Love Exchange

Love Exchange
Episode 108 : Perbicangan Empat Mata


__ADS_3

Pagi hari yang sedikit berawan membuat permukaan menjadi teduh dari pancaran sinar mentari nan terik. Angin yang berhembus halus menambah suasana menjadi adem. Suara dedaunan yang bergemerisik membuat sanubari menjadi tenteram. Hari yang sangat cocok untuk bersantai dan menikmati kedamaian hidup. Langit biru terang yang mencolok menjadi saksi bisu bagi para insan yang tengah menjalani aktivitas-aktivitasnya.


Kala itu, aku bersama teman-teman yang lainnya sedang mengikuti mata pelajaran olahraga. Pada mata pelajaran tersebut, kelasku dan kelasnya Gavin digabungkan untuk melakukan kegiatan pembelajaran bersama. Ruang ganti yang kini aku singgahi menjadi sangat ramai dengan para murid, begitu pula dengan ruangan serupa yang dikhususkan bagi perempuan. Ada saja beberapa murid yang kekuarangan akal sehingga memanfaatkan kesempatan fana tersebut untuk melakukan hal yang tidak senonoh. Aku yang tidak ingin berada di tempat seperti ini, membuatku segera mengganti pakaian lalu pergi menuju lapangan.


Selama langkah kakiku berjalan di lorong koridor bersama Gandra dan kawan-kawan, suatu ketika tiba-tiba saja guru olahraga menghampiri kami dan menyuruhku dan Gandra untuk mengambil net voli yang berada di gudang sekolah. Lantas kami berdua berpisah dengan Gavin dan Rhean dan pergi menuju tempat yang terletak di belakang gedung sekolah, sementara itu Cassie dan kekawanannya sedang asyik mengobrol di ruang ganti bersama teman-teman kelas mereka.


Aku dan Gandra pergi menuju gedung sekolah yang sangat sunyi dan sepi. Tempat tersebut cukup jauh dari tempat keramaian. Saat kami berada di dalam, terbenak di kepalaku ruangan yang sangat gelap dan hanya diterangi oleh cahaya yang masuk dari pintu yang terbuka. Dengan cepat aku segera mengambil barang yang diperintahkan oleh guruku. Aku mencari net voli tersebut berada, sedangkan Gandra melihatku dengan tiga buah bola voli yang ada di tangannya.


“Untuk apa?” tanyaku tak habis pikir.


“Tidak mungkin kau bermain voli dengan net itu saja, kan?” jawabnya. Aku pun tersadar setelah pernyataan Gandra itu.


“Oh iya, aku lupa,” balasku.


Mencari suatu barang di tempat yang gelap merupakan pekerjaan yang cukup sulit. Setelah menghabiskan wakut selama beberapa menit, akhirnya aku menemukan net tersebut, lalu membawanya ke lapangan bersama Gandra. Tampak dari kejauhan orang-orang yang sudah berbaris dengan rapih. Terlihat pula guru olahraga yang tengah berbicara kepada mereka. Setibanya kami menghampirinya, lantas ia kembali meminta kami untuk memasang net tersebut bersama beberapa orang lainnya.


“Jangan lama-lama, ya!” seru guruku kepada kami.


“Baik, Pak!” sahut kami serentak.


Selama kami memasang, guru olahraga itu memanfaatkan waktu tersebut untuk menyampaikan materi tentang permainan bola voli, namun para perempuan memiliki perhatiannya sendiri, yaitu menatap ke arahku dengan tatapan yang cukup mengerikan bagiku. Dengan perasaan sedikit malu, aku memasang jaring tersebut gemetaran.


“Lagi-lagi kau menarik perhatian orang-orang lagi, ya,” cetus Rhean kepadaku bercanda, tetapi aku kebingungan dengan situasi sekarang.


“Apa salahku? Penampilanku? Aku tidak melakukan kesalahan apa pun, kan?” lontarku yang panik sendiri. Sontak mereka semua tertawa dengan tingkahku yang terlalu polos.


“Kau terlalu naif,” celetuk Gavin seraya tertawa.


