
Kayla yang pulang bersama dengan Lisa, Nathan dan kakaknya walaupun mereka yang masih terdiam apalagi kayla yang bingung harus berbicara bagaimana dengan Ervan agar Ervan mau menikah dengan nasya.
Mereka yang sudah sampai di rumah dan kebetulan waktu sudah sore dan kedua orang tuanya juga sudah pulang bekerja serta Arsen yang menunggu sang ibu pulang bersama dengan kayla juga.
“Bunda dari mana aja Arsen kangen”ucap Arsen yang cemberut karena Lisa meninggalkannya di rumah bersama dengan pengasuh saja.
“Mamah ada urusan sayang”ucap lusa sambil memeluk sang anak yang sudah menunggunya.
“Urusan apa kok datang barengan sih?”tanya Arsen karena melihat semua orang datang serentak.
“Iya kalian dari mana? Datang barengan?”tanya bu wulan menghampiri anak dan menantunya itu.
“Kita Abis kumpul mah sama temen”ucap kayla menjelaskan.
“Maafin papah yah sayang. Sekarang main sama papah”ucap Nathan sambil memeluk sang anak yang menunggunya dengan tatapan yang kesal.
“Kalian udah punya anak masih aja pergi seenaknya kasihan Arsen. Harusnya salah satu orang yang pergi kalau memamg bukan hal yang penting, kalau cuman kumpul kan bisa di rumah juga”ucap bu wulan uang kesal karena anaknya dan menantunya yang malah nongkrong gak jelas sedangkan sang cucu bersama dengan pengasuh.
“Mah Lisa cuman pengen kumpul bebas aja, lagian kan ada pengasuh juga”ucap Lisa ia juga butuh kebebasan.
“Maafin Nathan mah, Nathan salah kedepannya Nathan gak akan begini”ucap Nathan yang merasa bersalah sedangkan ervan pergi dan menuju kamarnya tak ingin malah ikut berdebat.
“Jangan di ulangi, kalian udah dewasa, kalau belum siap punya anak kenapa kalian bikin anak”ucap bu wulan memarahi Lisa dan Nathan.
__ADS_1
“Sayang, ayo main sama mamah kayla dulu yah”ucap kayla membawa Arsen main ke kamarnya karena takutnya Arsen yang kaget kalau mendengar orang tuanya di marahin.
“Iya mah”Arsen mengikuti kayla, meninggalkan ibunya dan ayahnya yang sedang di nasehati oleh sang nenek.
“Iya mah maaf”ucap Nathan yang menang merasa sangat bersalah karena lalai menjaga Arsen.
“Mah. Lisa masih muda. Lisa juga masih perlu kumpul sama temen-temen apa salahnya sih kan Arsen ada bibi”ucap lisa yang kesal ibunya marah karena hal itu”lagian mamah juga kan waktu lisa kecil lisa di jaga oleh bibi kenapa Arsen gak boleh”ucap lisa yang dimana ia sangat ingat bahwa dahulu ibunya yang tidak pernah ada waktu untuk menjaganya sehingga dirinya selalu bersama dengan pengasuh saja.
“Lis. Mamah lakuin itu karena mamah kerja, kalau saat kamu kuliah mamah gak pernah marah kalau Arsen sama bibi, tapi kalau kamu gak kuliah kamu usahain ada waktu buat Arsen”ucap bu wulan ia jug mulai marah bisa-bisanya anaknya seperti itu.
“Lis udah, jangan nge lawan mamah. Emang kita yang salah kok yang pergi tanpa bawa Arsen”ucap Nathan ia yang merasa bersalah dan juga tak suka kalau lisa berbicara seperti itu apalagi kepada ibunya
“Kamu nasehati lisa Nath. Biar dia jadi ibu yang baik untuk Arsen”ucap Bu wulan meninggalkan Nathan dan Lisa yang masih berada di sana. Ia yang sudah kesal kalau harus berbicara dengan Lisa yang tak mau kalah.
