ISTRI YANG TAK DIANGGAP

ISTRI YANG TAK DIANGGAP
53 " Mulai ada tanda-tanda"


__ADS_3

Setelah membutuhkan waktu sekitar 1 sampai 5 jam perjalanan menuju ke-kota Bandung akhirnya Bintang dan juga Tristan telah di-tiba disalah satu hotel termegah di Bandung.


Suasana yang sangat sejuk, iringi dengan semua fasilitas sangat megah dan mewah pandangan Bintang tak henti-hentinya berpaling dari semua pemandangan yang sudah ada didepan matanya ini.


Tristan yang sedang mengambil kunci kamar hotel Bintang dikejutkan dengan ucapan Tristan yang menyebut hanya menyewa satu kamar.


"Tunggu satu kamar? Kenapa harus satu kamar?"timpal Bintang beralih pandangan Tristan melirik kearahnya.


"Maksud kamu apa? Apa kamu kira aku akan menyewa dua kamar apa itu tidak pemborosan namanya, ini hotel megah semua fasilitas disini lengkap apa kamu pikir tidak mahal menyewa dua kamar. Dan yang terakhir kita sudah jadi sepasang suami-istri apa harus kita pisah ranjang disaat hubungan kita baik-baik saja?"tanya Tristan.


" Maaf berapa kamar yang ingin anda sewa? Berhubung kamar disini masih ada yang kosong jadi tidak masalah jika kalian ingin menyewanya lagi?"ungkap seseorang itu


"Tidak mbk, apa yang saya katakan barusan tadi ya itu yang sesungguhnya, saya hanya menyewa satu kamar jadi jangan didengarkan apa kata Istri saya ini?"bantah Tristan.


"Baiklah kalau gitu ini kuncinya,"ucap seseorang itu sembari memberikan kunci itu pada Tristan.


"Baiklah terima kasih,"balas Tristan.


"Sama-sama,"balasnya hanya menundukkan kepalanya.


"Jika kamu memang keberatan untuk menyewa dua kamar kenapa kita tidak pindah hotel lain saja? Disini sangatlah mahal yang ada itu malah jadi pemborosan jadi alangkah baiknya kita pindah hotel lain itu lebih baik," jelas bintang.


"Maksud kamu? Kamu ingin kita pindah hotel terus gimana reaksi rekan bisnis-ku kalau mereka tau aku hanya mampu menyewa hotel murahan? Apalagi aku ini seorang Bos besar gimana reaksi mereka nanti?"timpal Tristan dengan tegas.


"Jadi maksud kamu? Kamu malu jika orang-orang tahu kamu hanya mampu memboking hotel murahan baiklah terserah kamu kamu ingin gimana? Kamu ingin melakukan apa aku tidak perduli lagi,"timpal bintang yang merasa kesal yang kemudian dirinya pun pergi terlebih dulu dari Tristan.

__ADS_1


Tristan yang tidak memperdulikan ocehan Bintang, ia pun kembali melanjutkan langkahnya. Tak lama keduanya akhirnya tiba disalah satu depan pintu kamar, membuka kunci dan masuk kedalamnya.


"Akhirnya kita telah sampai juga,"ucap Tristan yang kemudian ia pun merebahkan tubuhnya diatas ranjang Putih tersebut.


"Aku lagi males berdebat apalagi meributkan hanya masalah hotel jadi pergilah aku ingin tidur. Kamu seorang laki-laki jadi alangkah baiknya kamu mengalah dari Wanita jadi akan lebih baik kamu tidur di sofa biar aku yang tidur di-ranjang cepat pergilah!"usirnya dengan tegas.


"Tidak. Aku tidak mau aku sudah membayar mahal-mahal apa mungkin dengan mudahnya aku pergi dan hanya tidur di-ranjang? Dan satu lagi kita sudah menjadi sepasang Suami-istri apa salah jika kita tidur satu ranjang?"tanya Tristan.


"Baiklah aku akan mengalah karena aku lagi males untuk berdebat jadi sini selimut itu?"timpal Bintang yang nampak capek.


"Selimut untuk apa?"tanya Tristan.


