Love Exchange

Love Exchange
Episode 51 : Hangat dalam Dingin


__ADS_3

Dua hari menuju acara merupakan waktu yang sangat singkat untuk melakukan persiapan. Yang semula ditargetkan selesai dalam waktu sepekan kini dipangkas habis-habisan menjadi seperempat kurang untuk menyelesaikannya. Suasana lalu lalang menghangatkan hawa dingin yang terus menusuk-nusuk jendela dari luar. Aku tidak dapat membedakan antara bersemangat dengan panik dalam situasi seperti ini.


“Ternyata kalian akrab karena ini, ya,” cetus Freda kepadaku dan Cassie bercanda. Aku hanya tersenyum mendengarnya.


“Hahaha… Kukira kau sudah mulai agresif,” celetuk Hart dengan perlengkapan dijinjingannya. Lantas wajahku berubah terbalik dari sebelumnya. “Apa yang maksudmu?” tanyaku geram.


“Maksudku kau bersemangat untuk acara ini. Ya, itu,” jawabnya cengar-cengir gelagapan. Aku pun menghela napas mendengar ucapannya.


“Tidak seperti yang kupikirkan, kepala sekolah tidak segarang itu,” tutur Cassie tersenyum senang. “Yah… Kupikir kita akan disemprot habis-habisan,” balas candaku. “Walaupun memang semburan mulutnya lebih deras daripada keran,” lanjut Cassie berceletuk seraya tertawa.


“Eh? Ini Cassie, kan?” tanya Freda terkejut melihat tingkahnya yang berubah drastis. “Kau tidak seperti dulu,” lanjut Hart menambahkan.


“A—Apa maksud kalian?” Seketika Cassie menjadi malu dan gugup.


“Tidak… Tenang saja. Kau lebih bagus seperti ini,” jawab Hart bersemangat. Aku tercengang melihat perubahan mencolok dari ceria seketika menjadi pemalu. Terlihat seperti orang yang memiliki topeng ganda. Hart dan Freda masih tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


“Begini-gini aku tidak berubah tahu!” lontar Cassie dengan wajah marahnya dan mengingatkanku dengan Rinne, kakaknya Kyra yang temperamental.


“Eh bertopeng tiga!” gumamku terkejut dalam hati. Melihat sikapnya seperti itu membuatku tidak percaya, dirinya menjadi sangat asing bagiku bagai orang lain.


“Ada apa, Adelard?” tanya Freda kebingungan kepadaku.


“Tidak apa-apa!” tangkasku terengap-engap.  Freda pun menatapku curiga. Hart yang melihat tingkahku lantas tersenyum licik. “Ekhem… Beginilah pertemanan. Jangan ada segan diantara kita,” ujarnya. Kami semua pun tersenyum senang dan optimis.


“Ngomong-ngomong, bisakah kita terus berjalan? Ini berat, lho,” sela Hart yang merintih menahan rasa sakit di telapak tangannya.


Sesampainya di kelas suara keramaian dan suasana hangat terlihat jelas di depan mataku. Kebersamaan yang terus memancangkan pondasi yang kuat menyatukan setiap-tiap kelas bahkan satu sekolah. Gurau dan canda menjadi bahan gelak tawa yang mendekatkan pertemanan mereka. Berbagi keceriaan dan cerita menjadi lumrah dan rasa penat yang dirasakan hilang tak bersisa.


“Baiklah. Akan ku jadikan hari ini sebagai salah satu memori terindah yang pernah ku alami,” sahut Hart tersenyum bahagia.


Sepanjang lorong semuanya penuh dengan orang-orang. Rasa senang terpancarkan dari masing-masing mereka. Setelah turun dari tangga kami bertemu dengan Kak Aydhia. Kami pun saling sapa dan mengobrol sebentar.

__ADS_1


“Sungguh sebuah pemandangan yang belum pernah kulihat sebelumnya,” cetus Kak Aydhia tersenyum.


“Benarkah? Bahkan tahun lalu sekalipun?” tanyaku senang namun tidak percaya.


“Iya. Senang sekali melihat orang-orang saling tertawa ceria. Sebelumnya kegiatan seperti ini hanya menjadi beban. Tahun lalu kau lihat sendiri, kan?” tuturnya.


“Benar juga,” jawabku.


“Semangat! Akan ku usahakan mengajak teman-teman angkatanku untuk membantu kalian.”


“Tidak usah repot-repot. Kalian cukup belajar untuk persiapan ujian kelulusan,” tolakku sopan kepadanya. Namun Kak Aydhia tetap ingin membantu kami. Lantas ia berucap senyum sebelum pergi.


“Jangan segan. Sudah tugas setiap kelas untuk saling menbantu dan mendukung acara terbesar setahun sekali ini.” Aku pun merasa senang dengan tawarannya.


“Terima kasih banyak, Kak!”

__ADS_1


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2