ISTRI YANG TAK DIANGGAP

ISTRI YANG TAK DIANGGAP
S2 ( " 42 Ciuman bersama Pria yang sama " )


__ADS_3

Membaringkan tubuh Bagas diatas ranjang dengan kesadarannya yang masih belumlah pulih. Bagas terlihat mengoyak-ngoyak tubuhnya sendiri lantaran merasa kepanasan dirinya tak segan-segan hendak melepaskan pakaian yang menutupi tubuhnya sendiri. Bintang yang melihatnya dengan sigap ia langsung menghalanginya.


"Apa kamu udah gila? Jangan lakukan itu!" tegasnya yang tak sengaja malah menyentuh sesuatu yang dimiliki di-dada Bagas.


"Astaga apa yang barusan aku lakukan apa aku barusan menyentuh dada bidang itu?" gumamnya yang merasa risi.


"Astaga apa yang barusan aku katakan tadi kenapa aku bisa-bisanya sampai berkata seperti itu? Sudahlah mendingan aku mandi aja tubuhku beraroma 4lcohol," ucapnya yang kemudian ia yang hendak ingin pergi, tangan kekar bagas langsung menariknya dan akhirnya keduanya pun sama-sama jatuh tersungkur diatas ranjang secara bersamaan.


"Hay apa yang kamu lakukan bisa-bisanya kamu menarik seorang Wanita seperti ini apa kamu sudah gila? Lepaskan aku! Aku bukan istri kamu lepaskan aku!" bentak Bintang tapi Bagas yang mendengar ocehannya ia malah menertawakannya, menganggap jika seolah-olah orang yang ada disampingnya adalah Revi.


"Astaga aku lupa dia itu kerasukan alcohol apa mungkin karena ini dia bersikap seperti ini?"gumamnya yang hendak akan bangun, tapi bagas lagi-lagi menghalanginya.


"Aku bilang jangan pergi, ya jangan pergi apa kamu tidak dengar sayang?"ucapnya yang tidak mau melepaskan pelukan Bintang yang dikiranya Revi.


"Astaga gimana ini sekarang kenapa dia malah bersikap seperti ini padaku! Hay lepaskan aku bukan istri kamu sadarlah!"


Berusaha Bintang melepaskan pelukan Bagas, tapi ada daya pelukan itu tambah semakin erat dan membuat Bintang yang berada disisi Bagas pun tak bisa lagi untuk melakukan pemberontakan.


Disaat Gibran yang mulai pasrah akan keadaannya, tiba-tiba Bagas memandangnya dengan tatapan cukup serius bahkan pandangan keduanya hampir tersentuh akan batang hidung keduanya.


Bintang yang lagi-lagi berniat akan pergi, akan tetapi lagi-lagi langkahnya terhenti setelah Bagas yang dengan langsung menarik tangannya dan membuat tubuh Bintang lagi-lagi jatuh tepat dihadapan Bagas.


Bahkan kali ini Bagas benar-benar menindihnya, pandangan yang tidak bisa dihindari lagi-lagi membuat dua mata yang sama-sama berpandangan, saling bertautan itu pun tak bisa dihindari lagi.


Tersungkur ke belakang, hingga akhirnya bagas pun mendorongnya hingga benar-benar terbaring di atas ranjang. Memegang kedua pergelangan tangan Bintang, mengunci dengan tangannya. Bagas menatap wajah Bintang dengan bringas. Memperhatikan bibir manis yang berada tepat didepan pandangannya.

__ADS_1


Sedangkan cengkraman yang dilakukan Bagas yang semakin mempersulit Bintang untuk melarikan diri darinya, sedangkan bagas yang sudah menatapnya dengan tatapan berg4ir4h bibirnya yang hampir saja menyentuh lekuk lehernya. Dan pandangan Bagas yang semakin menjadi setelah ia memandang bibir Bintang yang sangatlah mungil.


"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu berniat ingin menodai ku?" tanya Bintang dengan ekspresi takutnya.


"Rev? Kenapa setega ini kamu membohongiku kenapa? Apa setelah 6 tahun lamanya aku memberikan semuanya ke kamu! Kamu sama sekali tak menganggap jika aku Suami kamu? Apa segitu bodoh dan tidak berharganya diriku untukmu? Apa aku harus membuktikan ke kamu dengan cara seperti ini agar aku benar-benar tulus mencintai kamu?"


Dengan memainkan bibir Bintang yang dikiranya Revi, Bagas dengan sentuhan tangan lembutnya seolah-olah sedang memainkan sesuatu. Bintang yang mulai was-was akan detak jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang tidak karuan, belum sempat Bintang menghindar akan tindakan yang Bagas di niat lakukan, Bagas seketika langsung *****4* bibir manis dihadapannya, kedua bibir tersebut akhirnya saling bercumbu mesra satu sama lain.


