
"Kenapa kamu membawaku kesini? ini Rumah siapa kamu gak lagi merencanakan sesuatu kan?"tanya Bintang nampak cemas ketika sadar kemana Richard membawanya sekarang.
"Kamu tenang aja aku bukanlah orang jahat yang seperti kamu pikirkan. Ini adalah kontarakanku jadi kamu bisa ngontak disini semau kamu, soal biaya kamu tenang aja aku gak minta kamu untuk bayar karena aku ikhlas membantu kamu. Dan ini kunci kontrakannya?"ucap Richard dengan wajah tulusnya.
"Tapi ini sudah sangat melebihi kamu selama ini sudah sangat baik kepadaku, jadi tidak seharusnya kamu membantuku sampai dengan cara seperti ini. Berapapun biayanya aku akan membayar karena aku tidak mau menyusahkan kamu. Apalagi kamu juga orang yang sudah membiayai biaya rumah sakit-ku jadi aku rasa semua itu sudah lebih dari cukup!"
"Baiklah kalau kamu sangat keberatan jika aku menggratiskan kamu, baiklah kamu boleh bayar semampu kamu dan aku juga gak akan menagihnya,"balas Richard.
"Baiklah, itu lebih bagus,"balas Bintang lagi.
"Ya sudah ini sudah malam beristirahatlah, maaf kalau aku tidak bisa membantu kamu buat merapikan semuanya. Ini udah malam dan tidak sepantasnya orang yang bukan muhrimnya kumpul dalam satu Rumah jadi kamu ngerti kan?"ucap Richard.
"Iya aku ngerti, memang kita bukan muhrimnya jika kita berduaan yang ada gosip akan terjadi nanti,"balas Bintang kemudian.
"Baiklah kalau kamu paham, ya sudah aku pamit pulang?"
"Baiklah berhati-hatilah."
"Permisi."
"Silahkan."
"Aku sama sekali masih belum paham dan belum percaya jika aku benar-benar menemukan orang sebaik dia. Sebenarnya hati orang itu terbuat dari apa kenapa dia sampai bisa punya hati sebaik itu," gumamnya yang kemudian ia pun membuka pintu kontrakan.
"Alhamdulilah akhirnya aku sekarang sudah dapat tempat tingal baru, jadi aku gak harus susah payah mencarinya sekarang!"
ucapnya yang kemudian ia yang hendak akan pergi tiba-tiba tubuhnya serasa sangat berat dan hampir saja Bintang terjatuh lantaran tubuhnya tiba-tiba melemah.
Bahkan darah segar tiba-tiba keluar dari lubang hidungnya sesekali ia mengusapnya dengan tissue, tapi darah terus keluar hingga membutuhkan banyak tissue untuk ia gunakan.
__ADS_1
"Hampir setiap hari aku mimisan, jadi sekarang sudah tidak ada waktu bagiku untuk bersenang-senang cepat atau lambat aku harus segera melakukan terapi agar penyebarannya melambat, tapi bagaimana caranya aku untuk melakukan terapi lagi jika uang yang dikasih Tristan semuanya sudah aku bayarkan ke dirinya. Bahkan dengan keputusanku meninggalkan Rumah itu aku rasa dia gak akan pernah mau memberiku uang, jadi secepatnya aku harus mencari pekerjaan karena hanya itu jalan satu-satunya bagiku untuk bertahan hidup," ucapnya yang kemudian seseorang pun mengetok pintunya.
Tok...Tok...Tok...
"Siapa itu?" tanya Bintang yang kemudian seseorang itu pun membalasnya.
"Ini aku Richard," balasnya yang kemudian Bintang pun segera keluar kembali.
"Ada apa? Apa ada yang tertinggal?
"Ini," balas Richard dengan menunjukkan sebuah ponsel yang tertinggal didalam mobilnya.
"Astaga itu kan ponselku?"ucap Bintang.
"Iya tadi kamu lupa tidak membawanya dan untungnya aku belum terlalu jauh jadi aku putuskan untuk kembali lagi.
"Sekali lagi terima kasih ya, terima kasih atas semua bantuan yang kamu berikan ke aku."
Melihat Richard yang begitu sangat baik dan perhatian akan dirinya, tiba-tiba ia pun teringat akan sosok Tristan yang memiliki sifat sangatlah berbeda dengan sikap perduli yang dimiliki oleh Richard.
