
Aku Gavin Ryszard. Orang-orang memanggilku dengan nama Gavin. Aku berasal dari daratan yang sama dengan Rein Fleurish, begitu pula dengan sekolahku yang sama dengannya. Kami berdua sudah saling akrab semenjak sekolah dasar. Aku sudah menganggapnya sebagai sahabat melebihi siapapun. Pada kelas dua belas ini, aku dengannya mengikuti program pertukaran pelajar. Dan di sanalah aku bertemu dengan Cassie. Pada saat itu juga aku mempunyai rasa tersendiri terhadapnya.
Awal-awal hari kami bersama, aku sudah dipertemukan dengan sebuah kejadian yang membuatnya kesal kepadaku. Saat itulah aku merasa sangat bersalah dan dadaku benar-benar terasa sakit. Seiring berjalannya waktu, untung saja keadaan segera kembali mereda. Tanpa pikir panjang, aku memberi tahu kepada teman-temanku tentang perasaanku yang melonjak-lonjak.
Aku sangat bersyukur memiliki teman-teman yang bersedia mendungkungku. Tak hanya sampai di situ, mereka juga membantuku untuk mendekatkan hubungan dengan Cassie. Akhirnya, diputuskanlah sebuah misi yang akan aku lakukan pada akhir pekan bersama beberapa temanku. Hari tersebut pun tiba, aku bersama dengan Adelard, Rein, dan tentunya Cassie, berjalan menuju taman yang berada di pusat kota.
Setelah berjalan mengelilingi taman, kami semua pergi ke sebuah pohon yang rindang untuk berteduh dan beristirahat. Tibalah saat itu, ketika Adelard dan Rein ingin menghampiri sebuah toko es krim. Aku sudah siap untuk berbicara dengan Cassie meskipun tanpa kehendakku, tiba-tiba saja aku menjadi gugup. Suasana menjadi canggung di antara kami berdua. Aku memulai percakapan dengan topik yang ringan terlebih dahulu.
“K—Kau suka rasa stroberi, ya?”
“Iya…” jawab Cassie yang sama-sama gugup sepertiku. Lantas percakapan terhenti begitu saja dan membuatku gelagapan. Aku pun berusaha untuk bersemangat dan ceria.
“Hari ini terik sekali, ya. Cocok sekali untuk menikmati es krim bersama-sama,” lontarku tersenyum.
“Betul sekali… Sekalian untuk mendinginkan tenggorokan…” sahut Cassie yang mulai berani berbicara kepadaku. Suasana yang awalnya canggung kini berangsur santai dan lepas.
“Oh iya, kau lebih suka es krim cone atau cup?” lanjut tanyaku.
“Tergantung, sih. Kalau aku tidak ingin berantakan, aku lebih memilih yang di dalam cup, tapi aku lebih suka es krim cone karena semuanya bisa dimakan,” jawab Cassie terseyum senang. Melihat wajahnya yang bahagia membuatku merasa lega dan senang.
“Kalau aku suka rasa coklat, soalnya aku suka ketagihan, hehe…” ucapku cengengesan.
“Aku juga suka coklat, tapi menurutku es krim akan lebih segar kalau rasa buah,” balas Cassie menyeringai.
“Wah, kau suka semuanya, ya,” lanjutku bercanda.
“Aku juga pilih-pilih, kok… Hehe…” sahutnya cengar-cengir. Kami pun tergelitik tawa bersama.
“Oh iya, aku ingin minta maaf tentang kejadian waktu itu…” ucapku spontan.
“Tidak masalah. Yang berlalu biarlah berlalu. Lagi pula kita kan teman!” tuturnya tersenyum. Aku pun meresponnya dengan tersenyum pula.
“Terima kasih! Senang bisa berteman denganmu,” ungkapku padanya.
“Aku juga!” sahutnya gembira.
Kemudian Adelard dan Rein datang dengan es krim di tangannya. Setelah itu kami menikmati es krim tersebut bersama-sama. Cassie yang terlalu terbawa suasana membuatnya tak sadar akan hal tersebut. Es krim yang ada di tangannya telah mencair dan menetes ke bajunya.
