
Pagi hari dengan langit yang cerah dan cahaya mentari bersinar terang menerangi pasir putih yang berkilauan. Aku dan yang lainnya masih berada di asrama sedangkan Bella dan kawan-kawannya sudah menunggu kami di depan. Rein yang berada di depan pintu lantas memanggil kami. Cassie telah berjalan keluar dari asrama. Gavin masih berada di dalam kamar dan sibuk dengan urusannya yang selalu ditelantarkan dari hari sebelumnya.
“Kalian cepatlah!” lontar Rein.
“Aku sudah selesai. Maaf,” sahutku berjalan dengan sebuah tas dibahuku.
“Tunggu! Sebentar lagi selesai!” seru Gavin kepadanya.
“Huft… Kalian selalu saja begini, ya,” hembus Bella seraya menggeleng-gelengkan kepala.
“Kalau aku gara-gara Gavin yang membuat gerakku terhambat,” balasku.
“Ya, ya… Sesuka ucapmu saja,” lanjut Icha.
“Kami hanya melihat dari fakta bukan perkataan,” cetus Gandra.
“Siput tetaplah siput, Adelard,” sindir Rhean dan membuatku jengkel terhadap mereka.
“Sepertinya kalian harus merasakan tinggal sekamar dengan Gavin…” gerutuku kesal.
“Tidak, terima kasih. Untuk kau saja,” balas Gandra. Melihat mereka yang mengejekku lantas aku semakin kesal dan ingin rasanya untuk melampiaskannya.
“Sabar, Adelard… Sabar…” gumamku dalam hati sembari menarik napas dalam-dalam. Beberapa saat kemudian Gavin berjalan keluar dari kamar lalu datang menghampiri kami. Kami yang sudah menungggu di luar sontak merasa sebal dengan Gavin karena banyak waktu yang kami habiskan hanya untuk menunggunya.
“Kenapa kau tidak bersiap-siap dari kemarin?” tanya Rein kesal.
“Yah… Aku sudah mengantuk semalam,” balas Gavin cengengesan.
“Alasan saja kau,” celetuk Bella.
“Maaf, maaf…” lanjutnya.
Kami pun berjalan menuruni tangga asrama, berjalan bersama melintasi jalan di dalam kompleks sekolah menuju gerbang sekolah. Sepanjang perjalanan, pemandangan yang kami lihat hanya hamparan pasir putih yang berkilau yang mengindahkan mata. Salju tebal itu menutupi seluruh permukan dengan para insan yang beraktivitas mengenakan pakaian tebal mereka.
“Wah, cuaca hari ini bagus sekali,” gumamku.
“Betul, benar seperti kata pepatah,” ucap Gavin.
“Loh? Memangnya seperti apa?” lanjut Bella kebingungan.
“Habis badai muncul pelangi,” balasnya.
“Mana? Aku tidak melihat ada pelangi,” ujar Rein seraya memandang ke langit.
“Bukan seperti itu konsepnya, Mbak,” tandas Gavin jengkel.
Setelah keluar dari kompleks sekolah, kami berjalan menuju terminal bus yang berada tidak jauh dari tempat kami berada sekarang. Kami akhirnya tiba di terminal setelah lima belas menit berjalan. Tanpa menunggu waktu lama, untung saja terdapat sebuah bus dengan tujuan yang kami tuju. Akan tetapi, banyak orang yang juga mengarah ke tujuan yang sama. Kami langsung bergegas untuk membeli tiket dan ternyata tepat tersisa delapan kursi.
“Syukurlah kita dapat di detik-detik terakhir,” gumam Rein senang.
“Ayo kita langsung naik,” lanjut Bella.
__ADS_1
Bus tersebut memiliki tempat duduk yang berbaris dua dan tiga ke belakang dengan lorong yang berada di tengahnya. Gavin, Gandra, dan Rhean dengan cepat mengisi kursi yang berada di dekat lorong, sementara aku dan yang lainnya menempati tempat duduk yang berada di paling belakang. Aku yang berada di paling terakhir masuk ke dalam bus membuatku hanya bisa pasrah dengan satu kursi yang tersisa.
“Aku ingin di dekat kaca,” ucap Bella bersemangat.
“Aku juga,” lanjut Icha dan mereka berdua menduduki kursi di sisi kanan dan kiri bus.
“Sepertinya hanya kita yang paling heboh,” ucap Rhean.
“Tidak masalah. Sekarang adalah hari bersenang-senang,” sahut Rein.
Hanya ada tersisi sebuah kursi di tengah-tengah baris kursi yang tersedia. Aku yang melihatnya lantas terdiam sejenak dan tak menyangka dengan apa yang terjadi padaku. Semua penumpang yang berada di sekitar teralihkan perhatian mereka ke arahku. Gavin dan kawan-kawanku hanya tersenyum melihat diriku. Rein dan Cassie menjadi kebingungan melihatku terdiam di lorong.
“Kau kenapa?” tanya Rein. Pikiranku yang campur aduk lantas terkejut dan tersadar sejenak setelah perkataannya.
“E—Eh? M—Maaf…” balasku yang kemudian berjalan dengan kepala tertunduk menahan rasa malu.
“Wah, wah, lihatlah orang yang amat beruntung itu,” cetus Rhean bercanda.
“Kau bisa saja ya, Adelard,” lanjut Gavin. Tanpa sadar aku menjadi salah tingkah dan berusaha untuk menutupi wajahku.
“Kenapa kau tidak ingin di sana, Gavin?” tanya Gandra penasaran.
“Kau juga tidak ingin, kan?” balas Gavin.
“Bilang saja kau tidak sanggup, kan?” sahut Rhean.
“Kita sama saja,” ujar Gavin pelan.
“Tenang saja, Adelard. Mereka hanya iri padamu,” ucap Rein pelan kepadaku.
