Love Exchange

Love Exchange
Episode 35 : Bodoh


__ADS_3

Keesokan harinya ketika di kelas Cassie masih tampak sedikit sedih. Namun sepertinya ia sudah mulai menenangkan diri. Saat bel istirahat berbunyi ia langsung bergegas menuju perpustakaan. Aku yang ingin


beranjak dari tempat duduk dan menyusulnya terhalang oleh dua kecoak ini.


“Pasti dia kecewa…” resah Freda. “Aku menjadi merasa bersalah padanya.” ucapku pelan. “Setidaknya ia dapat lebih tenang dengan mengingat wisata kita, kan?” tutur Hart tersenyum bangga. “Cih, ini semua gara-gara kau, beruk.” sesalku dalam hati. Hart hanya tergelitik tawa mendengarku. “Hehehe…” Freda menjadi terkejut sekaligus terheran-heran dengan diriku dan Hart.


“Wisata?” tanya Freda bingung sekaligus penasaran. “Iya, mereka asyik berduaan, lho.” sindir Hart. “Jaga ucapanmu!” tegasku kepadanya yang lagi-lagi menarik banyak perhatian sekitar. “Ini semua juga gara-gara kau, tahu!” imbuhku lagi. Tak lama kemudian suasana reda dan kembali normal.


“Santai-santai.” ucap Hart pringas-pringis. Milard dengan tenang menyimak kami. “Tapi apa itu benar?” tanya Freda yang masih penasaran.


“Iya.” jawabku pelan dengan kepala menunduk.


“E—Eh?” semburnya terkejut. Raut terperangah juga terpasang pada wajah Milard. Untung saja orang-orang lain tidak mendengarnya. “Ke mana?” lanjut tanya Freda. Kemudian aku menjelaskan dari awal kejadian. Akhirnya Freda dan Milard dapat mengerti kejadian yang sebenarnya.


“Namun orang ini ada saja alasannya!” geramku sambil menunjuk jariku ke arah Hart. “Apa rencanamu sebenarnya?” tanyaku kesal kepadanya.

__ADS_1


“Kupikir kalian serasi, jadi aku mencoba untuk mendekatkan hubungan kalian.” jawabnya mengalir begitu saja.


“Apa-apaan jawabmu itu?” balasku murka.


“Yah… Tapi menurutku itu benar juga, sih.” cetus Freda memikirkan hal tersebut. “Eh? Kau juga?” tanyaku bingung. Lantas aku bertanya pada Milard yang hanya terdiam sejak tadi. “Apa kau juga berpikiran sama?”


“Mu—Mungkin…?” jawabnya gugup kebingungan harus menjawab apa. Aku menghela napas terhadap respon mereka. “Asal kalian tahu, aku tidak tertarik dengan hal itu sama sekali. Hmmph!” ucapku kesal sambil memalingkan muka. “Lalu bagaimana dengan dia?” tanya Hart ingin tahu. Freda dan Milard menyimakku dengan tatapan serius. Lalu aku menjawab pertanyaannya.


“Entahlah saat itu wajahnya sering memerah.” jawabku polos kebingungan. “Terus apa yang kau lakukan?” tanya Freda yang juga penasaran. “Aku mengecek suhu di dahinya menggunakan tanganku, namun wajahnya makin memerah.” Sontak Freda menjadi senang dan membuatku risih.


“Bodoh!” umpat Hart kecewa kepadaku. “Hah? Bodoh?” tanyaku bingung sekaligus jengkel. “Sepertinya kau harus banyak belajar lagi, ya…” hembus Freda pelan menyindirku sambil menahan tawanya. “Ngaca woi!” ketusku padanya.


“Tapi tenang saja! Aku akan membimbingmu untuk masa depan yang cerah.” cetus Hart bangga dan penuh optimis kepadaku.


“Aku juga!” sahut Freda bersemangat.

__ADS_1


“Terserah kalian sajalah.” balasku pasrah sambil menghela napas.


“Tapi kau harus belajar dengan sungguh-sungguh. Karena ilmu ini tidak akan kau dapatkan dari buku-buku itu.” tambah Hart.


“Betul sekali!” sahut Freda. Aku yang masih heran tidak mengerti tentang apa mereka bicarakan. “Apa kau mengerti, Mil?” tanyaku kepadanya.


“Yah… aku mengerti sedikit-sedikit… Hehe…”


“Apa yang kau mengerti?’ lanjut tanyaku lagi.


“Sulit dijelaskan.” jawabnya singkat.


Setelah itu kami menghabiskan bekal sebelum bel kembali berbunyi.


Bersambung~

__ADS_1


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2