
Kayla yang mengejar Nathan yang pergi begitu saja dari kantin, ia berlari dengan napas terengah-engah karena Nathan yang berjalan begitu cepat dan tentu saja kayla tau dimana Kevin berada karena ia yang sering ngobrol bersama dengan Nathan.
“Kak Nathan”ucap kayla yang melihat Nathan tengah duduk di taman tempat biasa mereka berbicara.
“Kayla”ucap Nathan yang melihat ke arahnya kayla dimana kayla yang berkeringat dengan nafas yang tidak beraturan.
“Kak Nathan kenapa pergi?”tanya kayla lalu duduk di sampingnya Nathan.
“Enggak”ucap Nathan dengan simpel nya.
“Kayla tau apa yang kak Nathan rasakan dan kayla pikir kak Nathan harus bisa merasakan bagaimana perasaan kak Nathan sesungguhnya”ucap kayla yang mencoba mengajak Nathan berbicara agar lebih terbuka.
“Tapi kak Nathan masih bingung dengan hati ini”ucap Nathan yang memang masih plin plan apakah ia menyukai Lisa atau sebatas ia tak menyukai saat Lisa yang bersama dengan laki-laki lain.
“Kalau menurut kayla, hal yang kakak lakuin tadi itu bukti kakak cemburu ada laki-laki yang mendekati Lisa”ucap kayla yang memang ia dapat membedakan antara cemburu dan tidak cemburu.
“Tapi gue gak cemburu kayla”ucap Nathan yang memang gengsi untuk mengucapkan kalimat itu apalagi ia yang sangat sering menolak Lisa agar pergi dari hidupnya.
“Bohong, ingat berbohong itu gak baik kak”ucap kayla yang mencoba mengejek Nathan, tapi sayang seribu sayang saat mereka tengah adik berbicara bel tanda masuk pun telah berbunyi.
“Itu udah bel bunyi, masuk sana”ucap Nathan bel terdengar di waktu yang tepat sehingga ia yang tidak perlu menjawab pertanyaan dari kayla yang terus bertanya.
“Yah, Yaudah kayla masuk dulu”ucap kayla sambil berlari meninggalkan Nathan sendirian dan ia kembali untuk ke kelasnya masalah berbicara dengan Nathan dapat ia lakukan lain kali.
Kayla yang sudah sampai di kelasnya dengan temannya yang sudah menunggu dan penasaran apa yang ia bicarakan bersama dengan Nathan.
“Gimana?”tanya Stefanie penasaran ingin mengetahui lebih lanjut tentang ucapan Nathan tadi saat di kantin.
“Keburu bel jadinya gak bisa bicara panjang lebar”ucap kayla menghela napasnya.
“Yah padahal kita udah nungguin”ucap stefanie yang merasa kecewa karena tidak tau kelanjutan dari hubungan Lisa dan Nathan padahal ia sangat bahagia apabila Nathan dan Lisa setidaknya hanya dia yang mempunyai cinta bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
“Emangnya ada apa sama kak Nathan?”tanya Rizky yang memang tidak tau tentang kejadian tadi karena ia yang sibuk mencari mangsa baru.
“Udahlah gak usah di bahas”ucap Lisa yang enggan untuk membicarakan itu karena ia yang takut akan sakit hati dan takut juga kalau itu hanya bercanda Nathan saja.
“Iya udah aja jangan di bahas”ucap kayla menyudahi pembicaraan mereka karena enggan membuat Lisa sakit hati lagi.
Dan tak lama guru pun datang dan mereka pun belajar kembali walaupun hati Lisa yang masih ingin tau dengan ucapan Nathan apakah Nathan mencintainya, apakah Nathan membuka hati untuknya tapi Lisa juga tak ingin banyak berharap karena ketika kita berharap untuk hal yang tidak pasti kedepannya akan menyakitkan dan lebih baik kita berusaha ikhlas dengan apa yang akan terjadi.
