
Mentari mulai menyingsing dari puncaknya. Hawa sudah tak sepanas beberapa waktu lalu. Tampak keramaian orang-orang dari luar tempat festival. Para pengunjung yang datang secara berbondong-bondong membuat kemacetan di sana-sini. Festival pendidikan itu digelar di area taman kota dan sekelilingnya. Untung saja kami datang dari bagian utara, tidak terjadi penumpukan pengunjung di sini.
Sebelum masuk ke dalam tempat festival, kami berjalan-jalan terlebih dahulu di jalan utama yang mengelilingi taman tersebut. Terdapat bermacam-macam tenda kios seperti pasar malam kala itu, namun jauh lebih ramai. Sesuai namanya, tentu saja banyak kios yang menjajakan buku-buku dan peralatan sekolah. Selama berjalan, aku melihat sekelilingku, tetapi berbeda dengan Gavin yang masih trauma dengan insiden yang menimpanya tadi.
“Buku-bukunya banyak sekali,” tutur Cassie bersemangat, sementara itu Rhean tampak seperti sedang mencari sesuatu. Aku yang melihatnya menjadi kebingungan lalu bertanya kepadanya.
“Kau sedang mencari apa?” tanyaku.
“Aku mencari komik yang sedang aku ikuti. Kira-kira ada tidak, ya?” balasnya.
“Seharusnya sih ada,” lanjutku. Sampai suatu ketika kami pun terhenti di sebuah kios buku yang menyediakan berbagai jenis buku.
“Sepertinya di sana lengkap. Ayo kita ke sana!” ajak Cassie kemudian ia berlari menghampiri kios tersebut. Baru kali ini aku melihat wajahnya yang sangat berbeda dari biasanya. Ia tampak lebih energik. Lalu kami semua mengikutinya dari belakang.
“Semangat sekali kau, Cassie?” cakap Bella bercanda.
“Iya! Aku sedang mencari serial novel yang sedang aku baca,” balasnya gembira. Cassie memasuki kios itu dan langsung melihat-lihat rak yang berisikan buku-buku. Aku dan yang lainnya juga saling berpencar untuk melakukan hal yang sama. Bersama Rein, aku berjalan dari satu rak ke rak lainnya. Aku sendiri tidak tahu ingin membeli apa.
“Apa ada yang ingin kau beli, Rein?” tanyaku.
“Entahlah, aku tidak tahu ingin membeli apa,” jawabnya. Aku sedikit terkejut dengan jawabannya yang serupa denganku.
“Eh? Kau tidak sedang membaca cerita atau semacamnya?” lanjut tanyaku penasaran sekaligus kebingungan. Rein pun mengiakan pertanyaanku. Pada saat yang bersamaan aku menemukan sebuah komik yang tampak familiar denganku. Ternyata komik tersebut merupakan adaptasi dari sebuah gim petualangan yang sedang aku mainkan.
“Oh, jadi ada adaptasi komiknya juga, toh?” gumamku tak percaya. Rein yang melihatku menjadi penasaran.
“Komik apa itu?” Lalu aku menjelaskan kepadanya.
“Kau ini hanya tau gim saja, ya,” cetusnya menanggapiku bercanda.
Aku mengambilnya sebagai daftar belanjaanku kali ini karena penasaran dengan isi komik tersebut. Meskipun alur ceritanya sama, namun aku dapat membacanya di mana saja tanpa perlu memainkan gimnya terlebih dahulu. Gambar yang disuguhkan komik itu juga tak kalah bagus, terlebih lagi berwarna. Kemudian kami berdua berjalan lagi menuju rak-rak yang lainnya.
“Kau benar-benar tidak ingin membeli apa pun?” tanyaku memastikannya kembali. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu terjadi percakapan di antara kami berdua.
__ADS_1
“Tapi kau suka membaca, kan?”
“Ya, tapi akhir-akhir ini yang kulihat dari komentar orang-orang kalau novel-novel sekarang kurang menarik,” jelasnya. “Aku juga belum sempat ke toko buku sebelumnya,” tambahnya.
“Genre apa yang kau suka?”
“Hampir semuanya aku baca, sih.”
“Oke…i…” balasku sedikit ragu. Kemudian aku berhenti sejenak sembari melihat-lihat rak yang bersikan novel-novel. Aku mengambil beberapa novel lalu melihat sinopsisnya. Selama membaca sinopsis, hampir semua alur yang kubaca tidak membuatku tertarik sama sekali. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan Rein barusan.
“Benar katamu, cerita-cerita sekarang kurang menarik,” ucapku. Setelah beberapa waktu berselang, akhirnya aku menemukan novel yang sekiranya bagus untuk dibaca. Kemudian aku memberikannya kepada Rein.
“Bagaimana dengan ini?”
