
Setelah mendengar kabar jika pangeran kesayangannya masuk Rumah sakit karena habis saja terjatuh dari tangga, Bagas yang tadinya di Kantor dengan bergegas ia pun melajukan laju kendaraannya dengan kecepatan cukup tinggi lantaran pikiran yang sudah dipenuhi dengan kecemasan.
Tak menunggu waktu lebih lama. Akhirnya ia pun telah sampai juga di Rumah sakit Permata indah, mengetahui berapa nomor kamar rawat yang dipakai Putranya, ia lebih mudah menemukannya. Setelah masuk ia pun langsung memeluk Rasya yang pada saat itu sedang terbaring di atas brangkar dengan perban yang melilit kening Putranya.
"Sayang kamu gak kenapa-kenapa kan. Apa kamu merasakan sakit, mana yang sakit sayang?"tanya Bagas dengan pertanyaan bertubi-tubi.
"Ayah tenang saja Rasya baik-baik saja kok,"balas Rasya yang kemudian Bagas pun memeluknya lagi dengan sangat erat.
"Sayang, maafkan Ayah! Maafkan Ayah kalau Ayah tidak memperhatikanmu, maafkan Ayah?"ucap Bagas yang inggin rasanya ia menangis.
"Iya Yah,"balas Rasya yang tanpa banyak berkata.
"Suster gimana keadaan Putra saya dia gak ada luka yang serius kan, dia baik-baik saja kan?"tanya Bagas pada Suster yang sedari tadi disampingnya.
"Bapak tenang saja Putra anda baik-baik saja, dia hanya menggalami luka memar dan benturan kecil nanti juga akan sembuh dengan sendirinya,"balas Suster.
"Apa dia sudah boleh dibawa pulang?"tanya Gibran lagi.
"Iya Putra anda sudah boleh dibawa pulang.
"Maafkan saya Tuan, maafkan saya semua ini kesalahan saya, maafkan saya?"ucap Bibik yang terus-menerus berkata maaf sembari berlutut dilantai, yang akhirnya Bagas pun dengan segera langsung mendirikan Bibik kembali.
"Bibik jangan berkata seperti itu, saya tahu semua ini bukanlah kesalahan Bibik jadi Bibik jangan berkata seperti itu ya?"
"Baiklah kalau gitu saya akan mengurus semua biaya administrasinya. Setelah itu saya akan membawanya pulang, Bibik disini dulu ya jagain Rasya?"perintah Bagas, tapi belum juga ia sempat pergi Bibik terlebih dulu menghalanginya.
"Tuan?"
"Iya Bik?"balas Bagas.
"Untuk semua biaya administrasi tuan tidak perlu membayarnya lagi karena semua biaya sudah dibayar seorang Wanita tadi,"ucap Bibik.
"Seorang Wanita? Apa Nyonya Revi sempat kesini?"tanya Bagas.
"Bukan nyonya Revi tuan! Tapi seorang Wanita yang membantu sekaligus menolong saya pada saat membawa Aden Rasya ke-rumah sakit ini tadi?"
__ADS_1
"Siapa Wanita itu kenapa dia bisa sampai memiliki hati sebaik itu? Apa Bibik kenal dekat dengan seseorang itu?"tanya Bagas.
"Tadi pertama kali saya bertemu dengannya tuan, dia kelihatan Wanita yang sangat baik, Bibik rasa Wanita itu kenal sama Tuan atau mungkin dia teman Tuan makanya dia mau membayar biaya administrasi itu?"
"Aku bahkan tidak memiliki teman Wanita jadi mana mungkin Wanita yang Bibik maksud bisa sebaik itu membiayai biaya administrasi ini?"
"Rasya tau siapa Wanita yang membayar tadi Yah? Wanita itu Tante yang kemaren bertengkar sama Ayah di-taman,"ucap Rasya spontan.
"Wanita yang bertengkar dengan Ayah? Apa wanita gila itu dan apa maksudnya dia mau membiayai semua biaya ini? Darimana dia juga tau tempat tinggal-ku apa dia selama ini sengaja membuntuti-ku?"batinnya.
"Tuan tidak apa-apa?"tanya Bibik.
"Iya Bik saya tidak apa-apa,"balas Bagas.
"Oh iya Yah, dimana Mama? Kenapa Mama jam segini tidak pulang-pulang dimana Mama Yah?"tanya Rasya yang terus-menerus bertanya pada Ayahnya.
"Sayang Mama kamu sudah dewasa, nanti Mama juga akan pulang ya?"
Dyar....
Tiba-tiba suara pun terdengar keras dari ruang tamu, Bagas yang pada saat itu sedang menemani Rasya, ucapannya pun terhenti setelah Bagas mau pun Rasya yang mendengar suara keras yang terdengar dari luar ruangan ini.
"Ya Yah,"balas Rasya yang kemudian Bagas pun menyelimuti sebuah selimut untuk Rasya.
"Ampun Nyonya...ampun..saya ngaku kalau saya salah maafkan saya...maafkan saya.
Plak
"Tamparan itu memang pantas buat seseorang yang tidak berguna seperti anda."