**
Sedangkan Nathan masih bingung dan duduk di taman belakang sekolah ia masih berpikir ada apa dengan dirinya yang merasa marah saat Lisa yang di dekati oleh laki-laki lain padahal ia tau bahwa dirinya tidak mencintai Lisa.
Ia masih termengung dan dari pada ia memikirkan yang aneh-aneh lebih baik ia pulang ke rumah untuk menjernihkan pikirannya yang sumpek.
Nathan berjalan melewati koridor-koridor sekolah yang tampak sepi karena siswa yang sedang belajar dan ia melihat sekeliling sekolah yang sudah bersamanya selama tiga tahun pahit manis kehidupan sekolahnya apalagi kebersamaan nya bersama dengan sabahatnya.
Sampai di parkiran teman-temannya sudah berada di sana dan tengah duduk menunggunya karena mereka tau Nathan belum pulang karena motornya yang masih terparkir rapi.
“Taman belakang”jawab Nathan dengan singkat dan ia menaiki motornya hendak pulang.
“Kemana lo Nath?”tanya Ervan mengahampiri Nathan dan Kevin dan ia heran mengapa Nathan yang terburu-buru pulang.
“Pulang”ucap Nathan dengan singkat.
“Tumben lo pulang duluan”ucap edwar yang biasanya Nathan tidak pernah pulang duluan dan mereka yang selalu pulang bersama-sama.
“Disuruh ibu gue”ucap Nathan berbohong padahal ia yang ingin menghindari mereka karena ia yakin sahabatnya akan bertanya yang lainnya.
Nathan melajukan motornya meninggalkan sahabatnya yang tengah berdiri dengan herannya karena tidak seperti biasanya Nathan seperti ini.
“Kenapa dia aneh?”tanya edwar tak kala melihat kepergian Nathan.
__ADS_1
“Takut di interogasi”ucap Kevin
Dan tak lama telpon Kevin berdering dan terdapat nomor ibunya.
“Iya mah”ucap Kevin saat mengangkat telpon dari ibunya.
“Kamu pulang dulu Vin, ada urusan penting”ucap Bu liliana iya sengaja menyuruh Kevin pulang agar tidak ada waktu bersama dengan kayla.
“Tapi mah Kevin nunggu dulu kayla”ucap Kevin yang memang ia sengaja menunggu agar ia bisa pulang bersama dengan kayla.
“Pulang dulu aja Vin, ini urusan sangat penting”ucap Bu liliana memaksa sang anak untuk pulang.
“Yaudah deh mah, Kevin pulang”ucap Kevin tak kala mematikan teleponnya.
“Kenapa Vin?”tanya Ervan setelah Kevin menutup telponnya dengan bernapas kasar.
“Nyokap gue nyuruh pulang”ucap Kevin.
“Yaudah lo balik aja, lagian kan udah pulang Ini”ucap edwar yang memang mereka sudah pulang dan begitu pun dengan siswa kelas XII yang lainnya sudah pulang.
“Tapi kayla pulang gimana?”tanya Kevin bingung bagaimana kayla akan pulang.
“Santai aja, kayla sama gue”ucap Ervan yang memang ia menunggu kayla dan Lisa sedangkan Nasya sudah pulang lebih dahulu.
“Tapi gue takut aja”ucap Kevin yang khawatir akan kayla.
“Santai aja gue juga kakaknya pasti jaga dia, lo pulang aja dari pada orang tua lo ngamuk”ucap Ervan yang tau bahwa orang tua Kevin dengan tempramental yang kurang baik seperti dengan Kevin.
“Oke gue pulang”ucap Kevin menaiki motornya lalu melakukannya menuju ke rumahnya.
Dan sekarang hanya ada Ervan dan edwar yang senantiasa menunggu di parkiran.
__ADS_1
“Van kalau lo mau pulang, pulang aja”ucap edwar menyuruh Ervan untuk pulang karena ia bisa sendirian menunggu stefanie dan teman-temannya pulang, apalagi ia yang tidak tega melihat Ervan yang sedari tadi hanya menguap karena ia yang terlalu bekerja keras dalam ujian dan bersiap untuk kuliah.