
Pernikahan yang hanya dihadiri wali, Mamanya dan juga penghulu telah menjadi saksi akan pernikahan mereka.
Ijab kabul yang sudah terlaksana dengan sempurna telah menunjukkan jika keduanya telah sah menjadi sepasang Suami Istri, wajah bahagia terpancar dari keduanya tapi tidak dengan Wanita berkebaya putih yang hanya bisa meratapi nasibnya Suaminya menikahi Wanita lain, sedangkan disisi lain dia masih menjadi Istri syahnya.
Raut wajah kehancuran tidak bisa dihindarkan lagi dari raut wajah Bintang. Merasa hidupnya sama sekali tidak ada arti yang selalu dapat penghinaan dan penindasan dari keluarga laki-laki rasanya ingin sekali ia pergi dari dunia ini. Tapi jika ia mengalah jika akan kalah dengan penyakitnya, tapi jika dia tetap bertahan dia akan memilih siksaan batin yang pastinya sudah siap menjadi makanan kesehariannya.
"Selamat yang sayang akhirnya kalian berhasil menikah dengan diam-diam seperti ini selamat." Ucapan selamat yang selalu Wanita tua itu lontarkan, disisi lain ia sama sekali tidak perduli akan adanya wanita yang berselimut rasa sedihnya melihat semua kehancuran ini.
"Sayang malam ini menjadi malam pertama kita jadi bisakah kamu untuk malam ini aja kamu menemaniku dikamar kalian? Maksudnya dikamar kamu dan Bintang?"tanya Sandra dengan lirikannya mengarah kearah Bintang.
"Kenapa kamu malah meminta dikamar kita maksudnya dikamar ku bersama Bintang kan ada kamar lain lagi?"tanya Tristan.
"Iya sayang kamu kenapa malah memilih kamar itu? Itu kan bekas kamar gadis kampung ini dan Tristan juga tidak pernah tertidur disana jadi untuk apa kamu malah meminta disana kan ada kamar lain lagi sayang?"
"Gimana ya ngomongnya aku sengaja ingin memakai ranjang itu karena aku ingin tau apa Istri pertama kamu ini masih kuat menahan air matanya? Aku lihat sedari tadi ia nampak seperti menahan sesuatu jadi kayaknya rasa bahagiaku kurang puas jika aku belum melihatnya menangis melihat keromantisan kita jadi gimana? Kamu gak masalah kan?"tanya Sandra.
"Jika kamu ingin melihat air mataku jatuh? Maaf kayaknya impian anda tidak akan pernah berhasil. Dan satu lagi jika anda ingin memakai kamarku sebagai malam pertama kalian baiklah pakai saja lagian aku gak masalah, aku bakal membersihkannya tunggu!"
tanpa berkata sepatah kata lagi, Bintang segera masuk kedalam kamar yang bermotif putih tersebut. Ruangan yang sangat ia impian menjadi tempat bersaksinya akan hubungan antara Bintang dan Tristan kini impian itu seketika pupus sudah.
__ADS_1
Hanya bisa meratapi nasibnya memandangi ranjang yang akan jadi saksi akan hubungan Sandra dan Tristan, air matanya ia tahan agar tidak menunjukkan akan kelemahannya pada mereka, langkahnya yang berniat akan pergi Bintang tiba-tiba ingat akan sesuatu yang ia bawanya.
"Ponsel? Kenapa sekarang aku malah jadi kepikiran ponsel yang aku genggam ini?"gumamnya sembari melirik kearah ranjang yang berada dihadapannya.
"Ingat Bintang kamu jangan sampai punya pikiran kotor seperti itu jangan! Tapi jika aku tidak melakukannya aku akan semakin kalah dari mereka jadi aku harus melakukannya ia aku harus melakukannya."
Mendekati nakas tepat dihadapan ranjangnya, Bintang menekan mode anti suara, menyetel layar video secara langsung lalu berdiri ponselnya ia taruh dibelakang sesuatu yang tak terlihat akan pandangan seseorang.
"Kamu berani mengkhianati-ku maka itu artinya jangan salahkan aku kalau aku juga berani mengkhianati-mu juga. Ini hanya akan jadi bumerang untukmu jika sewaktu-waktu kamu mengancam-ku jadi sekarang deal kan?"ucapnya dengan senyuman sinis yang terukir dari wajahnya.
"Aku sudah membereskan semuanya jadi terserah apa yang ingin kalian lakukan sekaran. Sebagai gantinya kamu bisa kan kasih aku kunci dari kamar lain?"tanya Bintang nampak biasa-biasa saja tanpa adanya air mata yang dipikirkan oleh Sandra.
"Kamu masih bisa bersikap biasa-biasa aja melihat suami kamu berniat akan melakukan malam pertama dengan Wanita lain? Kamu tidak ingin nangis atau apa?"tanya Sandra dengan terheran.
"Masa bodoh!"balas Bintang yang tak mau perduli, ia berlalu pergi dari pandangan ketiganya.
"Itu anak benar-benar kuat banget ya mentalnya? Dia sama sekali tidak merasa cemburu akan hubungan kita saat ini, bahkan kita menunjukkannya langsung tepat dihadapannya apa dia sekuat itu?"
"Sudahlah lupakan saja dia, sikapnya juga tidak menghentikan niatku untuk melakukan malam indah ini bersamamu jadi ayo kita mulai,"ajaknya yang langsung menarik tangan Sandra masuk kedalam kamar.
__ADS_1
"Kira-kira seperti apa ya tanggapan dari Tristan dan juga Wanitanya itu kalau mereka tau malam pertama mereka akan terekam dengan jelas pada ponselku?"batinnya yang hanya bisa tersenyum sinis kearah mereka tanpa mereka sadari.
Sedangkan Mamanya yang hanya sendirian didepan pintu ia berlalu menghampiri Bintang.
"Kamu kenapa berada didekat sini apa kamu berharap kamu akan tidur dikamar ini?"
"Maksud Mama apa bukankah kamar ini memang kamar yang ditujukan Tristan tadi?"
"Sudahlah ini ambil kuncinya, kamu tidur dikamar pembantu karena itu kamar yang tepat untukmu jadi cepat pergilah!"
"Tapi Ma?"
"Apa kamu masih ingin membangkang lagi? Kamu ingin tidur diluar?"tanya Mamanya dengan tegas.
"Baiklah Ma,"balasnya yang dengan pasrah ia mengambil kunci yang diberikannya.
Pancuran shower air yang sedari tadi terus menerus mengalir tanpa henti. Dan menguyur tubuh Bintang dari atas ujung kepala, sampai ujung kaki, hingga sekujur tubuhnya yang seketika membuat tubuhnya menjadi basah kuyup, dan hal itu tidak membuatnya untuk bangkit lantaran air yang cukup sangat dingin ketika menguyur tubuhnya.
Berharap hidupnya akan menjadi lebih baik setelah ia menikah dengan laki-laki itu, kini harapannya seketika musnah setelah ia sadar dan mengetahui jika dirinya hanyalah menjadi beban dari pelampiasannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.