“Mamah kaya gak ngerti aja anak muda”ucap Lisa saat ibunya yang sudah pergi ke kamarnya.
“Iya iya”ucap Lisa meninggalkan suaminya menuju ke kamarnya, ia yang juga marah kepada Nathan karena Nathan yang tidak membelanya sedangkan Nathan hanya menghela nafasnya karena dia tau bagaimana kelakuan istrinya tersebut.
“Lis sampai kapan sih kamu akan begini terus”ucap Nathan yang duduk sambil melihat istrinya yang berjalan menuju ke kamarnya, Nathan sangat berharap Lisa dewasa tapi tetap saja Lisa masih manja yang apa-apa selalu ingin di urusin oleh orang tuanya, Nathan juga sudah lelah menasehati Lisa yang tak berubah.
Sedangkan di tempat lain stefanie bersama dengan edwar karena sebelum sampai ke rumah mereka menyempatkan diri untuk jalan-jalan ke taman dahulu. mereka duduk di rumput sambil memakan camilan yang mereka bawa tadi.
“Perempuan itu lebay yah. Masa minta putus gara-gara alasan gak di nikahin”ucap edwar sambil mengelengkan kepalanya.
__ADS_1
Stefanie yang sedang makan pun tiba-tiba berhenti karena tidak menyangka kalau edwar akan berbicara seperti itu.
“Lebay?”tanya stefanie sambil melirik ke arahnya edwar yang duduk di sampingnya.
“Iya lebay banget, apa hidup itu hanya nikah saja gitu, kita masih muda masih banyak hal yang harus kita capai dulu”ucap edwar yang malah berbicara lebih banyak tanpa mengerti bahwa sebenarnya juga stefanie juga butuh kepastian.
“Kak edwar bilang lebay, wajar aja kalau perempuan nuntut di nikahin, perempuan itu butuh kepastian, bukan hanya janji semata yang entah kapan akan di buktikan”ucap Stefanie yang mulai kesal.
“Kepastian? Kita itu udah pasti mencintai makannya kita masih ada di samping pacar kita juga”ucap edwar.
“Udahlah malas bicara sama kak edwar, Fanie pulang”ucap stefanie yang berdiri hendak meninggalkan edwar.
“Kamu kenapa sih?”tanya edwar yang berdiri dan menarik tangannya stefanie yang hendak pergi.
“Gak tau, Fanie mau pulang aja”ucap Stefanie berusaha melepaskan tangannya dari cekalan edwar.
“Kamu marah sama aku? Emangnya aku salah apa? Apa gara-gara aku bahas pernikahan? Kamu gak mungkin kan mau menikah secepat ini”ucap edwar sambil meminta ke arahnya stefanie sambil ia berusaha mengamati apa yang stefanie pikirkan.
“Enggak, Fanie gak mau nikah sama kak edwar, Fanie mau pulang aja. Jangan ikutin fanie”ucap stefanie yang berlari meninggalkan edwar sendirian. Sedangkan edwar hanya diam saja, apa sebenarnya maksud stefanie itu.
“Fanie tunggu dong. Aku anterin aja”ucap edwar mengejar stefanie tapi stefanie malah menaiki taxi.
“Dasar perempuan gak tau apa maunya”ucap edwar yang menghela nafasnya dan berjalan menuju ke mobilnya, ia berniat mengejar stefanie dan bertanya sebenarnya apa yang ia inginkan.
__ADS_1
Edwar masuk ke dalam mobilnya dan menyetir, setelah kuliah mereka lebih sering membawa mobil dari pada motor.
“Apa jangan-jangan Stefanie juga mau nikah yah”ucap edwar sambil menjalankan mobilnya dan berpikir apa yang sebenarnya stefanie inginkan, karena baginya tak mungkin kalau stefanie ingin menikah secepat ini padahal ia yang baru saja lulus kuliah.