“Aku sudah punya novel ini,” jawabnya. Aku yang mengetahuinya lalu mengembalikkan buku tersebut ke dalam rak. Melihatku yang seperti ini membuat Rein merasa tidak enak kepadaku.
“Tidak perlu repot-repot, aku akan membelinya kalau sudah menemukan yang bagus,” ujarnya.
“Tapi dari tadi kau hanya melihatku…?” balasku kebingungan.
“Kalau kau tidak mau membeli sesuatu, biar aku yang belikan untukmu,” ucapku. Rein yang mendengarkanku lantas tersentuh dan tersenyum.
“Kau orang yang baik. Tidak salah aku memilihmu,” cakapnya sembari memeluk tanganku. Aku yang menyadarinya lantas menjadi panik mengingat bahwa kami sedang berada di tempat umum.
“Sadarlah tempat kita berada sekarang,” ucapku pelan kepadanya, namun ia tidak menggubrisnya sama sekali. Aku hanya bisa pasrah seraya melihat-lihat beberapa novel lainnya. Hingga akhirnya aku menemukan sebuah novel yang menurutku sangat bagus.
“Nah! Bagaimana kalau ini?” lontarku sembari memperlihatkan novel tersebut. Rein yang baru pertama kali melihatnya lantas menjadi penasaran. Ia pun membaca sinopsi yang tertulis di sampul bagian belakang.
“Wah, sepertinya bagus! Aku tidak pernah tahu kalau ada novel ini,” ujarnya senang. Melihat wajah Rein yang seperti itu membuatku merasa senang.
“Syukurlah kalau begitu. Sini, biar aku yang bayar saja.” Rein yang masih girang dan bersemangat lalu membalasku seraya berkata, “Terima kasih!”
Setelah membeli beberapa buku, aku dan Rein pun keluar dari dalam kios. Di luar sudah ada teman-temanku kecuali Cassie. Tampak dari masing-masing mereka buku yang dibelinya. Aku sempat terkejut dengan Rhean yang membeli komik banyak sekali. Sementara itu, Bella dan Icha membeli beberapa novel, sedangkan Gandra membeli buku pengembangan diri dan psikologis.
__ADS_1
“Buku apa itu?” tanyaku penasaran.
“Aku bingung menjelaskannya, silakan kau lihat sendiri,” jawabnya sembari memberika sekantung plastik yang berisikan beberapa buku. Saat melihat-lihat bagian dalam buku dengan sekilas, seketika saja aku tersadar kalau Gandra sangat pandai membaca situasi dan merespon terhadap situasi tersebut.
“Jadi ini yang membuatmu seperti itu?” ucapku pelan kepadanya.
“Kira-kira seperti itu,” jawabnya tersenyum. Tak lama kemudian Cassie keluar dari dalam kios dengan sekantung buku yang amat banyak. Sampai-sampai ia keberatan untuk menjinjingnya. Kami semua yang melihatnya sontak tersentak kaget dan tercengang.
“Astaga! Itu banyak sekali,” lontarku tak percaya. Dengan cepat aku menghampirinya dan membantunya. Lalu aku meletakkan kantung buku tersebut di atas pangkuan Gavin yang sedang terduduk di atas kursi roda.
“Tumpang taruh bukunya di sini, ya,” tandasku tersenyum kepadanya.
“Lah iya, kau tidak membeli apa-apa?” lanjut tanya Icha terheran-heran kepada Gavin.
“Aku beli satu, kok. Aku titip buku itu ke Gandra,” jawabnya.
Kemudian kami pun bersiap untuk berjalan kembali. Sebelum kami berangkat jalan, terpampang pada wajah Gavin tampak kakinya yang kesakitan menahan buku-buku yang tergeletak di pangkuannya. Aku menjadi khawatir dengannya. Lantas aku bertanya kepadanya.
“Kau tidak apa-apa, kan?” tanyaku.
“Tenang saja, apa sih yang tidak ku lakukan untu—” Sontak aku menutup mulut Gavin dan membuat kami semua kesal kepadanya, namun berbeda dengan Cassie yang kebingungan dengan apa yang terjadi.
“Ada apa?” tuturnya halus terheran-heran.
“Yah… Bukan apa-apa,” jawabku cengengesan. Mendengar perkataan Gavin barusan membuat teman-temanku mencoba untuk menjahilinya.
“Tadi kau bilang tidak masalah, kan? Kalau begitu…” cakap Rein sembari menumpukkan bawaannya ke atas pangkuan Gavin, begitu pula dengan yang lainnya. Gavin menjadi kalang kabut dengan apa yang tengah dilihatnya.
“E—Eh? K—Kok?”
“Wah, kau sangat baik sekali, ya,” ungkat Bella tersenyum kepadanya. Lalu Gavin menarik kembali perkataan yang sebelumnya dilontarkan olehnya.
“Bukan begitu maksudku!”
__ADS_1
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)