ISTRI YANG TAK DIANGGAP

ISTRI YANG TAK DIANGGAP
S2 ( 24 " Sudah berani " )


__ADS_3

Kembali fokus pada beberapa lampiran laporan pekerjaan yang sudah saatnya untuk ia tanda tangani satu persatu, Bintang masih bersikap keras kepala menahan rasa sakitnya seorang diri, seakan-akan tidak perduli resiko besar yang akan terjadi jika sakit panas tidak segera ditangani.


Sedangkan Bagas yang hanya bisa terdiam tanpa bisa berbuat banyak, dirinya hanya bisa menatapnya dengan tatapan tak percaya.


"Baiklah jika itu sudah jadi keputusan Nyonya aku bisa apa? Aku ijin ke-toilet dulu!"


Seakan-akan tidak setuju akan perilaku yang ditunjukkannya, Bagas yang merasa kesal sendiri ia lebih memilih pergi ketimbang harus melihat kebodohan yang terpampang jelas dihadapannya.


"Apa segitu bodohnya dia? Ataukah dia segitu cintanya pada Pria bernama Tristan itu sehingga dia lebih memilih menahan semua ini ketimbang melepaskan rasa sakit dan tidak bisa mengikhlaskan akan kepergian suaminya yang sudah tiga tahun ini?"


Berjalan dengan berbicara seorang diri, seseorang akhirnya menghampiri dan mempertanyakan akan kewarasannya.


"Kamu kenapa? Apa yang membuat kamu jadi bicara sendiri?"


"Itu? Nyonya Bintang sedang demam apa disini tidak ada P3K? Aku ingin memberikan obat penurun demam?"


"Percuma! Percuma kamu memberikan obat penurun panas itu karena ujung-ujungnya juga Nyonya akan menolaknya!"


"Apa kamu juga termasuk salah satu seseorang yang sama sekali tidak perduli akan kondisinya? Kamu tau sendiri kan sakit panas jika tidak segera ditangani akan mengakibatkan tipes atau bisa mungkin yang lebih parah bisa lebih fatal dari itu?"


"Bukannya tidak perduli akan kondisi Nyonya? Tapi gimana kita mau perduli jika seseorang kita pedulikan sama sekali tidak perduli akan kondisinya sendiri?"


"Itulah Nyonya Bintang, aku akui dia memang sangatlah ceroboh karena lebih memilih menahan luka ketimbang harus mengakhiri semuanya, jadi kamu sebagai sekretaris barunya aku minta kamu selalu awasi dia, dia memang sedikit cuek dalam kondisi kesehatan, biar pun sakit panas sampai menyiksanya sekali pun, dia lebih memilih berdiam dari pada harus mengobatinya, berulang kali aku mencoba membujuknya tapi aku selalu gagal, jadi aku ingin kamu seseorang yang sangatlah mirip dengan Tuan Tristan aku minta kamu ubahlah pola hidupnya untuk lebih baik lagi terutama pada masalah kesehatannya ya sudah aku cabut dulu."

__ADS_1


"Jujur aku sama sekali tidak paham dengan semua ini?"


"Ini aku ada obat jadi minumlah!"


"Kamu memberikannya padaku?"


"Iya aku memberikan untuk Nyonya, aku tau nyonya sedang sakit panas dan mencoba menahannya jadi cepat minumlah obat penurun panas ini atau gak Nyonya ikutlah denganku ke Rumah sakit biar aku yang mengantar anda kesana!"


"Tidak perlu! Aku kan sudah katakan kalau aku sudah terbiasa sakit seperti ini tanpa harus berobat apa segitu sulitkah anda untuk menurut dan percaya padaku?"


"Yang berkata hanya mulut anda! Tapi hati dan perasaan dalam diri Nyonya jelas sangatlah berbeda. Aku tau Nyonya sedang menahan sakit ini tapi bukan seperti ini cara nyonya melakukannya bukan seperti ini! Jadi ayo ikut aku!"


"Aku bilang tidak mau apa kamu mau memaksaku?"


"Baiklah jika cara halus sulit untuk membujuk Nyonya, maka jangan salahkan aku kalau aku pakai cara kasar!"


Sedangkan Bagas yang tanpa aba-aba atau pun mengucapkan sepatah kata padanya, dia langsung merangkul tubuh Bintang dan membopongnya layaknya sedang menggendong akan barang dengan mudahnya.


Bintang yang tak percaya dengan apa yang dilakukan Bagas saat ini, dirinya beberapa kali memukul dada belakang Bagas untuk meminta diturunkan, tapi beberapa kali ia mengucapkan ucapannya bagaikan asap yang tertiup angin dengan mudahnya.


"Bagas turunkan aku apa kamu sudah gila Bagas turunkan aku!"


Mendengar suara teriakan dari Bintang yang terus saja memintanya untuk diturunkannya sama sekali tak mendapatkan respon balik pada Bagas, dan dia terus saja membopong tubuh Bintang untuk ia bawa pergi dari perusahaan ini.

__ADS_1


Sedangkan disisi lain banyak mata yang terpampang jelas sedang memperhatikan akan kedua orang yang menjadi pusat perhatian mereka. Suara sahutan beberapa kali terlintas jelas membahas tindakan apa yang barusan mereka lihat saat ini.


Memasukkan tubuh Bintang dari dalam mobil dan mengancamnya untuk jangan pergi, Bintang yang tidak bisa berbuat apa-apa dirinya hanya bisa terdiam.


"Apa maksud kamu apa kamu ingin memperlakukan aku dihadapan banyak orang? Apa kamu lupa aku ini atasan kamu apa segitu sulitkah kamu menurut sama apa ucapan aku?"


"Diam dan menurut-lah paham!"


Memasang sabuk pengaman Bintang yang belum dia pasangkan, Bagas yang mengambil alih langsung memasangnya dirinya tak sengaja berpapasan pada pandangan dimana keduanya terlihat sangatlah berdekatan.


Saling bertatapan muka dengan jarak yang sangatlah dekat, keduanya nampak tak terlihat berkedip dengan adanya jarak keduanya yang tingal beberapa senti jari.


"Biasakah kamu menjauh dariku?"ucap Bintang yang akhirnya keluar dari mulutnya, Bagas yang sadar dirinya lalu menjauh dari pandangannya.


"Aku peringatkan ke nyonya jika nyonya bertindak ingin kabur, saya akan bertindak lebih dari tadi paham!"


"Apa kamu mengancam-ku? Apa ada seorang sekretaris sekaligus Asisten yang berani mengancam pada bosnya?"


"Ada buktinya, aku ini berani!"


"Sudahlah pererat sabuk pengaman kamu agar nyonya bisa sampai ditempat tujuan dengan selamat!"


BERIKUT REKOMENDASI CERITA SERU

__ADS_1



BERSAMBUNG.


__ADS_2