
Hari mulai memasuki waktu tengah malam sementara acara masih berlangsung dengan sangat meriah. Orang-orang yang berkunjung di acara tahunan ini tidak ingin melewatkan kesempatan yang luar biasa ini. Semuanya tampak bersenang-senang di meja makan. Aku bersama lainnya tengah berpencar untuk mengambil hidangan. Di lain sisi, Freda dan Cassie tengah berada di kamar kecil yang berada tak jauh dari kerumunan. Freda masih ternganga dengan pernyataan Cassie yang mengejutkannya.
“Tunggu, tunggu, kau tidak bercanda, kan?” tanya Freda memastikan.
“Tidak… Dia yang memulainya duluan…”
“Sebentar… Bagaimana bisa orang seperti dia mengakuinya duluan?” ujar Freda terheran-heran.
“Katanya dia keceplosan,” jawab Cassie sedikit gugup. Sontak Freda menepuk jidatnya mendengar jawaban Cassie.
“Bisa-bisanya dia seperti itu. Mungkin dia mengira kalau dirinya sedang bicara dengan aku atau siapalah,” ucapnya.
Setelah dari kamar kecil, mereka berdua berjalan kembali menuju meja makan. Mereka memperlambat langkah dan kembali membicarakan kejadian Cassie bersamaku di api unggun tadi.
“Waktunya kurang tepat, ya…” gumam Freda.
“Aku juga tidak menyangkanya,” balas Cassie.
“Tapi, apa kau ingin melakukannya tadi? Secara kalian berdua berada di situasi yang tepat,” tanya Freda.
“Mungkin bukan sekarang, aku ingin mengetahui dirinya dulu…” jawab Cassie tertunduk murung.
“Baiklah… Abu tetaplah abu. Apa perlu diungkapkan semuanya pada teman-teman?” usul Freda berpikir. Cassie yang mendengarnya sontak terkejut dan menjadi panik.
“E—Eh? J—Jangan! Aku tidak mau ada kesalahpahaman…”
“Tapi, bukankah ujungnya akan tetap ketahuan?” balas Freda.
“I—Iya… Tapi setidaknya biar waktu yang menjawab semuanya…”
“Oke, aku tidak bisa memaksa kehendakmu…” lanjut Freda tersenyum.
“Tolong rahasiakan dari yang lainnya, ya…”
“Tentu, kau sudah kenal dengan Freda, kan?” lontar Freda membanggakan diri.
Tidak lama kemudian mereka berdua mendatangi yang lainnya di meja makan. Tampak para laki-laki yang belum juga kembali.
“Lama juga, ya,” cetus Freda.
“Iya, nih. Aku tidak mengerti dengan pemikiran mereka,” lanjut Rein jengkel. Kemudian aku yang terlebih dahulu tiba menghampiri mereka.
“Loh? Yang lain belum kembali?” tanyaku kebingungan.
“Kau dari mana saja? Lama sekali,” balas Rein.
“Tadi antreannya cukup panjang, Buk. Apalagi aku mengambil banyak jenis makanan,” balasku. Terdengar suara perut keroncongan yang ternyata berasal dari Cassie. Seketika ia menjadi malu dan wajahnya merona. Dengan cepat aku langsung meletakkan nampan yang ada di tanganku. Semua orang sudah mengambil hidangan satu per satu namun Cassie masih tertunduk malu.
“Kau tidak makan?” tanyaku buncah.
“Makan saja, jangan malu-malu!” lontar Freda ceria seraya menepuk bahu Cassie.
__ADS_1
“B—Baiklah…” tuturnya pelan lalu mengambil satu makanan. Beberapa saat kemudian datanglah Gavin dan yang lainnya. Seketika meja makan kami menjadi penuh dengan hidangan-hidangan.
“Mari kita lanjutkan!” seru Gavin bersemangat.
“Kau tidak kenyang-kenyang, ya…” cetus Bella menyeringai.
Selepas menghabiskan santap malam semua orang terlihat sudah kenyang dan melanjutkan kegiatan dengan kembali berkumpul di sekitar api unggun untuk puncak acara perayaan. Semua orang berkerumun di tempat yang sebelumnya sangat sepi saat aku dan Cassie berada di sini. Tiba-tiba saja dadaku kembali sesak dan kepalaku terus terbanyak dengan kejadian tadi. Aku yang merasa sedikit pusing lantas memegang kepalaku.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Gandra.
“Sepertinya aku tidak terbiasa dengan kerumunan sepadat ini…” jawabku.
Kemudian aku bersama yang lainnya berjalan menuju tepi keramaian. Terlihat api unggun secara keseluruhan yang masih membara dengan sangat besar. Kepala desa tersebut lantas kembali menarik perhatian orang-orang. Sekarang saatnya untuk memeriahkan acara puncak. Semua orang ingin melihatnya dari dekat, termasuk teman-temanku.
