Love Exchange

Love Exchange
Episode 119 : Bertemu Bintang Terkenal


__ADS_3

Lelangitan yang gelap dan disertai dengan bintang-bintang menjadi panorama indah di tengah ramainya aktivitas kota malam. Para pengunjung yang berada di sekitar tempat konser menjadi semakin ramai, seakan-akan kota ini tidak pernah tidur. Semua orang mengarahkan pandangannya menuju aku dan Rein yang sedang bernyanyi duet di atas panggung. Hingga akhirnya kami selesai melantunkan baris lirik terakhir. Sontak semua orang terpukau takjub bersamaan dengan gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai.


“Tepuk tangan untuk saudara Adelard dan Rein!” lontar penyanyi tersebut ke arah penonton. Pada saat yang bersamaan grup musik yang sedang tampil itu juga mengakhiri penampilannya berbarengan dengan kami yang turun dari panggung. Sebelum turun, tentu saja kami berdua mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada grup musik dan para penonton yang hadir.


Ketika berada di bawah panggung, kami diarahkan untuk pergi menuju ruang tunggu untuk para bintang panggung yang akan tampil di konser tersebut. Setibanya di dalam, aku mendadak terperangah tak percaya dengan apa yang tengah aku lihat sekarang, begitu pula dengan Rein yang merasa senang dan syok di saat yang bersamaan. Kami bertemu dengan berbagai figur terkenal dari segala penjuru daratan. Kesempatan tersebut pastinya tak akan kami sia-siakan begitu saja.


“Aku tidak percaya kalau akan jadi seperti ini,” gumam Rein terkesiap.


“Sungguh momen yang sangat langka,” lanjutku ternganga. Tak lama kemudian, seorang figur menghampiri kami berdua. Lantas perasaanku menjadi campur aduk antara girang, gugup, dan terkejut. Orang tersebut berparas cantik dan tampak sangat dewasa. Dengan tutur kata yang halus nan lembut ia berucap kepada kami berdua.


“Halo, nama kalian siapa?” Kemudian aku berusaha untuk tetap percaya diri dan menahan rasa gugup.


“Aku Adelard, dan ini Rein,” ucapku tersenyum kepadanya.


“Wah, nama yang bagus. Kalian juga kelihatan serasi,” balasnya menyeringai lebar. “Sejak kapan kalian berpacaran? Maaf kalau aku sedikit lancang,” imbuhnya mencairkan suasana.


“S…Satu bulan kurang… mungkin…?” jawab Rein sedikit ragu. Ia yang mendengarnya lantas terkejut dengan perkataan Rein barusan.


“Satu bulan? Kalian memang cocok sekali, ya,” sahutnya. “Oh iya, tadi kami semua mendengarkan kalian bernyanyi di panggung, lho…” lanjutnya menambahkan. Aku pun tersenyum malu dan sesekali memalingkan wajah.


“M—Maaf kalau suara kami kurang enak didengar, hehe…” balas Rein cengengesan. Bintang tersebut justru memuji penampilan kami berdua.


“Tidak, kok. Malah suara kalian sangat bagus sekali. Aku sempat mengira kalau itu suara penyanyi professional.”


“T—Terima kasih banyak. Aku bingung harus bilang apa…” ucapku pringas-pringis. Lalu aku mengajaknya untuk foto bersama dengan kamera ponsel milikku.


“Boleh kami minta foto bareng, Kak?”


“Oh, tentu saja. Foto yang banyak, ya. Jarang-jarang terjadi seperti ini, bukan?” jawabnya tersenyum senang.


Kemudian kami berdua foto bersama dengan bintang tersebut dengan berbagai pose. Pada saat yang bersamaan beberapa bintang lainnya mendatangi kami dan tanpa kami sadari kalau semuanya berkumpul di sini. Kami pun foto bersama dengan para bintang yang saling berjajar dengan  kami yang berada di tengah-tengah. Kami juga membuat gambar bergerak dan video bernyanyi bersama.


Aku dan Rein menyanyikan lagu yang sama untuk ketiga kalinya. Aku sangat senang sekali sempat mengabadikan momen langka tersebut di dalam ponselku. Setelah itu kami diberikan masing-masing sebuah kaus bertema festival kali ini dengan tanda tangan seluruh bintang tamu yang hadir di bagian depan dan belakang kaus. Kami pun berpamitan dengan mereka semua lalu berjalan keluar.


“Terima kasih! Sampai jumpa lagi!” lontarku kegirangan.

__ADS_1


“Semoga acara konsernya lancar sampai selesai, dan semoga kami bisa bertemu dengan kalian lagi,” lanjut Rein gembira. Lantas mereka membalas perkataan kami dengan kompak.


“Sama-sama! Semoga hari kalian menyenangkan!”


Selepas keluar dari ruang tunggu, kami melewati pagar yang dijaga ketat oleh petugas keamanan. Tidak ada seorang pun yang diizinkan masuk tanpa kartu pengenal dan akses yang diberikan. Aku merasa sangat beruntung sekali dapat bertemu beberapa idolaku yang selama ini hanya dapat aku lihat di televisi dan media lainnya, tetapi kali ini berbeda karena aku melihat langsung dengan kedua mataku sendiri.