Setelah itu, kami kembali bergabung dengan barisan yang telah terbentuk. Sebelum memulai pembelajaran, kami semua melakukan pemanasan yang dipandu oleh salah seorang di antara kami semua. Di sisi lain, Gavin hanya menyaksikan kami semua dari pinggir lapangan seraya duduk di atas kursi rodanya.


“Baiklah, ada yang ingin memimpin ke depan?” tanya guru olahraga kepada kami semua. Suasana seketika menjadi hening dan tak ada satu pun yang bersedia menerimanya. Pada suatu ketika, tiba-tiba saja aku bersin dengan suara yang keras sehingga menarik perhatian orang-orang lagi.


“Haduh… Dasar tontonan masyarakat,” hembus Gandra pelan. Hal tersebut membuat sang guru memanggilku untuk maju ke depan.


“Kalau begitu, Adelard, silakan pimpin pemanasannya.”


Dengan cepat, wajah mereka tampak senang, terlebih lagi para perempuan yang berseri-seri menatapku. Rein tidak ingin situasi seperti ini terus berlanjut, kemudian ia menatapku dengan tajam seakan-akan mengancamku. Sontak aku langsung meneguk air liurku sendiri dengan penuh rasa takut kepadanya. Tanpa pikir panjang, aku langsung memulai pemanasan.


Selepas melakukan pemanasan, akhirnya kami semua dibagikan menjadi beberapa tim untuk permainan nanti. Pembagian tim yang masing-masing terdiri dari enam orang sebelumnya telah dipisahkan antara laki-laki dan perempuan. Aku mendapati Gandra yang berada di tim yang sama. Pertandingan pun dimulai untuk para laki-laki terlebih dahulu. Pertandingan dilakukan dengan menggungakan sistem gugur tunggal. Bagi tim yang berhasi menang hingga final, tentu saja akan mendapat penilaian yang lebih baik.


Pertandingan demi pertandingan pun berlalu setelah beberapa waktu berjalan. Beberapa tim mulai berguguran satu per satu. Tim Rhean berhasil lolos menuju babak berikutnya. Kini saatnya aku dan Gandra bertanding melawan tim lainnya. Sang guru olahraga itu meniup peluitnya dan pertandingan di mulai.

__ADS_1


Bermain permainan olahraga tentu saja membuat orang-orang menjadi berkeringat basah, begitu pula denganku. Pakaian olahraga yang tengah aku kenakan menjadi basah semua. Hal yang serupa juga terjadi dengan teman-temanku yang telah bertanding maupun yang sedang bertanding sekarang. Keadaan tersebut membuat para penonton perempuan tergila-gila dengan penampilanku. Berbagai seruan terlontarkan dari mulut mereka.


“Ayo semangat, Adelard!”


“Adelard keren!”


“Kau idaman kami semua!” Sontak Rein yang mendengarnya membuat dirinya mengeluarkan hawa yang mengerikan. Orang-orang yang berada di sekitarnya mendadak menjadi bergemetar takut.


“K—Kau ti—tidak apa-apa, k—kan, R—Rein…?” tanya seorang teman yang berada di sebelahnya. Lalu, bisikan pun menyebar dari mulut ke telinga satu per satu.


“Jangan cari mati dengan Rein…”


Tak lama kemudian suasana menjadi larut seperti biasa. Tak ada lagi yang menyerukan namaku dari mulut mereka. Kebanyakan dari mereka terdiam meskipun ada beberapa di antara mereka yang masih memberikan semangat kepada timku. Aku menjadi kebingungan dengan apa yang sedang terjadi.


“Apa yang barusan terjadi kepada mereka?” benakku. Tidak lama berselang aku melihat Rein yang tengah duduk dan tampangnya yang sangat mengerikan.


“A—Aku mengerti sekarang…” gumamku gugup dalam hati.


Akhirnya pertandingan dimenangkan oleh timku. Semua orang bersorak-sorai kepada kami. Kemudian pertandingan berlanjut hingga pada akhirnya kami memenangkan pertadingan final. Tidak ada hadiah apa pun yang diberikan sang guru kepada kami, namun tepuk tangan menyambut kemenangan kami. Aku sudah sangat senang dengan itu.


“Adelard, kau hebat sekali,” puji Bella kepadaku. Aku juga mendapat berbagai pujian dari teman-temanku.


