
Seseorang yang dalam kondisi sudah tidak berdaya terbaring lemas dengan wajah yang sangat pucat. Dan beberapa selang yang sudah tertempel pada tubuh seseorang itu sendiri.
Air matanya tidak berhenti mengalir mengingat akan kejadian dan perilaku apa yang selama ini dilakukannya.
Raut wajah pucat terlihat jelas nampak dari wajah Bintang. Biar pun kedua mata yang sudah terpejam ia masih terlihat sangatlah cantik.
"Tristan, tidak ini tidak mungkin apa yang aku lihat ini pasti tidak mungkin. Kenapa kamu sangat bodoh Tristan kenapa kamu sangat bodoh setelah semuanya terjadi kamu sangatlah bodoh!"batin Tristan sendiri yang terus saja menyalahkan dirinya, dirinya yang terus memperhatikannya dengan derai air matanya.
_________________________
Melangkahkan kakinya dan tepat disamping Bintang, Tristan dengan langsung ia menggenggam erat tangan Bintang, kelopak matanya yang kembali terbuka dengan secara perlahan-lahan akhirnya telah menyadarkan dirinya.
"Aku tadi merasa ada seseorang yang sedang menggenggam erat tanganku tapi kenapa disini nampaknya tidak ada satu orang pun apa aku hanya berhalusinasi?"
ucapnya tapi tak ada suara yang menyahutnya, sedangkan Tristan yang berusaha sekuat hatinya ia memendam air matanya agar tidak terdengar oleh Bintang sendiri.
Suster yang berniat ingin memeriksa pasien, ia memasuki ruangan Bintang dan melihat seseorang yang sudah berada disana bersamaan air mata yang ia sembunyikan.
"Siapa itu apa ada seseorang yang datang?"tanya Bintang beralih pandangan Suster menghadapnya.
"Iya kenapa? Ini dengan saya sendiri?"balas Suster yang langsung menghampirinya.
"Apakah selain Suster ada seseorang lain yang berada disini?"tanya Bintang, tapi Suster yang memandang Tristan, Tristan yang melihat dirinya memberikan isyaratnya.
__ADS_1
"Sus kenapa anda berhenti Suster masih ada disini kan?"
"Saya masih ada disini kok, saya hanya merasa bingung dengan pertanyaan anda tadi, disini hanya ada kita maksudnya hanya ada saya dan juga anda sendiri jadi bagaimana anda bisa bertanya apa disini ada orang?"
"Soalnya tadi saya merasakan ada seseorang yang menggenggam tangan saya, tapi saya cukup lega jika hanya Suster yang berada disini. Oh iya Sus jika ada seseorang yang datang kesini saya mohon tolong Suster mau pun Dokter jangan pernah mengijinkannya untuk masuk karena saya tidak ingin mereka melihat kondisiku yang seperti ini sekarang jadi Suster bersedia kan membantu saya?"
"Baiklah saya tidak akan membiarkan orang lain untuk menghampiri atau pun menjenguk anda, ini sudah malam jadi alangkah baiknya anda beristirahat ya, besok atau lusa anda sudah diperbolehkan pulang jadi bersabarlah!"
"Baik Sus, sekali lagi terima kasih Sus! Terima kasih!"
"Iya sama-sama ya sudah saya tingal dulu!"
"Baik Sus!"
"Sebenarnya aku yang merasa sedang berhalusinasi atau memang aku yang sedang merasakan jika memang ada seseorang di sampingku ini?"
"Tristan ... Kamu ngapain ada disini? Sejak kapan kamu disini?"
"Apa kamu merasa pusing sekarang. Apa kamu capek..apa kamu merasakan sakit saat ini," tanyanya yang terus berkata tanpa terhenti.
" Cukup! Apa maksud kamu? Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud tadi. Dan kenapa kamu bisa ada disini bukannya kita sudah tidak ada hubungan lagi. Kenapa sekarang kamu tiba-tiba ada disini. Aku tidak mau kamu ada disini jadi mendingan kamu pergilah! Kamu pergi saja..karena aku sudah tidak membutuhkan kamu lagi..pergi!" usirnya dengan mengalihkan pandangannya.