“Hari terbaik yang pernah ada!” lontarku bahagia.


“Aku tidak akan melupakannya!” sahut Rein yang tersenyum lebar seraya melihat pemandangan langit nan indah.


Kami pun berjalan menuju tempat penonton bagian belakang. Di sanalah kami berdua bertemu dengan keempat teman kami yang sedang asyik menyaksikan penampilan grup musik lainnya. Saat kami berjalan mendekat, mereka belum kunjung menyadari kehadiran kami berdua. Lalu terlintas di benakku untuk menjahili mereka berempat.


“Sshh…” bisikku kepada Rein. Rein yang mengerti maksudku lantas berniat sama denganku. Secara perlahan kami pergi menuju belakang mereka. Kemudian dengan kompak kami mengagetkan mereka.


“Ba!” Sontak mereka semua tersentak kaget dengan mulutnya yang latah, terkecuali Gandra yang syok dan mulutnya tertutup rapat.


“Astaga! Kau ini! Bikin orang jantungan saja!” lontar Bella sedikit kesal kepadaku. Icha berusaha untuk berusaha tenang dan membetulkan alur pernapasannya.


“Wii… Nampaknya ada calon artis, nih!” sahut Rhean.


“Walaupun begitu, tapi uangnya banyak, lho…” lanjut Icha menggoda-godaku.


“Untuk apa banyak uang kalau tidak bahagia, iya kan, Lard?” cetus Gandra tersenyum.


“Betul sekali! Aku juga punya cita-citaku sendiri,” jawabku.


“Tapi, dengan uang kan kau juga bisa bahagia,” ujar Icha.


“Tidak semua kebahagiaan bisa dibeli dengan uang, tahu,” sahut Rein.


“Kunci bahagia itu yang penting adalah bersyukur,” lanjutku tersenyum.


“Waw, kenapa tiba-tiba kau menjadi bijak sekali?” sindir Rhean tertawa kecil.


“Entahlah, tapi banyak orang yang mengatakan seperti itu,” balasku. Tak lama waktu berselang, Gavin dan Cassie datang menghampiri kami.

__ADS_1


“Halo, semuanya,” tutur Cassie.


“Kalian pergi kemana saja? Kelihatannya kalian sangat menikmati berdua?” celetuk Rhean kepada Cassie. Sontak Cassie menjadi sedikit jengkel namun gugup di saat yang bersamaan. Ia pun bertanya dengan suara pelan dengan kepala tertunduk ke bawah.


"A—Apa maksudmu?”


“Jangan dipikirkan, Cassie. Anggap saja tadi suara angin,” lanjut Rein menenangkannya.


“Baiklah…” balasnya. “Oh iya, suara kalian berdua bagus sekali,” tambahnya seraya tersenyum ke arahku. Aku yang mendengarnya menjadi tersipu malu dan memalingkan wajah.


“Halah, tadi saat aku yang bilang seperti itu kau biasa-biasa saja,” sosor Rhean menyinggungku. Aku yang semula malu lantas berubah menjadi kesal kepada dirinya.


“Kau kan lain cerita. Lagi pula aku juga tidak tahu kenapa seperti ini,” balasku.


“Oh begitu…” sahut Rhean tersenyum. Melihat Cassie yang terus memandang diriku membuat Rein cepat-cepat menyadarkannya.


“Ekhem, aku ada di sebelah sini, Cassie…” cetus Rein yang berada di sebelahnya.


“E—Eh? Maaf, maaf…” tuturnya gelagapan.


Hari semakin larut dan kami sudah merasa lelah dengan seluruh kegiatan kami  dari pagi hingga sekarang. Lalu kami memutuskan untuk segera pulang ke asrama meskipun terdapat beberapa tempat yang belum kami singgahi. Sepanjang perjalanan kami mengobrol untuk menghilangkan rasa kantuk sejenak.


“Apa tak apa-apa tidak melihat semuanya?” tanya Rein yang merasa masih punya tenaga untuk melanjutkan berkeliling.


“Tidak apa-apa, palingan hanya pameran buku dan semacamnya,” jawabku.


“Konser tadi adalah acara terbesarnya,” lanjut Gandra menambahkan. Kemudian kami membahas tentang penampilanku dengan Rein di atas panggung tadi. Aku pun menceritakan bagaimana caranya sehingga kami berdua dipanggil untuk menghampiri penyanyi tersebut. Tak jarang suasana diwarnai dengan canda tawa. Lantas Rhean berceletuk kepadaku dan Rein.


“Wah, sepertinya aku harus menyiapkan kertas dan pulpen untuk tanda tangan kalian berdua.” Sontak aku menanggapinya dengan tersenyum gurau.


“Boleh saja. Pastikan kertas itu terbuat dari bahan berkualitas, ya!”


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2