“Gandra juga hebat,” tutur Cassie tersenyum. Gavin yang mendengarnya lantas menjadi sedikit iri dan murung lalu membuat kami semua merasa kasihan kepadanya.


Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan pertandingan bagi para perempuan. Selama pertandingan, Rein mengerahkan seluruh kemampuannya. Ia juga melampiaskan rasa kegeramannya saat memukul bola tersebut. Pertandingan final akhirnya dimenangkan oleh tim Bella dan Rein.


“Kau melakukannya sangat baik,” ucapku kepada Rein.


“Terima kasih,” balasnya tersenyum. Raut mengerikan yang sebelumnya terpampang di wajahnya mendadak berubah drastis.


Seusai kami mengikuti pelajaran olahraga. Aku ditugaskan untuk mengembalikkan net menuju gudang sekolah. Setibanya aku di sana, ternyata ada Cassie yang tampak sedang menunggu seseorang. Dengan rasa kebingungan aku pun menghampirinya dan bertanya.


“Kau sedang apa di sini?”


“Aku ingin berbicara denganmu,” ucapnya yang gugup dan tersipu malu.


“Harus di sini?”


“I—Iya.” Aku dan Cassie yang hanya berdua di tempat seperti ini membuatku sedikit khawatir akan kesalahpahaman apabila ada seseorang yang melihat kami, terlebih lagi kondisi di lapangan masih ramai dan bisa saja seseorang menyadari keberadaan kami berdua.


“Kita bicara di dalam saja,” ucapku.

__ADS_1


“E—Eh? Kenapa?” balasnya yang gelagapan dan salah tingkah.


“Sekolah ini berbahaya, ada isu kecil saja langsung menyebar cepat,” jelasku.


“Baiklah, aku mengerti.”


Kami berdua pun masuk ke dalam gudang tersebut dengan pintu yang terbuka lebar agar cahaya dapat masuk dan menerangi ruangan. Kemudian terjadilah pembicaraan di antara kami berdua.


“A—Aku tidak sempat bertanya padamu kalau ada orang lain…”


“Jadi kau ingin kita bicara empat mata?”


“Bisa dibilang begitu… Dan sepertinya sekarang waktu yang tepat.”


“Lalu, apa yang ingin kau tanyakan?” Cassie pun bertanya dengan nada yang sedikit tertahan dan gugup.


“K—Kenapa kau berpacaran dengan Rein?” Aku yang mendengarnya lantas terkejut, namun aku bisa kembali tenang dengan cepat.


“Yah… waktu itu terjadi sangat spontan sekali. Awalnya aku juga menolaknya.” Mendengar perkataanku membuat Cassie tersentak kaget dan semakin penasaran kepadaku.


“T—Terus, kenapa kau menerimanya? Padahal kau bilang waktu itu kalau kau tidak tertarik dengan hal seperti itu, kan?”


“Tentu saja aku tidak tertarik… T—Tapi, dia mengatakan kalau aku harus memiliki pengalaman tentang hal seperti itu.”


“Dan juga, ternyata tidak seburuk yang kukira,” tambahku.


“K—Kenapa harus Rein?” tanya Cassie kembali.


“Karena kejadian waktu itu…”


“Jadi kau tidak benar-benar suka padanya?”


“Tidak,” jawabku singkat. Kemudian Cassie yang berdiri di hapadanku terdiam sejenak dan menghalangi jalanku. Dengan nada pelan aku meminta untuk memberiku jalan seraya diriku yang berjalan menghampirinya.


“Cassie, aku ingin lew—”


Namun tiba-tiba saja aku menginjak bola tenis tanpa sadar dan membuatku terjatuh ke arah Cassie. Kami berdua terjatuh dengan Cassie yang tergeletak di lantai dan aku yang berada di hadapannya dengan posisi seperti merangkak. Kami berdua lantas terdiam dan menatap satu sama lain. Pada saat yang bersamaan terdengar suara bola terjatuh dari arah luar. Ternyata terdapat Gandra yang berdiri syok di luar ruangan. Aku dan Cassie saling bertatapan dengan Gandra. Kami berdua juga melongo dan syok terhadapnya. Sontak aku berucap kepada Gandra dengan nada yang kalang kabut.


“Ini semua hanya salah paham!”


Bersambung~

__ADS_1


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2