“Yah… Bajuku…” hembusnya. Sontak aku meraih tisu dan memberikannya kepada Cassie.
“Lap tanganmu,” balasku seraya mengelap baju Cassie yang ternodai. Aku dan Rein hanya menyaksikan mereka berdua. Aku tidak menyangka bahwa aku akan sedekat ini dengannya. Sesaat kemudian kami berdua saling bertatapan dengan wajah yang sangat dekat. Sontak aku menjadi salah tingkah, begitu pula dengan Cassie yang wajahnya memerah malu.
“Terima kasih…” tuturnya pelan kepadaku.
“Sama-sama…” balasku tersenyum.
__ADS_1
Setelah menikmati es krim tersebut kami pergi menuju sebuah patung permohonan. Namun suasana yang ramai membuatku kebingungan dan kewalahan untuk tidak terpisah dengan mereka. Permasalahan datang saat kami sedang berada di tempat tersebut dan tiba-tiba saja cuaca berubah seratus delapan puluh derajat. Hujan turun dengan deras dan membuat kami berdua panik. Suara tumpahan air yang melimpah membuat kami kesulitan untuk berbicara satu sama lain.
“Cassie, pegang tanganku!” seruku kepadanya. Ia pun langsung menggenggam tanganku dengan erat. Kami berlari mencari tempat untuk berteduh.
“Kita terpisah dengan Adelard dan Rein!” lontar Cassie khawatir.
“Yang penting kita mencari tempat untuk berteduh dulu!” sahutku.
Terlihat sebuah trotoar yang memiliki atap dari kejauhan. Banyak orang-orang yang berteduh di sana. Lantas kami berlari dan menghampiri tempat tersebut. Setibanya di trotoar beratap itu, kami berdua sudah basah kuyup. Semua tubuh kami terjiplak dan membuat pakaian menjadi sedikit tembus pandang. Sekilas aku melihat lekuk tubuhnya nan elok. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku yang berpikiran senonoh. Tak jauh dari tempat kami berdiri, tampak sebuah toko baju. Aku pun membawa Cassie ke toko tersebut.
“Ayo kita menghangatkan diri di sana,” ajakku kepadanya.
“Baiklah,” balasnya. Kami berdua berjalan dengan air yang menetes-netes dari pakaian kami. Sesampainya di toko, kami berdua tidak diizinkan untuk masuk ke dalam.
“Maaf, kami tidak ingin toko ini menjadi becek,” ujar penjaga toko.
“Kalau begitu, bolehkah kita meminjam handuk?” pinta Cassie dengan lemah lembut. “Maaf, kami tidak ada untuk dipinjamkan. Jika mau, kalian bisa membelinya,” jawab penjaga toko.
“Kalau begitu kami beli,” sahutku kepadanya.
Penjaga toko itu langsung mengambilkan dua buah handuk untuk itu dan membawakannya ke kasir, sementara itu kami menunggu di luar. Setelah itu, penjaga toko membawa handuk yang telah dimasukkan ke dalam kantung plastik. Aku pun menerimanya lalu membanyarnya. Setelah itu, kami berjalan menelusuri trotoar.
“Maaf telah merepotkanmu,” tutur Cassie merasa tidak enak.
“Tidak masalah, yang penting kita tidak masuk angin,” balasku tersenyum.
“Ayo kita keringkan baju kita di sana,” ajakku.
“Tapi, kita kan tidak punya baju ganti,” balasnya.
“Kita lihat saja dulu,” ucapku.
“Oke, tidak enak juga rasannya memakai pakaian basah seperti ini,” sahutnya dan kami pun berjalan ke tempat tersebut.
Sesampainya di sana, kami berdua menghampiri sebuah kasir. Penjaga kasir tersebut menerima kami dengan ramah, tidak seperti penjaga toko yang sebelumnya kami jumpai.
“Selamat datang, ada yang bisa kubantu?”
