
Setelah Tristan masuk kedalam kamar mandi dan melakukan ritualnya, Bintang yang selangkah dirinya akan pergi, langkahnya terhenti setelah ia merasakan rasa aneh yang tiba-tiba muncul dari dalam kepalanya.
Wajah bintang seketika berubah memucat, bahkan darah yang seketika mengalir dari hidungnya telah menyadarkan Bintang untuk berhenti dari langkahnya.
Pandangannya mulai gelap, ia berusaha menatap kanan mau pun kiri tapi apa yang ia lihat hanyalah bayangan yang tidak cukup jelas dan hanya menyisakan pemandangan buram.
Tubuhnya yang seketika hampir roboh, ia berusaha menahannya dengan memegang tembok rumahnya.
Tapi apa yang ia lakukan nyatanya belum sepenuhnya berhasil untuk menahan tubuhnya untuk tidak roboh.
Bruak
Suara keras telah terdengar, bahkan suara itu sampai terdengar dari dalam kamar mandi dimana Tristan melakukan ritualnya.
"Suara apa itu? Kamu sedang berbuat ulah apa?"teriak Tristan tapi Bintang tidak menghiraukannya.
Bintang yang melihat darah segar keluar secara terus-menerus dari hidungnya membuatnya semakin cemas. Tristan yang tiba-tiba merasa ada yang ganjal, ia bergegas keluar dan mendapati Bintang yang sudah bersimpuh dilantai dengan hidung yang berlumuran banyak darah.
"Bintang apa yang terjadi denganmu kenapa kamu malah mimisan sebanyak ini kamu sakit?"tanya Tristan
__ADS_1
"Dia tidak boleh tau kalau aku sakit keras, jika dia sampai tau ini akan menjadi masalah besar,"batinnya yang segera ia pun bangkit dari tempat ia bersimpuh. Langkahnya yang akan pergi tapi dengan sigap Tristan menghalanginya.
"Aku bertanya apa kamu sakit?"tegas Tristan kemudian Bintang menepis tangan Tristan dan berlalu pergi dari hadapannya.
"Aku ingin sendiri jadi pergilah!"bentak Bintang yang langsung mendorong Tristan hinga terjatuh tersungkur. Masuk kedalam kamar mandi dan menguncinya dari dalam, tubuhnya lagi-lagi roboh berusaha ia ingin bangkit dari tempat duduknya berusaha apa ia melakukannya tindakannya itu sama sekali tidak membuahkan hasil.
Tiba-tiba mengerang sakit dengan sangat keras, Bintang tak henti-hentinya menekan erat kepalanya untuk bisa menenangkan rasa sakitnya ini. Mengambil handuk sebagai penahan rasa sakit untuk ia gunakan sebagai bahan menggigitnya, ia hanya bisa menahan sakit bersimpuh dalam tidak keberdayaan.
Berusaha Tristan menyuruh Bintang untuk keluar tapi tindakannya tak membuat Bintang untuk mau membukakannya. Mendengar sekali suara rintihan itu, ia malah semakin menunjukkan kecemasan akan kondisi yang tambah semakin mengerang kesakitan sejadi-jadinya, bahkan wajah pucat yang ia hasilkan membuat Bintang menjadi manusia tidak berdaya.
Kejang-kejang secara tidak terkendali membuat Tristan yang mendengarnya dengan langsung ia berusaha melakukan pendobrakan tapi tindakan itu sama sekali tidak berhasil.
Sekali ia ingin mencobanya, terlebih dulu Bintang keluar dari dalam sana dalam kondisi yang cukup sangat pucat.
"Bintang kamu baik-baik saja kan?"tanyanya yang nampak cemas.
"Apa kamu cemas melihat kondisiku seperti tadi?"tanya Bintang.
"Apa itu penting? Aku sungguh-sungguh cemas apa kamu tidak bisa membedakannya? Katakan apa yang terjadi dan kenapa kamu bisa meringis kesakitan seperti itu kamu sakit keras?"tanya Tristan.
__ADS_1
"Sakit keras atau pun tidak itu bukanlah urusanmu! Kamu bukanlah siapa-siapa-ku jadi untuk apa kamu harus perduli oh iya aku tau kamu kan hanya berpura-pura mencintaiku kan jadi baguslah dengan melihatmu khawatir itu sudah benar-benar menunjukkan kalau kamu memang benar-benar mencintaiku jadi sekarang siapa yang harus berhati-hati aku atau kamu? Tapi sudahlah itu sudahlah tidak penting aku ingin minum obat,"balasnya yang langsung menepis tangan Tristan lantaran menghalangi jalannya.
Melihat Bintang yang membuka tas ranselnya, mengeluarkan obat dari salah satu didalamnya dengan sigap Tristan merebutnya dan membaca apa isi tulisan dari obat itu.
"Sejak kapan kamu mempunyai riwayat lambung?"tanya Tristan.
"Untuk apa kamu masih bertanya bukankah kamu orang yang sudah membuatku jadi seperti ini sudah berikan!"ucapnya yang langsung merebut obat itu.
"Jika sakit yang kamu derita hanya riwayat lambung kenapa kamu sampai meringis kesakitan seperti tadi? Dan kenapa juga kamu menekan pada bagian kepalamu apa itu masuk akal?"tanya Tristan dengan wajah penasarannya.
"Akan lebih baik kamu jangan sok-sokan perduli padaku, hubungan kita hanya sebatas nikah kontrak dan usia pernikahan kita hanya menghitung dua bulan lagi bukankah itu sangatlah cepat? Jadi alangkah baiknya kamu jaga hati kamu baik-baik untuk jangan sampai mencintai-ku karena setelah ini aku akan terbebas dari siksaan Pria kejam seperti-mu dan soal uang? Tenanglah aku akan Menganti semuanya,"balasnya yang tanpa berkata ia segera pergi dari pandangannya.
"Apa maksud dia bilang kalau aku mencintainya? Apa dia tidak bisa berfikir dengan jernih dan membedakan mana yang peduli dan mana yang sok peduli. Tapi ngomong-ngomong apa yang terjadi dengannya kenapa dia bisa meringis kesakitan seperti tadi?"batinnya yang bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Tuhan sebenarnya cobaan apalagi yang engkau berikan kepada hamba ini? Hamba sudah melakukan berbagai cara untuk menyembuhkan Tumor dan Kanker yang hamba derita ini tapi kenapa sekarang kondisi hamba bukan malah membaik tapi kenapa kondisi Hamba malah sangat lemah. Dan mimisan tadi? Apa mimisan itu sudah menunjukkan jika kondisi Hamba semakin memburuk?"batin Bintang yang ingin sekali ia menitihkan air matanya.
Berada
BERSAMBUNG.
__ADS_1