Love Exchange

Love Exchange
Episode 161 : Terjebak Di Kelas Sebelah


__ADS_3

Mentari yang sebelumnya bersinar dengan terang menembus jendela seketika saja terhalang dan suasana menjadi gelap. Terdengar suara gemuruh namun tidak ada air yang turun. Tidak lama kemudian terdengar suara keletak yang mengenai jendela dengan cukup kencang. Ternyata hujan kali ini disertai dengan es yang jatuh dari langit yang dingin. Pendengaran kami menjadi sangat bising akibat suara es tersebut. Dalam memberikan penjelasan, Pak Edwin mengeraskan suaranya ke arah kami.


Di lain sisi, Rein dan teman-temanku yang berada di kelasku lantas kebingungan lantaran aku yang belum kunjung kembali. Beberapa saat kemudian datang guru yang akan mengisi jadwal di kelasku. Rein merasa sangat khawatir akan diriku. Guru tersebut mulai mengabsen para murid satu per satu, sampai akhirnya ia menyebutkan namaku namun terlihat bangku kosong yang tidak lain adalah tempat dudukku.


“Ke mana Adelard?” tanya guru itu. Semua orang lantas terdiam dan tidak tahu akan keberadaanku. Akan tetapi, tiba-tiba saja Gandra menyahutinya sembari mengangkat tangannya.


“Sedang di panggil, Bu!” sahutnya.


“Oh, baiklah kalau begitu,” balas sang guru yang kemudian melanjutkan absen hingga akhir. Rein yang mendengar Gandra sontak menjadi terheran-heran.


“Gandra mengetahuinya? Tapi, bukannya dia hanya mengantar Gavin ke kelasnya?” gumamnya dalam hati.


Gavin dan yang lainnya sedang mengikuti kegiatan praktikum yang sedang berlangsung. Aku yang terus berjongkok di bawah meja Gavin lama-kelamaan membuat kakiku terasa pegal. Sementara itu, semua orang hanya berpura-pura tidak tahu dan tidak berani mengatakannya pada Pak Edwin yang belum menyadari kehadiranku. Aku yang sudah tidak tahan lantas menggerakkan diri untuk kemudian duduk di bawah meja Gavin, namun tanpa sadar kepalaku tersentuk dengan meja tersebut. Sontak Gavin terkejut dengan barang-barang yang berantakan di mejanya.


“Apa itu? Harap kerjakan dengan hati-hati!” lontar Pak Edwin.


“Baik, Pak!” balas semua murid kompak. Kepalaku terasa cukup sakit dan kemudian terlihat Gavin yang menunduk ke arahku.


“Apa yang kau lakukan barusan?” desis Gavin panik.


“M—Maaf, aku tidak sengaja,” balasku gelagapan. Gavin yang sedang mengerjakan praktikumnya merasa kesulitan untuk bergerak karena tidak leluasa akibat diriku yang berada di bawahnya.


“Ada kau membuat tempatku merasa sempit,” ujarnya.


“Yah… Habisnya mau bagaimana lagi?” sahutku. Cassie menjadi tidak fokus karena melihat diriku yang bersembunyi. Akibatnya tiba-tiba saja ia menumpahkan tempat minumnya yang masih terbuka dan akhirnya lantai menjadi basah. Pak Edwin yang melihatnya sontak menjadi kesal.


“Sudah Bapak bilang!” geramnya seraya berjalan menghampiri Cassie.


“M—Maaf, Pak!” tutur Cassie gugup dengan tubuh membungkuk ke arahnya.


“Cepat bersihkan.”


“B—Baik, Pak!”


Terlihat kaki Pak Edwin di hadapanku. Seketika saja aku berkeringat dingin dan berusaha untuk tidak membuat suara dari bawah sini. Aku membetulkan posisiku supaya tidak mudah terlihat olehnya. Tanpa disadari ternyata aku menginjak kaki Gavin yang masih terluka. Gavin yang tidak menyangkanya sontak berteriak spontan di sebelah Pak Edwin.


“Aduh!” Semua orang langsung menoleh ke arahnya dengan wajah terkejut.


“Kau kenapa?” tanya Pak Edwin.


“Ti—Tidak, Pak. Maaf,” jawabnya cengar-cengir.

__ADS_1


“Konsentrasi.” Kemudian Pak Edwin berjalan kembali menuju mejanya di depan kelas. Aku pun menarik napas lega dan mengelap keringat yang sudah membasahi wajahku.


“Huft… Hampir saja…” gumamku. Beberapa detik berselang terdengar suara nyaring dan pelan dari arah Gavin yang kemudian tercium bau yang cukup menyengat dari hidungku.


“Ih! Bau!”


“Maaf, aku lupa kalau ada kau di bawah… Hehe…” balasnya cengengesan. Aku yang tidak tahan lantas berniat untuk pindah ke tempatnya Rhean.


