
Keesokan harinya, kami semua berkumpul di asramaku. Pada pagi hari ini tidak tampak mentari dan suasana menjadi teduh terhalang awan. Hawa yang kami rasakan juga semakin dingin setiap harinya. Untung saja masing-masing asrama terdapat penghangat ruangan. Kami menggelar karpet lalu duduk melingkar dengan meja lipat besar di tengah-tengah.
Aku yang merasa sejuk membuat rasa kantukku tak kunjung hilang. Ingin rasanya untuk berbaring tidur di kasur. Hal yang sama juga dirasakan oleh beberapa temanku. Masing-masing dari kami saling membaca buku tanpa pertanyaan. Gavin yang sangat mengantuk sesekali turun dari mengangkatnya lagi. Kepalanya berayun-ayun dengan mata yang tertutup.
“Lebih baik cuci mata kalian dulu,” ucap Rein kepada kami.
“Hmm…” balas Gavin pelan.
“Kalau seperti ini bagaimana kita belajar?” lanjut Bella yang merasa jengkel.
“Tunggu lima menit,” sahut Rhean sembari meletakkan kepalanya di atas meja.
“Loh, dia malah tidur. Woi!” lontar Rein membangunkannya.
“Sepertinya memang sulit kalau pagi-pagi,” cetus Gandra sembari melihat Icha yang sudah tertidur pulas meringkuk di atas karpet.
“Haduh… Apa boleh buat,” hembus Bella pasrah yang kemudian ia membaca buku pelajarannya seorang diri, begitu pula dengan Rein yang belajar sendirian. Sementara itu, aku dan yang lainnya tertelungkup di atas karpet. Gandra yang melihat semuanya yang sudah melenceng dari rencana awal lantas mengambil air dari keran ke dalam ember.
“Sepertinya mereka butuh penyegaran,” celetuk Gandra dengan ember berisi air di sebelahnya. Rein dan Bella kemudian menoleh ke arahnya dan terpikirkan sebuah cara untuk mengembalikkan semuanya. Cassie hanya menyaksikan mereka dengan sebuah buku digenggamannya. Mereka berdua mengambil gelas lalu menyiram wajahku. Aku menutup mataku rapat-rapat lalu mengelap wajahku.
“Tiba-tiba hujan deras…” racauku lalu kembali terlelap. Mereka yang bersemangat lantas menyiram wajahku lagi secara perlahan dan tanpa sengaja masuk ke dalam mulutku yang terbuka. Aku langsung terbangun dan batuk-batuk.
“Apa yang terjadi?” lontar kebingungan dan masih setengah sadar. Aku duduk dengan kaki terlipat dan kepala yang terasa sangat berat.
“Bangun!” seru Rein sembari menyiram air ke wajahku. Tubuhku menjadi basah dibuatnya. Aku langsung tersadar dan merasa sangat kedinginan.
“Brrr… T—Tegannya kalian…” gumamku menggigil.
“Cepat mandi sana!” lanjutnya. Akan tetapi rasa kantuk yang sangat membayangi membuatku sulit untuk beranjak bangundan kedua mataku terasa berat sekali. Aku kembali setengah sadar lalu membuka baju yang kukenakan di hadapan mereka.
“Ngapain kau seperti itu di sini?” tanya Bella tak habis pikir. Aku kembali mengigau seraya menggerakkan tangan seperti sedang memegang gayung.
“Aku sedang mandi… Byur…”
“Ini orang melawak atau apa, sih?” gumam Rein sebal, sementara itu yang lainnya lantas tersenyum menahan tawa. Aku merasa kedinginan akibat diterpa udara dingin di sekitarku.
“Airnya dingin sekali…” lanjut gurauku tanpa sadar. Mereka semua sontak tertawa melihatku yang bertingkah seperti anak kecil.
“Hahaha! Jarang-jarang dia seperti ini,” pungkas Bella. Pada akhirnya mereka kehabisan akal tentang bagaimana cara untuk membangunkanku. Hanya ada satu ide yang terlintas di kepala Rein.
“Gandra, kau bisa membawanya ke kamar mandi, kan?”
“Tentu, mau diangkat atau diseret?” celetuknya bercanda.
__ADS_1
“Agak mengerikan juga ya kau,” sahut Bella tersenyum. Gandra pun cengar-cengir ke arah mereka.
“Baiklah, laksanakan!” lontarnya sembari mengangkat diriku lalu membawaku ke kamar mandi. Aku masih terlelap seraya mengigau tidak jelas.
“Lalu, yang lainnya?” tanya Cassie pelan.
“Ya sama seperti tadi,” jawab Rein yang kemudian melanjutkan niatnya bersama Bella dengan senyuman licik.
Cassie yang melihat mereka lantas merasakan perasaan yang tidak enak. Ternyata benar saja, mereka berdua menyiram Gavin, Rhean, dan Icha tanpa ampun. Lantai ruangan menjadi basah dengan air yang bergelimpangan. Pada akhirnya mereka terbangun dengan wajah kebingungan karena pakaiannya yang basah semua.
“E—Eh? Banjir?” ucap Gavin.
“A—Aku jadi kedinginan…” sahut Icha menggigil sembari memeluk dirinya sendiri. Gavin pun beranjak dan berniat mengambil handuk, namun dihentikan oleh Rein.
“Mau ke mana kau?”