Bintang yang berusaha ia ingin melepaskan dua bibir manis yang sama-sama bermain. Bagas malah semakin menjadi dan terus ******* bibir tersebut hinga hampir tak terlihat.


Terbawa akan suasana lantaran Bintang yang mengira Bagas adalah Tristan, dirinya malah ikut menikmati ciuman hangat tersebut.


Tak lama kesadaran Bintang kembali sesaat Bagas yang dengan nakalnya langsung mengigit leher kanan Bintang yang membuatnya rintihan pun terdengar dari mulut Bintang.


Tak ingin sesuatu buruk terjadi dirinya seketika langsung menghempaskan dengan kasar tubuh Bagas dan mengakhiri semuanya.


Masuk kedalam kamar mandi menguncinya dari dalam, Bintang hanya terlihat pasrah ketika dirinya harus ikhlas jika malam ini ia harus tidur di dalam kamar mandi seperti ini.


"Dasar Pria gila! Tau-tau gini lebih baik aku tingal saja dia didalam club itu! Gara-gara dia aku harus mengungsi didalam kamar kecil seperti ini. Sekarang apa yang harus aku lakukan jika aku keluar mungkin sesuatu yang gak seharusnya terjadi akan benar-benar terjadi jadi daripada aku termakan akan rayuannya, lebih baik aku ngunci didalam kamar mandi seperti ini ini lebih baik kan?"


"Kenapa disini panas sekali?"


"Ya dia mulai gila lagi jangan bilang kalau dia bakal melepaskan semua pakaiannya?"ucapnya yang terus saja berkata dengan sendirinya.


Malam telah berganti dengan cepatnya, pagi yang cerah telah menampakkan hingga sinar cahaya terang kembali bersinar, seorang laki-laki yang telah tertidur dengan pulas-nya akhirnya telah terbangun setelah seorang Wanita datang membuka gorden dan menghasilkan pantulan cahaya yang menerangi terang ruangan ini.

__ADS_1


"Kamar siapa ini? Kenapa aku bisa ada disini?"ucapnya dengan mengusap matanya yang indah.


"Syukurlah kamu sudah sadar, berhubung kamu sudah sadar aku minta kamu sekarang pergi dari kamar ini?"ucap seseorang itu yang tak lain adalah Bintang.


"Nyonya? Apa yang sebenarnya terjadi kenapa aku bisa ada disini dan nyonya?"tanya Bagas yang masih bertanya-tanya.


"Apa kamu sungguh-sungguh tidak ingat akan yang barusan terjadi tadi malam? Apa kamu sungguh-sungguh tidak ingat hal yang kamu lakukan tadi malam?"tanya balik Bintang.


"Aku ingat tadi malam aku berada disebuah club, tapi sekarang aku bisa menetap disini itulah yang membuatku bingung apa yang barusan sebenarnya terjadi, kita sungguh-sungguh tidak berbuat masalah kan? Nyonya tidak mungkin mengambil kesempatan dalam kesempitan disaat aku sedang mabuk karena rupa tampanku sangatlah mirip dengan suami nyonya?"


"Sekarang aku tanya jika aku menodai-mu atau pun melakukan hal yang seperti kamu pikirkan sekarang ini apa kamu punya bukti? Atau gini apa kamu ada luka memar mau pun memerah pada wajah mau pun leher mau pun tubuh kamu tidak kan?"


"Dan ini? Apa kamu lihat ini?"ucap balik Bintang yang menunjukkan luka memerah pada leher sebelah kanan.


"Leher nyonya kenapa memerah siapa yang melakukannya?"tanya Bagas dengan wajah penasarannya.


"Kamu masih bisa tanya apa kamu gak ingat dengan apa yang barusan kita lakukan tadi malam? Maksudnya apa yang barusan kamu lakukan padaku tadi malam?"


"Memangnya apa yang sudah kita lakukan? Maksudnya apa yang sudah aku lakukan tadi malam bersamamu aku gak mungkin jadi penyebab leher kamu memerah kan?"tanya Bagas nampak malu dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Ingat, ingat sendiri apa yang barusan kamu lakukan padaku yang jelas aku tidak mau mengungkitnya lagi. Ini sudah jadi kasus pelecehan seksual terhadap seorang perempuan apa kamu paham! Aku tidak akan mengungkitnya lagi karena aku tau kamu terpengaruh minuman alcohol tapi saran aku jika kamu dapat masalah jangan membuat masalah jadi apalagi sampai bermabuk-mabukan karena itu bisa berakibat fatal paham!"


"Aku akui aku salah sekali lagi Maafkan aku! Maafkan aku!


"Aku sudah melupakan jadi cepat pergilah! Aku tunggu di perusahaan jadi cepat pergilah!"

__ADS_1


"Baik Nyonya.


BERSAMBUNG.


__ADS_2