“Ayo kita lihat dari dekat,” ajak Bella yang membara.
“Ayo!” sahut Hart. Mereka semua berjalan meninggalkan aku dan Cassie. Gavin yang ingin mengajaknya kemudian menjadi bingung terhadapnya.
“Kau tidak ikut, Cassie?” Hart yang mendengarnya dengan sigap langsung membawa Gavin menjauhi kami.
“Cassie tidak suka keramaian. Tenang saja, dia tidak sendirian, kok,” ucapnya. Pada saat yang bersamaan, Freda juga meyakinkan Rein yang sebelumnya ingin mengajakku.
“Pasti kau sangat menunggu-nunggu momen ini, kan? Biarkan saja dia melihatnya dari sini,” ucapnya.
Semua teman-teman kami sudah berada jauh dari pandangan kami. Kami sudah tidak melihat mereka yang telah berada di tengah-tengah kerumunan itu. Aku dan Cassie menyaksikan kegiatan acara dari tepi. Untung saja semua pertunjukkan masih terlihat jelas. Aku merasa takjub dengan penampilan yang dipertunjukkan. Kami berdua sama-sama memandang panggung tanpa bicara sama sekali.
“Wah… Menakjubkan sekali…” gumamku terperangah.
“Iya… Aku belum pernah melihat ini sebelumnya…” sahut Cassie. Tanpa sadar kami saling memandang satu sama lain. Sejenak kami terdiam sebelum akhirnya berpaling satu sama lain.
“I—Iya…” balas Cassie gugup.
“Maafkan aku tentang kejadian tadi…” ujarku tertunduk malu.
“A—Aku juga…” Suasana seketika menjadi canggung dan kami kembali terdiam. Terbesit di benakku untuk menanyakan sesuatu yang terus membayangiku.
“A—Apa yang kau sukai dariku?” tanyaku spontan dan membuatnya tersentak kaget.
“Apa tidak apa-apa bertanya seperti itu?” gumamku panik dalam hati.
“B—Bukankah tidak perlu alasan…?” Seketika aku teringat kembali dengan isi buku cinta yang aku miliki.
“Benar juga…” Kami terdiam sejenak lagi lalu Cassie memulai pembicaraan.
“K—Kau memang tidak peka, ya…”
“T—Tunggu… Kau melakukan sesuatu untukku?” Ia membalasnya dengan mengangguk-ngangguk pelan.
“M—Maaf… Aku tidak menyadarinya…”
“Kau berubah…” tuturnya.
__ADS_1
“Maksudmu?”
“Kau sudah jauh berbeda dengan saat pertama kali ku melihatmu…”
“Kau juga berubah…” balasku.
“Berubah? Apa dariku yang berubah?”
“Kau juga tidak jauh berbeda dengan diriku yang sekarang.”
“Kau yang ingin diriku berubah. Bukankah itu juga karenamu?”
“Karenaku?” lanjutku kebingungan. “Kau juga berpacaran dengan Gavin, kan?”
“Kalian yang mendekatkanku padanya!”
“Aku hanya ingin membantu Gavin. Kenapa kau menerimanya?”
“Kau yang waktu itu tersenyum padaku, kukira…” Aku yang mendengarnya sontak terheran-heran.
“Tersenyum? Aku sudah lupa kejadian itu…” benakku.
“Padahal… Aku tidak ingin seperti ini…” gumam Cassie pelan.
“Apa ada yang salah?” tanyaku buncah.
“Semuanya sudah salah sejak awal…”
“Aku tidak mengerti dengan perkataanmu.”
“Kalau kau sudah mengerti maka hal seperti ini tak akan terjadi…” tutur Cassie.
“Hah? Maksudmu? Aku akan mengerti jika kau mengatakan dengan jelas.”
“Aku tidak ingin kau menjadi orang yang tak kukenal…”
“Aku melakukan sesuatu yang salah?” Cassie menjadi sebal terhadapku dan melontarkan beberapa kalimat ke arahku.
“Kau sudah salah sejak awal!”
“Kau sudah beralih sejak awal!”
“Kau sudah menjauhiku sejak awal!”
Seketika saja aku teringat dengan kata-kata tersebut namun aku tidak mengingat betul kejadian itu.
“Sepertinya aku pernah seperti ini… Tapi kapan?” gumamku. Kemudian terbesit di benakku untuk menyatakan sesuatu padanya. Aku teringat dengan semua perkataan dari isi buku cinta itu.
“Lalu, maukah kau menjadi pacarku suatu saat nanti?” Cassie terkejut setengah mati terhadapku.
“P—Pacar?”
__ADS_1
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)