!"
"Apa kamu udah gila? Jika kamu ada masalah apa pantas kamu mengajak anak kamu yang masih kecil ini? Jika dia terluka akibat kecepatan tadi apa kamu tidak menyesal?"
"Nyonya kayaknya tadi itu hanyalah kecelakaan jadi tidak seharusnya nyonya marahin Bagas seperti itu?"
"Ada apa Bagas? Aku tau kamu seperti ini karena telah terjadi sesuatu ada apa cerita-lah padaku! Sebagai sama-sama laki-laki aku yakin bisa membantu masalah kamu ada permasalahan kamu katakan!"
"Nyonya bisa bantu aku bawa Rasya keluar sebentar? Aku ingin berbicara empat mata dengan Andra, aku lebih percaya padanya karena kita sama-sama laki-laki jadi pastinya dia mengerti akan permasalahan yang barusan aku alami ini?"
"Baiklah aku akan keluar bersama Rasya jadi bicaralah aku akan menunggu di-taman!"
"Baiklah.
"Ada apa Bagas?"
"Apa menurutmu aku ini terlihat sangatlah bodoh jika dipandang sebelah mata?"tanya Bagas.
"Kenapa pertanyaan kamu seperti itu? Apa selain pertanyaan itu tidak ada pertanyaan lain lagi yang ingin kamu tanyakan padaku? Kenapa juga harus pertanyaan macam itu?"
"Aku hanya tanya apa menurut mu aku terlihat sangatlah bodoh jika dipandang sebelah mata pada seorang Wanita!"
"Jujur ini pilihan yang sulit tapi jika aku tidak jujur itu juga tidak akan menyelematkan ku baiklah jika kamu ingin jujur kamu memang bodoh puas!"
"Aku tau kalau aku memang sangat bodoh? Bahkan sangking bodohnya aku bisa sampai tertipu pada seorang wanita. Bahkan yang lebih parahnya lagi aku sampai tertipu dan percaya jika Rasya memang putra kandungku aku sangatlah bodoh!"
"Tunggu? Apa maksud dari ucapan kamu tadi Rasya kecil dia bukan putra kandung kamu bagaimana bisa?"
"Sudahlah pergi dari hadapanku aku ingin sendiri pergilah!"
"Bagas kita belum selesai ngomong berikan aku waktu sedikit algi untuk bisa memahami apa permasalahan kamu beri aku waktu!"
"Aku bilang pergi!"
"Ba ... Baiklah aku akan pergi, tapi ingat jika Rasya memang bukan Putra kandung kamu bukan seperti ini cara kamu meluapkan semua penyesalan kamu bukan seperti ini?"
"Aku bilang pergi!"
__ADS_1
"Baiklah aku akan pergi.
BERSAMBUNG.