“Bukan itu masalahnya…” gumamku dalam hati.
Tidak lama kemudian bus pun barangkat dan meninggalkan terminal. Kami melintasi kota yang tampak tak asing bagiku. Jalan yang kami lewati adalah jalan yang sama ketika aku berjalan bersama Rein menuju vila kala itu. Perjalanan kami tersendat karena padatnya kendaraan di tengah kota. Hingga akhirnya perjalanan tampak seru ketika kami telah berada di luar kota dan pergi melintasi jalan antar daerah.
“Wah, indah sekali,” ucap Bella sembari medekatkan wajahnya ke kaca jendela, begitu pula dengan yang lainnya. Pada suatu ketika, bus tersebut melewati tikungan tajam dan membuat kami berayun ke arah arah kiri.
“M—Maaf,” ucapku gelagapan pada Rein.
“Tidak masalah,” balasnya tersenyum.
“Aduh… Kenapa harus aku yang seperti ini?” benakku dalam hati.
“Kesempatan, Adelard,” ujar Rhean pelan kepadaku.
“Yah… Empuk, sih,” balasku.
“Apa maksudmu?” tanya Rein terheran-heran.
“M—Maksudku kursinya empuk,” pungkasku gelagapan.
“Yah… Aku tidak masalah selama itu kau, sih,” gumam Rein.
__ADS_1
“Hah?” lontarku tak mendengar perkataannya barusan.
“Bukan apa-apa,” jawabnya.
Setelah setengah perjalanan, aku memanfaatkan waktu yang tersisa untuk beristirahat dan tidak terlalu memikirkan Rein dan Cassie yang berada di sebelahku. Aku pun memejamkan kedua mataku namun seketika saja kepala Rein bersandar di bahuku. Aku yang terkejut langsung membuka mata dan menoleh ke arahnya. Tampak dirinya yang sudah terlelap dengan nyenyak. Aku yang ingin menggesernya lantas tidak dapat melakukannya karena pada saat yang bersamaan kepala Cassie juga bersandar di sebelah bahuku.
“Loh? Kenapa semuanya jadi begini?” benakku.
“Ya sudahlah…” lanjutku yang kemudian memejamkan mata dan berniat untuk mengistirahatkan diri.
Perjalanan terus berlanjut dan pada akhirnya bus memberhentikan jalannya di pemberhentian terakhirnya. Terlihat pemandangan pengunungan nan indah yang dilapisi oleh salju putih. Semua penumpang dibuat terpana oleh pesona alam tersebut, tetapi tidak dengan kami yang masih tertidur pulas. Gavin, Gandra, dan Rhean semakin bersemangat dan langsung beranjak dari kursi. Pada saat itu mereka melihat kami.
“Wah, nyenyak sekali,” gumam Gavin tersenyum. Rhean dengan cepat mengambil ponselnya lalu memotret kami. Kami semua yang berada di bangku belakang masih terlelap dengan kepala yang saling bersandar ke arahku.
“Bagai sang pangeran dan para selir,” ucap Rhean sembari mengambil fokus kameranya.
“Perkataanmu cukup tajam, ya,” sahut Gandra. Tidak lama kemudian aku pun terbangun dari tidur dan belum sepenuhnya sadar.
“Wuah… Apa kita sudah sampai?” tanyaku pelan seraya menguap. Pandanganku yang belum terlalu fokus masih terus mengedipkan mata. Sampai akhirnya aku melihat merekaa yang sedang asyik memotret kami.
“A—Apa yang sedang kalian lakukan?” lontarku yang seketika langsung membara. Mereka tidak menjawab pertanyaanku dan terus sibuk dengan tingkah mereka. Aku pun melihat ke kanan dan ke kiri lalu melihat Rein, Cassie, Bella, dan Icha yang masih terlelap seraya bersandar ke arahku. Pada saat yang bersamaan aku tersadar dan menjadi malu akibat ulan mereka.
“Hentikan! Jangan seenaknya mengambil foto kami!” seruku kesal.
“Momen seperti ini harus di abadikan,” balas Gavin.
Beberapa saat kemudian para perempuan tersebut akhirnya bangun lalu bertanya kepadaku. Gavin dan yang lainnya langsung meletakkan ponsel mereka lalu berjalan mendahului kami keluar dari bus.
“Apa kita sudah sampai?” tanya Rein pelan.
“Sudah,” jawabku. Ia pun meregangkan tangannya sembari menguap.
“Akhirnyah…!” hembusnya.
“Apa aku mengganggu perjalananmu?” tanya Cassie gugup.
“Tidak. Aku juga baru bangun tidur tadi,” balasku.
Setelah itu kami semua turun dari bus lalu berjalan tidak jauh menuju sebuah tempat makan. Kami bersantap siang di sana lalu melanjutkan langkah menuju tempat penginapan. Sesampainya di tempat tersebut tampak beberapa vila yang berjajar dan semakin tinggi pada ujung barisan itu.
“Vila kita yang mana, ya?” tanya Rein kebingungan. Pada akhirnya aku melihat sebuah pintu yang bertuliskan namaku.
“Sepertinya ini,” ucapku.
Kami masuk ke dalam vila tersebut dan langsung bergegas menuju kamar tidur. Aku yang melihatnya lantas mengantuk dan tergiur untuk berbaring di kasur tersebut.
“Hah…! Empuknya...” hembusku yang baru saja melompat ke kasur itu. Di lain sisi Rein dan yang lainnya sudah sangat bersemangat untuk melakukan kegiatan wisata di daerah ini. Dengan penuh semangat Bella menyerukan api semangatnya ke seluruh ruangan.
“Nah, sekarang saatnya untuk berseluncur!”
Bersambung~
__ADS_1
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)