"Coba aja Tristan itu sebaik Richard pasti aku akan sangat bahagia memiliki suami seperti dia," batinnya yang kemudian Richard pun bertanya.
"Bintang. Kamu kenapa? Apa kamu ada masalah?" tanya Richard yang membuat lamunan Bintang pun tersadar.
"Tidak, aku tidak ada apa-apa kok aku hanya saja lagi memikirkan sesuatu," balasnya yang kemudian Richard pun menimpali pembicaraannya.
"Memikirkan sesuatu apa?"tanya Richard.
"Oh iya apa aku boleh minta bantuan sama kamu?"tanya Bintang.
__ADS_1
"Bantuan? Bantuan apa?"tanya Richard.
"Apa kamu tidak punya teman yang lagi membutuhkan asisten rumah tangga?" tanya Bintang yang membuat Richard menaikkan alisnya.
"Asisten rumah tangga? Siapa yang kamu tawarkan untuk menjadi pembantu? Apa teman kamu?"tanya Richard.
"Sebenarnya bukanlah temanku, tapi lebih cocoknya buat aku sendiri. Aku ... Aku sangat membutuhkan pekerjaan jadi biar pun menjadi seorang asisten rumah tangga bagiku itu tidak masalah dengan senang hati aku mau menerimanya,"ucap Bintang.
"Tapi kenapa harus asisten rumah tangga, kan banyak pekerjaan yang cocok buat kamu tapi kenapa harus pekerjaan itu?"
"Aku hanya lulusan SMP jadi jika disuruh kerja kantoran apa itu akan masuk akal, tidak kan?"
"Siapa bilang, aku mau menerimamu jadi Sekretaris ku. Dan aku tidak masalah biar pun kamu hanyalah lulusan SMP sekalipun!"timpal Richard dengan sekejab.
"Tapi ...."
"Sudah jangan membangkang, besok aku akan menjemputmu jadi persiapkan diri kamu nanti,"ucap Richard.
Pagi yang cerah telah menampakkan sinarnya. bintang yang sudah sangat bersemangat ia pun terduduk disalah satu cermin riasnya sembari menyisir rambutnya secara perlahan. Akan tetapi belum juga ia selesai menyisir pandangannya dibuat terkejut setelah ia menyadari jika rambutnya mengalami kerontokan yang cukup parah.
"Perlahan-lahan semua telah meninggalkan aku mulai dari Papa, Mama dan sekarang rambutku! Jujur aku takut jika waktunya tiba nanti. Aku takut jika tidak akan lama tempat tinggal yang aku tempati akan berubah menjadi tanah yang berwarna cokelat yang dimana akan jadi tempat tinggal-ku selanjutnya. Sedangkan pakaian yang rapi, bagus dan berharga sangat tinggi akan berubah menjadi kain berwarna putih yang nantinya akan menyelimuti tubuhku, Tuhan aku mohon tolong kasih aku waktu agar aku bisa menjadi orang yang lebih baik dari sekarang. Karena hamba mu ini hanyalah manusia lemah yang tidak bisa melakukan apa-apa terkecuali hanya bisa meminta pertolongan kepadamu hamba mohon."
"Tapi wajahku terlihat sangatlah pucat kalau tidak memakai makeup tebal mau pun lipstik, jika aku berpenampilan seperti ini, orang-orang pasti bakal tahu kalau aku itu wanita penyakitan. Apa mulai sekarang aku ubah penampilanku saja agar wajah pucat ku ini tidaklah terlihat oleh orang-orang," batinnya yang kemudian ia pun mulai merias wajahnya.
Setelah selesai merias diri, Bintang akhirnya memutuskan keluar setelah ia sadar jika sedari tadi ia telah ditunggu oleh seseorang.
TOK...TOK...TOK...
Perlahan-lahan pintu pun mulai terbuka lebar, tampaklah langkah kaki dengan sepatu hak tinggi yang menyatu pada kaki putih yang sangatlah mulus. Merasa terkagum-kagum akan sosok itu, Richard akhirnya mulai menatapnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Setelah ia melihat pemandangan yang tampak sangatlah berbeda pandangan Richard tak henti-hentinya teralih. Mata yang terlihat mengedipkan sekali pun, bahkan mulut yang rasanya terkunci setelah Richard takjub akan penampilan baru Bintang yang membuatnya terlihat sangatlah berbeda dari Bintang yang sebelumnya.
__ADS_1
"Baiklah,"balas Bintang.
BERSAMBUNG.