
Kala siang hari yang sangat cerah suasana di koridor dan ruang kelas. Aku tengah berada di ruang pengajar. Setelah kembalinya diriku dari kamar kecil akhirnya aku pergi menemui Kak Fiya yang sedang duduk menungguku. Saat aku duduk di sebelahnya, ia kembali melanjutkan pertanyaannya yang sebelumnya sudah ia mulai padaku.
“Sudah?” tanya Kak Fiya.
“Sudah… Hehe…” balasku cengar-cengir.
“Baiklah, ada yang mau Kakak tanyakan,” tuturnya.
“Oh silahkan, Kak,” ucapku sedikit gugup.
“Jangan tegang-tegang, santai saja,” celotehnya bercanda. Kemudian ia mulai bertanya padaku.
“Olimpiade yang kau ikuti itu matematika?”
“Iya, Kak,” jawabku.
“Olimpiade tingkat apa? Nasional?” Aku mengangguk ke arahnya.
“Wah, hebat sekali…” hembusnya terpukau terhadap diriku. “Kau sekolah di mana?” lanjutnya penasaran.
“Di sekolah negeri dekat sini, Kak.”
“Oh, sekolah asrama itu, ya? Banyak orang-orang hebat di sana,” ujarnya. Aku merasa tersipu mendengarnya.
“Aslinya kau tinggal di mana kalau boleh tahu? Daratan sini?”
“Aku tinggal di Snitheria, Kak.” Sontak ia terkejut mendengar jawabanku kemudian merasa senang.
“Wah! Kita satu tempat asal!” lontarnya.
“Iya, aku juga kaget waktu Kakak bilang dari sana juga,” balasku.
Saat kami asyik mengobrol tiba-tiba saja terlihat Cassie dan Gavin yang sedang berjalan melewati koridor dari balik jendela. Seketika perhatianku teralihkan ke arah mereka berdua. Sementara itu, Kak Fiya terus berbicara ke arahku. Hingga akhirnya ia merasa kebingungan saat melihatku yang memandang ke arah belakang dirinya. Ia berusaha memanggilku namun aku tak kunjung sadar.
“Adelard?” Ia menoleh ke belakang lantaran penasaran terhadap diriku yang terus memandang ke sana. Kemudian ia terheran-heran sembari menoleh-noleh ke arahku lalu berbalik kembali memandang mereka berdua. Saat mereka tak lagi terpandang dari mata lantas aku tersadar.
“M—Maaf, Kak!” lontarku gelagapan.
“Iya, tidak apa-apa…” balasnya tersenyum. “Apa mereka temanmu?” imbuhnya.
“Iya, Kak,” ujarnya.
Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama di dalam ruangan itu kemudian aku keluar dan kembali menuju ruang kelas. Kami melanjutkan pembelajaran hingga hari telah memasuki waktu petang. Kesan pertamaku tentang tempat les ini ialah para pengajar yang masih muda bahkan hanya berjarak dekat dengan umurku.
“Cukup sampai di sini dulu untuk hari ini. Kakak harap untuk pertemuan berikut-berikutnya kita semua bisa lebih semangat lagi.”
“Terima kasih, Kak!” sahut kami serentak.
Kami mengikuti kegiatan les hingga suatu ketika pembelajaran baru saja selesai dan semua orang bersiap untuk pulang. Aku sedikit terheran dengan beberapa temanku yang sedang berkumpul dan membahas sesuatu. Terdapat pula beberapa teman baru yang mereka kenal. Aku yang kurang mengenali mereka lantas hanya mendekat lalu menyimak mereka. Pada akhirnya aku diajak bicara dengan mereka oleh teman-temanku.
“Kau ingin pulang dulu?” tanya seorang temannya Rein.
__ADS_1
“Tentu, aku harus mengambil barang-barangku dulu,” balasnya. Aku menjadi penasaran terhadap mereka.
“Kalian ingin ngapain?” tanyaku.
“Kami ingin menginap!” lontar Rein tersenyum dan nada yang penuh semangat.
“Menginap?” ucapku kebingungan. Rein mengangguk ke arahku lalu mengambil tasnya dari atas bangku.
“Kau mau ikut?” ajak Rein padaku.
“Ikut menginap?” lanjutku heran.
“Ikut pulang ke asrama. Kau tidak boleh sekamar dengan para perempuan, tahu,” ujar Rein.
“Aku juga tidak ingin…” balasku.
“Jadinya kau ikut pulang tidak?”
“Duluan saja, ada yang masih aku mau lakukan di sini,” jawabku.
“Oke, jangan macam-macam, ya,” ucapnya.
“Aku tidak mengerti kenapa kau curiga padaku…” gumamku tak habis pikir.