"Berhenti! Gak aku tidak akan pernah melakukannya kamu sekarang sudah tidak perlu lagi berusaha untuk menjauhi aku, kamu juga sudah tidak perlu lagi untuk berakting lagi didepan-ku Karena aku sudah mengetahui semuanya. Aku sudah mengetahui tentang penyakit kamu ini kamu menjadi berubah dan kamu berusaha untuk menjauhi aku..karena kamu tidak ingin jika aku sampai mengetahui penyakit kamu ini kan?"
__ADS_1
"Apa? Jadi kamu sudah mengetahui semuanya? Jadi kamu sudah tau tentang kondisiku saat ini?"
"Iya aku sudah mengetahui semuanya, bahkan keadaan kamu yang buta seperti ini aku sudah mengetuai semuanya jadi aku mohon jangan paksa aku untuk meninggalkan kamu jangan paksa aku!"
"Kamu sudah tau akan kondisi-ku yang seperti ini jadi pastinya kamu akan selalu menertawakan-ku karena aku sudah lemah! Jadi sekarang aku minta kamu pergi dari sini ayo pergi!"
"Tidak Bintang! Bagaimana bisa aku pergi ninggalin kamu sendiri dalam kondisi seperti ini. Maafkan aku..maafkan aku disaat kamu membutuhkanku aku malah membuat kamu merasa tambah menderita karena ulah dan kelakuanku selama ini maafkan aku...maafkan aku karena aku belum bisa menjadi Suami yang setia dan tulus mencintaimu maafkan aku...maafkan aku!"
Pria itu terus saja mendekap tubuhnya walaupun wanita itu terus memberontak serta memukul dadanya.
Permintaan maaf itu selalu keluar dari mulutnya, saat ini benar- benar takut akan kehilangan wanita yang sangat ia cintai. Rasa bersalah mulai menyelimuti hati pria tampan ini, wajahnya segera ia tundukkan, ia tidak mau melihat Bintang yang mungkin akan sangat sulit untuk memaafkannya. Akan tetapi melihat Wanita yang sangat dicintainya tak memberikan pintu maaf, dirinya terasa pasrah dan menerima akan keadaan semuanya.
"Baiklah aku rasa kamu juga sudah tidak mengharapkan akan kehadiran-ku ini jadi baiklah aku akan pergi. Dan mungkin pertemuan kita kali ini hanya akan jadi pertemuan terakhir, maaf aku harus pergi dan maafkan aku juga jika selama ini aku sudah cukup membuat kamu menderita maafkan aku, maafkan aku!"
Langkahnya yang berniat akan pergi, tapi belum mampu Tristan melangkahkan kakinya terlalu jauh dari pandangan Bintang. Satu ucapan akhirnya Bintang ucapkan yang sesaat langkah itu pun seketika terhenti.
"Aku mohon tolong kamu jangan tinggalkan aku lagi aku mohon! Aku hanya tidak tahu apa yang harus aku lakukan dengan kondisiku yang lemah ini, aku mohon jangan pergi! Jangan pergi!"
Mendengar akan ucapan itu langsung, langkahnya ia alihkan, membekap tubuh Wanitanya dalam pelukan hangatnya, keduanya nampak sama-sama menitihkan air matanya.
"Aku tahu aku juga mengerti dengan keadaan yang kamu rasakan saat ini, tapi kamu harus tahu kalau kamu tidak sendirian. Aku akan selalu ada disamping kamu, aku tidak perduli jika kondisi kamu seperti ini aku tidak perduli karena yang aku pikirkan sekarang aku hanya mencintaimu, aku tidak mau meninggalkan kamu dalam kondisi seperti ini tidak akan!"
Mata Bintang melebar saat tangan kekar
__ADS_1
Tristan menyentuh pipinya, dirinya lalu menghapus bulir demi buliran air mata yang menempel di pipi Wanitanya itu, senyuman manisnya terukir di wajah Bintang, walaupun hatinya masih terasa sakit, ia akan menahan rasa itu karena ia tahu Tristan sudah cukup berubah dan sangat berbeda dari Tristan yang sebelumnya.
BERSAMBUNG.