“A—Ambil handuk,” jawabnya gemetaran.
“Pakaianmu yang basah menetes ke mana-mana nanti,” balas Rein marah.
“T—T—Tapi… D—Dingin sekali…”
“Salah kalian masih tidur pagi-pagi begini,” sahut Bella. Icha yang juga terkena perbuatan mereka lantas merasa kebingungan dan terharu-haru.
“Kami tidak pandang bulu,” jawab Rein dengan wajah dinginnya.
Di sisi lain, aku yang masih belum terbangun kini berada di kamar mandi bersama Gandra. Ia berniat untuk merendam diriku di air hangat supaya terbangun. Akan tetapi, air hangat tidak kunjung keluar dari kerannya. Ia menjadi kebingungan dan menduga kalau saluran air hangat sedang dalam perbaikan. Dari dalam kamar mandi, ia berseru kepada Rein dan Bella yang berada di ruang tengah.
“Air hangatnya tidak menyala!”
“Semuanya ku serahkan padamu!” sahut Rein.
“Kau yakin?”
“Ya! Lakukan saja sesukamu!”
“Baiklah kalau kau memaksa…”
Ia kemudian mengusap-usap tangannya dan tersenyum licik ke arahku yang masih terpejam mata. Ia langsung mengisi bak dengan air dingin hingga penuh, kemudian melepaskan seluruh pakaianku. Setelah itu, ia meletakkanku bersandar di dinding. Ia mengambil gayung dan langsung menyiram-nyiramiku dengan air yang sangat dingin itu. Sekejap aku langsung terbangun dan terlompat kaget, tetapi ia terus menyiramku seraya tertawa senang.
“Aaaaaa…! Ampun! D—Dingin…!” teriakku sekencang-kencangnya.
“Muahahaha!”
__ADS_1
Ia yang terus berbuat seperti itu lantas membuatku berlari menuju pintu dan berusaha untuk segera membukanya, namun pintu tersebut terkunci rapat. Gavin dan yang lainnya sontak gemetar ketakutan mendengar jeritanku yang mengerikan, disertai pula dengan suara air yang mengguyur diriku. Rein dan Bella kemudian menakut-nakuti mereka seraya tersenyum licik.
“Loh? Kenapa kalian takut?”
“Tenang saja, kalian akan dapat giliran, kok.”
Mereka yang mendengarnya sontak bergumam ketakutan dan ingin rasanya untuk kabur dari asrama ini, tetapi seluruh pintu telah terkunci dan mereka tidak dapat ke mana-mana. Aku yang masih berada di dalam kamar mandi sudah menggigil setengah mati akibat air dingin yang terus membasahi tubuhku. Wajahku tampak pucat dan aku terus merengek minta pertolongan.
“A—Ampun! A—Aku sudah bangun!”
“Supaya kau lebih bersemangat lagi.”
“S—Sudah… Aku jadi tidak enak badan…” balasku yang kemudian bersin-bersin akibat kedinginan.
Beberapa detik kemudian Gandra membuka kunci pintu tersebut dan aku langsung berjalan keluar tanpa penutup apa pun. Mereka semua yang melihatku lantas merasa sangat cemas, terkecuali Rein dan Bella. Aku yang sudah tidak sanggup bertahan akhirnya tumbang dan tak sadarkan diri di atas lantai. Cassie langsung menghampiriku dan mencoba menyadarkanku.
“Sekarang, siapa yang ingin dulu masuk?” tanya Rein kepada mereka bertiga. Mereka yang tidak menyangka kalau hal tersebut masih berlanjut lantas kembali ketakutan seraya berteriak secara bersamaan.
“Tidaaakkk…!”
Masa terus berputar dan sekarang hari telah memasuki waktu siang. Belajar bersama yang menjadi rencana kami semua seketika hancur total. Beberapa temanku tengah keluar untuk membeli obat, sedangkan sebagiannya lagi menemani diriku yang terbaring di atas kasur. Tubuhku menghangat dan kepalaku pusing sekali. Mataku berair dan pandanganku tampak buram.
“J—Jahatnya… kau… Gandra…”
“Maaf, aku hanya menjalankan perintah,” balasnya. Rein mengambil alat pengecek suhu badan lalu melihatnya. Ia terkejut dengan angka yang ditampilkan alat tersebut.
“E—Empat puluh?” lontar Rein tak percaya. Semua orang yang mendengarnya sontak tersentak kaget dan tak percaya.
“B—Benarkah? lanjut Cassie. Rein pun menunjukkan angka tersebut ke arah mereka semua.
“Apa kita harus membawanya ke dokter?” tanya Icha penuh khawatir.
“Tapi di luar sangat dingin sekali,” sahut Rein.
“Akan kupanggil dokter ke sini,” ujar Gandra yang kemudian langsung mengambil ponselnya. Setelah menelpon, ia menunjukkan wajah tak senang.
“Mereka juga sedang banyak panggilan.” Semua orang seketika menjadi sangat cemas. Aku pun berusaha untuk menenangkan mereka semua.
“A—Aku tidak apa… apa…” desisku pelan. Tiba-tiba saja tenggorokanku terasa sakit dan membuatku batuk sekeras-kerasnya, lalu aku kembali tak sadarkan diri. Semua orang menjadi sangat panik dan mencoba menyadarkanku.
“Adelard!”
Bersambung~
__ADS_1
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)