“Bercanda… Hehe…” tuturnya pringas-pringis yang kemudian mencium pipiku secara tiba-tiba di depan banyak orang.
“W—Waw, serasi sekali ya kalian,” cetus temannya Rein. Ia tersenyum ke arah temannya lalu mengajak mereka pergi.
Aku merapikan tasku yang masih sedikit berantakan. Tidak lama kemudian datang Gavin menghampiriku.
“Tunggu sebentar,” jawabku. Beberapa saat kemudian muncul beberapa orang yang mendatangi Gavin.
“Gavin, kau mau ikut tidak?” ajak mereka.
“Ke mana?” tanya Gavin kebingungan.
“Yang kita bicarakan tadi siang,” jawab mereka.
“Oh iya, aku ikut!” lontarnya bersemangat. Aku yang menyimaknya lantas merasa heran terhadap Gavin dan mereka.
“Maaf, Adelard. Aku lupa kalau sudah ada janji… Hehe…” ucap Gavin cengar-cengir kemudian pergi bersama teman-temannya meninggalkanku. Setelah itu aku berjalan keluar dari ruangan dan menuruni lantai menggunakan lift. Saat lift akan tertutup tiba-tiba saja terdengar suara seorang perempuan. Aku langsung membuka liftnya kembali.
“Cassie? Kukira kau sudah duluan,” ucapku.
“Aku dari ruang pengajar,” tuturnya dengan napas terengah-engah.
Saat lift bergerak turun, aku dan Cassie saling mengobrol. Aku masih tak percaya kalau semua teman-temanku sedang menghabiskan waktu bersama.
“Kau sudah punya teman di sini?” tanyaku.
“Ya, tapi aku tidak terlalu dekat,” jawabnya.
__ADS_1
“Aku juga…” balasku.
“Hampir semuanya menginap di rumah teman mereka…” gumamku.
“Iya… Hanya kita berdua yang tersisa,” tuturnya. Pada saat yang bersaam aku tersadar kalau aku hanya akan berdua bersama Cassie saat di asrama nanti. Cassie juga memikirkan hal yang sama. Seketika suasana menjadi canggung dan wajah kami sama-sama memerah.
“A—Apa kau sudah menjelaskannya pada Gavin?” tanyaku gugup.
“Belum… Aku tidak tahu harus bagaimana…” jawabnya pelan.
“Lagi pula bukannya kita hanya menunggu waktu saja?” imbuhnya.
“Oh iya, ya… Tapi…” ucapku cemas.
“Aku takut kalau kesalahpahaman ini terus berlanjut…” gumamku murung.
“Yah… Ada benarnya sih,” balas Cassie.
Sesampainya di asrama kami menuju kamar masing-masing lalu berberes-beres sebelum menyiapkan makan malam bersama. Cassie berniat untuk membuat sebuah resep yang berasal dari ibunya. Aku menjadi semakin penasaran dengan masakan yang akan dibuatnya. Aku membatunya dengan menyiapkan bahan-bahan sembari mengikuti arahannya.
“Mmm! Harum…!”
“Sebentar lagi jadi!” lontar Cassie senang.
Setelah membuat hidangan, kami menyantap hidangan tersebut bersama-sama. Suasana terasa sangat sepi saat tidak ada Rein dan Gavin. Kami mengiringi santap malam sembari mengobrol. Sesekali suasana sedikit canggung dan kami saling tertunduk satu sama lain. Aku yang merasa gugup sontak tenggorokanku tersedak dan batuk-batuk. Cassie langsung memberikanku segelas air.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Cassie khawatir.
“A—Aku baik-baik saja…” balasku.
Kami melanjutkan santapan hingga piring kami habis. Saat membereskan meja makan, tiba-tiba saja terlintas di benakku untuk mengajak Cassie bersenang-senang saat libur esok.
“Adelard!”
“Cassie!”
Kami saling memanggil satu sama lain pada saat yang sama. Sontak kami saling terkejut dengan wajah tercengang.
“Kau dulu,” ucapku.
“Tidak, kau dulu saja,” balas Cassie.
“Apa kau ingin jalan-jalan besok?” ajakku.
“Aku juga ingin mengajakmu besok,” tutur Cassie tersenyum.
“Wah pas sekali,” hembusku. Saat kami berhadapan di depan kamar kami masing-masing, kami saling berpisah sebelum akhirnya beristirahat menuju pulau kapuk.
“Selamat malam,” tutur Cassie.
“Sampai ketemu besok!” lontarku yang sudah tak sabar dengan hari esok. Tidak lama setelah aku berbaring sektika aku langsung mengantuk lalu tertidur pulas.
__ADS_1
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)