“Aku ingin ke bangku Rhean,” ucapku.


“Tapi, bagaimana?” tanya Gavin tak habis pikir.


“Kita harus lihat temponya,” lanjutku sambil melihat Pak Edwin yang tengah mengawasi kami semua.


Aku pun mencari waktu yang tepat untuk melintar dari barisan bangku menuju barisan di sebelahnya. Pada saat Pak Edwin menoleh ke arah yang berlawanan lantas aku bergegas menuju baris sebelah yang merupakan tempat duduk Cassie. Ia tersentak kaget melihatku yang berada di bawahnya. Ia langsung menunduk dan berbisik kepadaku.


“A—Apa yang kau lakukan?”


“Aku ingin ke tempat Rhean,” jawabku yang menoleh ke atas melihat sesuatu tanpa kusengaja.


“Apa yang kau lihat?” lontarnya gugup sembari merapatkan kakinya.


Setelah merasa aman dari pantauan Pak Edwin aku pun kembali merangkak menuju baris bangku sebelahnya. Terdapat seorang perempuan yang aku tempati di bawahnya. Ia yang tidak menyadarinya sontak terkejut dan merasa tidak nyaman dengan kedatanganku. Aku yang mendengarnya juga ikut tersentak kaget dan terantuk dengan meja.


“Aw!”


“Kenapa yang di sana?” lontar Pak Edwin keheranan.


“Ma—Maaf, Pak! Hanya serangga,” balas perempuan itu. Pak Edwin yang tidak terlalu memikirkannya lantas kembali sibuk di mejanya.


“Maaf, aku hanya ingin lewat,” bisikku yang kemudian kembali berjalan hingga akhirnya aku tiba di tempat duduknya Rhean.


“Hai,” desisku cengar-cengir.


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Rhean kebingungan.


“Ada gas beracun di bangku Gavin, jadi aku ke sini,” jawabku.


“Kenapa kau tidak langsung ke luar tadi?” lanjutnya tak habis pikir.


“Tidak bisa,” balasku.

__ADS_1


Waktu terus berjalan dan tanpa sadar aku hingga terlupa dengan pelajaranku di kelas. Aku merasa sangat cemas akan kehadiranku di kelas, sementara itu Rhean tetap sibuk dengan praktikumnya. Hingga akhirnya terlintas di benakku untuk meminta tolong pada Rhean. Aku memanggil namanya dengan suara pelan, namun ia tidak mendengar panggilanku. Lantas aku menarik-narik celananya supaya ia tersadar.


“Apa lagi?” tanya Rhean yang sedikit jengkel.


“Coba kau minta izin untuk ke toilet,” balasku.


“Memangnya boleh?” lanjutnya tak yakin.


“Coba saja dulu.” Ia pun mengacungkan tangan ke arah Pak Edwin yang kemudian langsung di perhatikan olehnya.


“Bolehkan izin ke toilet?” pinta Rhean.


“Tidak boleh keluar selama praktikum,” ujarnya kepada kami semua. Aku yang mendengarnya lantas hanya bisa pasrah dan tidak tahu harus berbuat apa.


Waktu terus berjalan dan aku hanya bisa berdiam di bawah meja. Hingga akhirnya jam pelajaran akan segera berakhir dan Pak Edwin kembali mengawasi sembari berjalan mengelilingi kelas. Aku langsung bersembunyi dan berusaha tidak membunyikan suara apa pun dari bawah. Tidak lama kemudian bel berbunyi dan Pak Edwin menutup kegiatan praktikum.


“Untuk hari ini sampai sini dulu. Hari pertama masuk pekan depan Bapak tunggu laporan kalian di meja Bapak,” ujarnya.


“Siap, Pak!” lontar para murid serentak dan kemudian Pak Edwin berjalan meninggalkan kelas. Aku pun menarik napas lega dan beranjak berdiri keluar dari bawah meja Rhean.


“Huft… Cukup panas di bawah…” hembusku sembari mengelap wajahku.


“Pasti kau deg-degan, ya?” ucap Rhean tersenyum. Teman-temanku yang lain pun datang menghampiri kami berdua.


“Lebih baik kau bergegas ke kelas sebelum pelajaran selanjutnya dimulai,” tutur Cassie kepadaku.


“Baiklah, terima kasih dan maaf sudah mengganggu kalian,” balasku.


“Aku juga, Adelard! Maaf aku sudah merepotkanmu hingga seperti ini,” sahut Gavin dari tempat duduknya.


“Tidak masalah,” lanjutku berjalan menuju pintu lalu keluar dari kelas.


“Tadi hampir saja,” gumamku pelan. Akan tetapi, tiba-tiba saja aku merasakan sesosok orang yang berada di belakangku. Ketika aku menoleh ke belakang, sontak aku tersentak kaget dan menjadi ketakutan.


“P—Pak Edwin?”


“Ikut denganku ke ruang guru.”


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2