“Kami ingin mengeringkan pakaian ini,” jawabku dan seketika membuat penjaga kasir itu sedikit terkejut.
“Oh, pakaian yang sedang kalian pakai, ya? Tapi mohon maaf, kami tidak menyediakan baju untuk kalian saat menunggu nanti.”
“Tidak apa-apa, kami punya handuk ini!” balasku sambil menunjukkan handuk yang kupegang. Sontak penjaga kasir dan Cassie tersentak kaget dengan ucapanku barusan.
“E—Eh? Kau yakin?” tanya Cassie gugup dan memastikan.
__ADS_1
“Iya, lagi pula di sini sepi, kok. Menurutku aman-aman saja,” jawabku tenang.
“T—Tapi…”
“K—Kalau begitu, kalian bisa menggunakan ruang karyawan. Mari ku tunjukkan,” ucap penjaga kasir gugup.
Kami berdua di bawa ke sebuah ruangan yang penuh dengan loker pakaian. Kemudian aku dan Cassie bergantian untuk melepaskan pakaian dan memasukkannya ke dalam keranjang. Setelah itu kami berdua menunggu di dalam ruangan sembari mengenakan handuk. Aku dan Cassie duduk bersebelahan di sebuah bangku panjang. Situasi menjadi canggung dan sesekali kami saling bertatapan lalu memalingkan muka.
“Apa yang harus ku lakukan?” gumamku dalam hati gelisah.
Waktu yang dibutuhkan sekitar dua puluh menit, dan sepanjang waktu tersebut kami hanya terdiam dan tidak bicara sama sekali. Sampai akhirnya pakaian kami diberikan, aku dapat menarik napas lega. Kami pun mengenakan pakaian tersebut bergantian di dalam ruangan. Selepas itu kami kembali ke kasir dan membayar jasa tersebut.
“Terima kasih banyak. Kami sangat terbantu,” ucapku seraya membayarnya.
“Iya, terima kasih kembali. Pelayanan pelanggan sangat diutamakan di sini,” balasnya tersenyum. Lalu terjadi percakapan antara aku dan penjaga kasir, sementara itu Cassie hanya memperhatikan kami.
“Kami akan mampir lagi suatu saat nanti.”
“Oh iya, apa kalian murid di sekolah sini? Kalian bisa berlangganan setiap bulan untuk mencuci pakainan kalian.”
“Wah, begitu, ya? Terima kasih atas tawarannya. Akan ku bicarakan dengan teman-teman asramaku.”
“Kutunggu kabar baiknya.”
“Oke, kami pergi dulu, ya. Sampai jumpa."
“Terima kasih sudah berkunjung!”
Kami pun melanjutkan langkah kaki di sepanjang trotoar. Tanpa tujuan, kami hanya berjalan sambil melihat sekeliling.
“Kalian akrab sekali tadi,” tutur Cassie kepadaku.
“Biasa saja, kok. Aku sangat senang sekali kau bertemu dengan orang yang ramah seperti tadi,” jawabku prigas-pringis.
“Kau pandai bergaul, ya,” sahut Cassie tersenyum. Kemudian aku teringat bahwa kami telah terpisah dari Adelard dan Rein. Aku pun mengingatkan Cassie akan hal tersebut.
“Oh iya, aku lupa,” balasnya tanpa ekspresi panik sama sekali.
“Dia tenang-tenang saja, apa dia benar-benar lupa dan mengira kalau dia dan aku sedang berkencan?” gumamku dalam hati.
“Gavin, tidak mungkin dia seperti itu,” lanjut benakku.
Hawa yang sejuk membuat kami berdua menjadi lapar. Lalu Cassie melihat sebuah restoran dan mengajakku untuk makan siang di sana. Saat berjalan, kami hanya bersebelahan tanpa berpegangan tangan. Ingin rasanya aku berjalan sambil menggenggam tangannya, tetapi aku juga tidak ingin menimbulkan masalah seperti kejadian waktu itu.
“Tahan, Gavin… Pelan-pelan dulu…” ucapku kepada diriku sendiri.
__ADS_1
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)