"Kamu sudah berhasil mendapatkan ranjang itu jadi gantinya aku yang memakai selimut itu jadi sini?"ucap Bintang dengan menodongkan tangannya.


"Baiklah mumpung aku masih baik jadi terimalah ini," ucapnya dengan melemparkan bantal kepada Bintang.


Jam yang sudah menunjukkan pukul 00:00 malam waktunya bagi orang-orang untuk mengistirahatkan tubuhnya setelah seharian melakukan aktifitasnya.


Sedangkan Tistan yang berusaha untuk bisa tertidur, tapi entah apa yang membuat dirinya tambah sulit untuk memejamkan matanya kembali. Dan tiba-tiba bayangan nama Bintang pun terus menerus terlintas dalam pikirannya.


Memandang Bintang yang tertidur disamping ranjang yang ia tempati, pandangannya akhirnya teralihkan pada wanita muda yang nampak sangatlah cantik ketika tertidur menghadap kesamping, melihat Wanita itu terlihat kedinginan entah apa yang ada didalam hatinya merasa tidak tenang.


Akhirnya ia pun memutuskan untuk terbangun dari tempat tidurnya. Dan membawa sebuah selimut lagi yang kemudian dia pun berjalan menuju ke-sofa dimana Bintang tidur disana.


"Dia rupanya tidurnya sangat nyenyak, baiklah biar aku sendiri yang memasang selimut untuknya" ucap Tristan yang kemudian tanpa berfikir dengan apa yang dia lakukan saat ini, dia pun memasangkan selimut ini untuk menutup tubuh Bintang agar tidak keinginan, ataupun diganggu sama si nyamuk.

__ADS_1


Merasa jika ada seseorang disampingnya, Bintang yang belum sepenuhnya tertidur, ia pun seketika bangun. Dan mengagetkan Tristan yang dimana ia sedang memasangkan selimut untuknya.


"Apa yang kamu lakukan?" ucap Bintang secara tiba-tiba , spontan Tristan yang didepannya pun terkejut tidak main


"Astaga kamu ngagetin aku?" balas yang terkejut.


"Apa kamu khawatir sama aku?"tanya Bintang.


"Hhh kawatir, ya enggaklah gila kali, kamu jangan GR aku memasangkan selimut ini ke kamu. Karena ... Karena ... Hanya sebatas rasa kasihan itu saja. Dan ti ... Tidak lebih ataupun kurang apa kamu mengerti?" balas Tristan yang kemudian dia pun pergi, karena merasa dirinya agak canggung ia lantas kembali diatas ranjangnya.


"Kenapa dengan dia, kenapa dia malah canggung gitu setelah memasangkan selimut ini aneh! Tunggu? Apa ini kode sekaligus tanda jika dia sudah mulai mencintai-ku?"batinnya segera ia pun bangkit dari tempat ia tertidur tadi dan membaringkan tubuhnya tepat disamping Tristan.


"Kamu? Apa yang ingin kamu lakukan kenapa kamu malah membaringkan tubuhmu disini?"tanya Tristan.


"Aku sudah ngantuk aku ingin tidur jadi selamat malam,"balasnya yang tanpa berkata dirinya langsung membaringkan tubuhnya kembali.


"Baiklah kali ini aku akan diam jadi selamat malam," balasnya.


Pagi yang cerah telah terlihat telah menampakkan sinarnya hinga menembus gorden jendela. Disalah satu ranjang yang ditempati Bintang mau pun Tristan keduanya nampak mesra berpelukan tanpa mereka sadari.


Sedangkan Tristan yang perlahan-lahan mulai menggerakkan badannya, sekaligus membuka matanya dia merasa seperti ada yang memeluk tubuhnya itu.


Membuka matanya secara perlahan sambil mengumpulkan sedikit nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, dirinya hampir saja menabok seseorang itu saking kagetnya ia menyadari jika masih ada Bintang yang tertidur menghadapnya sambil memeluk pinggangnya dengan cukup erat.


Tristan mencoba untuk melepaskan pelukan itu dengan berhati-hati. Akan tetapi kenapa tiba-tiba jantungnya berdegup kencang dan ini membuatnya sangat tidaklah nyaman ketika menghadap dan memandang sesosok Wanita cantik yang sudah ada dihadapannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2