
"Sekarang hubunganku bersama dengan Bagas terlihat mulai lengket, apalagi mengetahui Revi hamil aku rasa ini akan sangat memberikan pengaruh buruk pada hubungan mereka apa sekarang ini aku harus mengakhiri semuanya? Apa inilah saatnya aku memecat Bagas sebagai sekretaris ku, benar yang dikatakan Andra jika memandang terus wajahnya akan sangat susah membuatku untuk bisa melupakan Tristan tapi apa mungkin cara ini tepat untuk aku lakukan?"
Duduk di-kursi kuasanya. Tak lama langkah kaki seseorang mulai datang dan membuka pintu ruangan ini. Awalnya Bintang biasa saja akan tetapi setelah ia tahu siapa seseorang yang datang. Tatapannya tidak bisa teralihkan. Bahkan raut amarahnya terlihat sedikit takut, mengingat akan kejadian tadi malam membuatnya selalu terbayang-bayang akan kejadian tersebut.
"Dia memang sangatlah mirip dengan Tristan, awal bertemu dengannya aku juga tidak merasakan apa-apa, tapi kenapa setelah kejadian tadi malam hatiku jadi berdetak kencang seperti ini? Apa yang terjadi apa aku sungguh-sungguh merasakan getaran cinta ini lagi?"batinnya yang terus saja tatapan Bintang memandang Bagas.
"Ada apa dengan Nyonya? Apa nyonya ada masalah dengan saya setelah kejadian tadi malam?"tanya Andra yang terlihat malu untuk mempertanyakannya.
"Apa seperti ini cara kamu berhadapan dengan atasan kamu? Apa kamu tidak ada takut-takutnya sama saya yang jelas-jelas saya ini adalah atasan kamu?"bentaknya yang seketika mengerutkan kening Bagas.
"Maaf Nyonya apa maksud nyonya berkata seperti itu saya tidak mengerti!"
"Kenapa kamu hanya bengong, jika kamu tidak ada niatan buat kerja keluar saja dari ruangan ini lagian disini masih banyak orang yang ingin kerja disini cepat pergi!"
"Maaf nyonya saya akui saya salah, maafkan saya! Tapi jika harus pergi maaf saya tidak bisa melakukannya,"ucapnya yang akhirnya menduduki tempat duduk semula.
"Jangan membalas saya apa yang barusan saya katakan! Saya paling tidak suka sama orang yang tidak ada niatan untuk kerja. Jadi jika kamu bosan kamu bisa pergi karena pintu akan selalu terbuka lebar untuk orang seperti-mu," bentaknya tanpa berkata Bintang pun pergi. Tak lupa dobrakan pintu telah terdengar akibat ulah Bintang yang menutupnya dengan emosinya yang menggebu-gebu.
"Ada apa dengan orang itu? Aku hanya tanya baik-baik kenapa dia seperti macan yang lagi mengamuk? Apa dia lagi datang bulan makanya emosinya tidak terkontrol seperti ini?"gumamnya yang merasa bingung sendiri, dengan menggaruk kepalanya yang tak ada kutunya.
__ADS_1
Berada dalam tempat cuci muka, Bintang membasuh wajahnya mengunakan air mengalir, mengingat akan ucapan yang barusan dikatakan malah membuatnya seperti seseorang yang lagi kena gangguan kejiwaan.
"Bintang ... Bintang ... Apa kamu udah gila! Apa yang barusan kamu katakan tadi kenapa kamu bisa memarahinya tanpa alasan yang pada gila! Kamu sudah sangat gila!"
Kembali keruangan yang hanya ada dirinya dan juga Bagas, Bintang yang kemudian duduk di-kursinya sesekali ia menatap kearah Bagas yang hanya terdiam mematung setelah dirinya memarahinya tanpa alasan yang pas.
"Kamu?"ucap Bintang beralih, Bagas yang tadinya fokus pada laptopnya pun sekejap menatapnya.
"Nyonya manggil saya?"ucap balik Bagas dengan menunjuk kearahnya sendiri.
"Memangnya disini ada berapa orang? Kalau ada orang banyak jelas aku tidak memanggilmu!"balasnya dengan nada kasar.
"Nyonya apa ada masalah yang barusan terjadi? Maksudnya Nyonya gak habis mengalami kecelakaan yang akhirnya otak nyonya jadi geser kan?"tanya Bagas yang sedikit meledek.
"Bukan! Bukan maksud saya ingin mengatai nyonya tapi saya sedikit bingung dengan perubahan nyonya saat ini. Atau mungkin perubahan nyonya karena adanya kejadian malam kemaren?"tanya Bagas yang seketika membuat kening Bintang mengkerut.
"Diam! Jangan mengungkit masalah itu lagi, kamu itu jangan terlalu berharap biarpun wajah kamu itu sangatlah mirip dengan mantan Suami saya. Saya lihat kamu sudah mulai berani sama saya jadi malam ini saya putuskan kamu untuk kerja lembur. Kamu baru boleh pulang kalau sudah berhasil menyelesaikan semuanya paham!"
"Lembur? Kok gitu aku kan tidak berbuat salah, aku juga selalu menjalankan tugas yang nyonya berikan kenapa nyonya malah memberikan aku hukuman seberat itu apalagi sampai lembur?"ucapnya yang merasa keberatan.
__ADS_1
"Kamu berani membantah!"tegas Bintang baik.
"Maaf! Tidak nyonya.
"Baguslah!"
Menyerahkan beberapa berkas yang bertumpuk lalu ia taruh tepat diatas meja kerja Bagas. Bagas yang melihatnya terlihat tak berkedip, bahkan sesekali ia menelan air lud4hnya menyadari jika berkas yang diberikannya sangatlah banyak ketimbang apa yang dipikirkannya.
"Ini nyonya serius memberikan semua ini pada saya? Nyonya menyuruh ku lembur sampai malam hanya untuk mengerjakan semua pekerjaan ini?"tanyanya dengan wajah tak percaya.
"Iya kenapa? Apa kamu merasa jika semua berkas ini sangatlah kurang? Jika kamu masih ingin menambahnya lagi aku bisa kasih kamu lebih dari ini?"
"Jangan! Ini sudah lebih dari cukup jadi nyonya jangan berikan tambahan lagi cukup!"
"Baiklah kalau kamu paham, sebelum aku kembali dan memeriksa kamu langsung aku ingin kamu selesai mengerjakan semuanya paham kan!"
"Baik Nyonya saya paham!"
"Baiklah mari kerjakan!"
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa dengan Nyonya ini? Kenapa dia tiba-tiba memberikan aku hukuman yang cukup berat? Biasanya dia tidak sampai seperti ini tapi kenapa kali ini dia terlihat sangatlah berbeda dari biasanya?"batin Bagas yang bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
BERSAMBUNG.