"Ampun Nyonya ...Ampun!"tangis Bibik yang pecah dan sesekali Revi pun memberikan tamparan pada Bibik.
"Revi apa yang kamu lakukan, kenapa kamu menampar Bibik seperti itu. Apa kamu sudah gila dan kehilangan akal?"bentak Bagas yang langsung mendorong Revi dan berlalu membantu Bibik buat berdiri.
"Iya aku sengaja menampar pembantu tidak berguna ini. Karena dia sudah pantas mendapatkannya. Karena dia sudah buat Putraku terluka dan masuk ke Rumah sakit, jadi dia sudah sepantasnya menerima semua itu, jadi cepat pergilah karena aku tidak mau melihat muka kamu lagi cepat pergi!"perintah Revi dengan amarahnya yang keluar.
__ADS_1
Plak...
Tak tahan lagi, Bagas pun akhirnya memberikan satu tamparan buat Revi. Dan tangan yang tadinya ia tahan, kini tangan itu pun melayang dan tepat mengenai pipi Revi.
"Bagas apa yang kamu lakukan, kamu kenapa menamparku. Apa salahku?"tegas Revi dengan memegang pipinya.
"Bisa-bisanya kamu masih bisa bertanya apa kesalahan kamu, jika kamu berani menampar Bibik kenapa aku tidak bisa menamparmu. Darimana aja kamu kesibukan apa yang kamu perbuat sampai-sampai kamu tidak tahu kalau Putramu masuk ke Rumah sakit, kesibukan apa yang kamu lakukan?"bentak Bagas yang spontan membuat Revi pun seketika terdiam. Dan tidak berani berkata sepatah kata lagi.
"Kenapa kamu diam. Apa kamu inggin mencari alasan yang tepat untuk membodohi ku, sebagai seorang Mama harusnya kamu yang ada untuk menemani Rasya untuk bermain. Tapi apa yang kamu lakukan, kamu hanya bisa kelayapan terus pulang malam-malam. Dan disaat Rasya jatuh Sakit seperti ini kenapa kamu marah pada Bibik. Harusnya jika kamu inggin marah, marahlah pada diri kamu sendiri dan introspeksi diri kamu sendiri apa kamu sudahlah pantas Menjadi Seorang Mama bukannya hanya bisa memarahi tanpa alasan yang jelas.
"Maaf Bagas aku tidak tahu kalau Rasya masuk ke Rumah sakit karena seharian aku tidak menyalakan Ponsel.
"Jadi itu alasan kamu! Kamu buat membodohi-ku sekarang, gampang banget ya hidup kamu.
"Mama?"ucap Rasya yang hanya bisa terdiam melihat pertengkaran kedua orang tuanya.
"Sayang,"ucap Revi yang kemudian ia pun berlari menghampiri Rasya, akan tetapi Rasya malah mundur dan tidak mau mendapat pelukan dari Mamanya sendiri.
"Rasya kamu kenapa menghindari Mama, ini Mama sayang, ini Mama?"
"Ayah..Rasya tidak mau dipeluk sama Mama. Mama jahat! Mama tidak sayang sama Rasya jadi bawa Rasya masuk Pa...bawa Rasya masuk?"perintah Rasya yang kemudian ia pun menghampiri , dengan segera Bagas pun langsung mengangkat dan menggendongnya.
"Baik sayang, Ayah akan bawa kamu masuk.
"Sayang ini Mama..Mama yang melahirkan kamu, kenapa kamu tidak mau minta peluk sama Mama. Ada apa sayang?"
"Mama tidak sayang sama Rasya,yang Mama sayangi hanyalah diri Mama sendiri. ayah bawa masuk Rasya Yah."
"Iya sayang Yah akan membawamu masuk, sekarang kamu lihat kan Putramu sendiri aja sudah mulai bosan kepadamu, jadi sama halnya denganku aku juga bisa bosan karena harus hidup bersama Wanita sepertimu. Selama ini aku sudah cukup bersabar, tapi kali ini kamu sungguh-sungguh mengecewakan-ku Rev. Dan aku pertegaskan sekali lagi ke kamu, berubah lah jika kamu masih inggin aku masih mencintai kamu. Dan berubah lah agar aku tidak sampai tergoda akan Wanita lain. Karena jujur di dunia ini masih banyak Wanita yang lebih baik darimu, jadi itu yang hanya inggin aku pertegaskan ke kamu cepat berubah lah!"
Pergi dari pandangan Istrinya dengan perasaan kecewa, Revi yang mendengar akan curhatan yang diberikan suaminya sendiri dirinya nampak tak memikirkannya dengan serius. Dan lebih memilih untuk pergi dengan jalan yang dia pilih sendiri.
SEMBARI MENUNGGU LANJUTAN CERITA INI, ALANGKAH BAIKNYA SEMPATKAN JUGA UNTUK MAMPIR DISALAH SATU KARYA YANG TAK KALAH KEREN. DAN PASTINYA SETIAP EPISODE AKAN BIKIN JIWA KALIAN AKAN MERONTA-RONTA. YUK SINGGAH DULU DISINI
BERIKUT BLURNYA
__ADS_1
BERSAMBUNG.