Love Exchange

Love Exchange
Episode 175 : Seluncur Es di Danau


__ADS_3

Pagi hari yang cerah beberapa hari setelah badai yang sangat buruk, kami bersiap menuju tempat berseluncur yang terletak tidak jauh tempat ski yang kami kunjungi kemarin. Bersama-sama kami menaiki bus kecil dengan rute yang sama dengan kemarin. Tampak suasana yang belum begitu ramai karena tempat tersebut baru saja buka.


“Sepertinya kita yang paling awal di sini…” gumam Gavin seraya melihat sekitar.


“Bagus! Kita bisa menikmati danau ini seperti milik kita sendiri!” lontar Bella bersemangat lalu berseluncur dengan sepatu seluncur yang telah dikenakannya.


“Cepat sekali… Langsung main,” sahut Rhean yang kemudian langsung memakai sepatunya juga.


Aku pun mengenakan sepatu seluncur di tepi danau. Teman-teman yang sudah mengenakannya lantas beranjak dan berseluncur di atas lapisan beku itu. Setelah itu, aku berdiri perlahan dan berusaha untuk menyeimbangkan diri. Rein yang melihatku sontak langsung menghampiriku dengan rasa khawatir. Ia ikut membantuku beranjak.


“Kau bisa, kan?” tanya Rein.


“Kau sangat meremehkanku, ya?” balasku menyeringai sebelah.


“B—Bukan seperti itu…” lanjutnya gelagapan sekaligus kebingungan. Saat aku dapat berdiri tegak sontak aku berseluncur dengan kencang mengelilingi danau itu. Semua orang seketika tercengang melihat diriku yang seperti itu.


“Wah, kau jago sekali!” seru Bella dari kejauhan.


“Kau sangat tak mau diremehkan…” gumam Rein ternganga. Ketika aku telah mencapai satu putaran penuh kemudian Rein ikut berseluncur bersamaku.


“Maaf aku meremehkanmu,” ucapnya tersenyum.


“Tak masalah… Aku bisa memakluminya,” balasku yang juga menyeringai ke arahnya. Kami berseluncur bersama dan saling mendahului satu sama lain. Aku yang tak ingin merasa kalah darinya lantas mempercepat lajuku lalu berseluncur mundur seraya menghadap ke arahnya.


“Sudah lama aku tidak seperti ini,” lontarku padanya sembari berlagak sombong lalu melanjutkan seluncurku dengan cepat.


“Sekarang kau yang meremehkanku…” gumam Rein tersenyum lalu mempercepat langkahnya. Aku yang terlalu fokus melihat ke depan tanpa sadar ada Rein di sampingku.


“Hai!” ucapnya menyeringai seraya berpose dua jari ke arahku. Aku membalasnya dengan senyuman lalu berusaha melampauinya.


“Kau ingin balapan, ya?” ucapku.


“Siapa takut,” balasnya. Beberapa detik kemudian terdengar suara Bella berseru ke arah kami sambil melambaikan tangan.


“Adelard! Rein!”


“Finish-nya sampai Bella, ya,” lanjutku.


“Oke.” Kami pun berdampingan mengambil posisi awal di garis yang sama. Aku pun menghitung waktu mundur seraya mengambil posisi siap sedia.


“Satu… Dua…”


“Tiga!”

__ADS_1


Kami berdua langsung berakselerasi dengan cepat. Melihat Rein yang berada di sampingku lantas aku berusaha untuk melangkah sejauh mungkin. Aku membungkukkan tubuhku agar dapat berseluncur dengan sangat cepat. Akan tetapi Rein juga melakukan teknik yang sama sepertiku. Hingga pada akhirnya aku teringat bahwa terdapat atlit seluncur es yang amat terkenal.


“Oh iya, anggap saja sama seperti sedang berlari,” benakku. Aku melakukan cara tersebut dan berhasil berada di posisi depan.


“B—Bagaimana bisa…?” gumam Rein tak percaya.


“Haha! Sudah kuduga cara seperti ini akan bekerja!” lontarku senang.


“Oh, begitu cara mainmu, ya?” balasnya tersenyum licik.


“Apa?” sahutku kebingungan seraya menoleh ke arahnya.


Ia melakukan sebuah teknik yang sebelumnya tak pernah terbayang olehku. Ia membungkukkan tubuhnya lalu meletakkan kedua tangannya sejajar dengan kepalanya. Tanpa melangkah ia hanya cukup berseluncur dengan posisi seperti itu. Gaya yang dilakukannya persis seperti perenang yang ingin lompat dan memecah air. Hingga akhirnya ia dapat mengimbangi posisi dan kami saling bersebelahan.


“Cara apa itu?” tanyaku tak habis pikir.


“Kau hanya perlu memanfaatkan gaya yang sudah ada,” balasnya tersenyum.


“Tidak mungkin dia memikirkan fisika di saat seperti ini, kan?” gumamku dalam hati tak percaya. Aku yang sudah melangkah dengan cepat tanpa aku ketahui ternyata membuatku kehabisan banyak tenaga.


“Kau sudah lelah?” ujarnya meremehkanku.


“Tentu saja belum,” jawabku yang sudah mulai terengah-engah.


Bella yang melihat kami dari kejauhan lantas memfokuskan pandangannya ke arah kami dengan wajah yang kebingungan. Sementara itu, kami telah semakin dekat dengannya. Teman-temanku yang lainnya sedang berseluncur di tengah danau. Pada akhirnya mereka semua memandangi kami lalu bersorak dan menyemangati kami.


“Ayo Adelard!”


“Rein! Kau pasti bisa!”


“Aku memegang Adelard,” balas Gavin.


“Aku berani bertaruh pada Rein,” sahut Bella. Setelah itu mereka langsung berteriak kencang ke arah kami. Aku yang melihatnya sontak berusaha untuk dapat memenangi pertandingan ini.


“Mereka semakin dekat. Apa itu tidak terlalu kencang?” batin Bella terheran-heran. Saat kami tampak sangat jelas dipandangannya seketika saja ia menjadi panik dan kikuk sendiri.


“Diam di tempat!” lontarku. Ia berdiam diri dan tak bergerak sedikit pun.


Pada saat-saat terakhir kami saling beradu kecepatan dan berusaha untuk melewati Bella terlebih dahulu. Akhirnya aku dan Rein secara bersamaan melewati Bella yang berada di antara kami. Dengan kecepatan seperti itu membuat Bella syok dan ternganga diam bagai patung. Tubuhnya bergetaran dan takut kalau akan terjadi hal yang tak mengenakkan.


“Huft… Akhirnya aku menang…” gumamku terengah-engah.


“Kau? Sudah pasti aku yang menang,” bantah Rein.

__ADS_1


“Bella, siapa yang menang?” tanyaku. Bella tampak sangat ketakutan dan masih tak menyangka dengan peristiwa yang baru saja ia alami.


“K—K—K—Kalian… S—Seri…”


“Yah! Sedikit lagi padahal!” lontarku kesal.


“Aku sudah sangat yakin kalau aku menang tadi,” ucap Rein. Mereka semua yang berada di tengah kemudian datang menghampiri kami.


“Tidak, Adelard! Aku sudah bertaruh padamu!” seru Gavin kecewa.


“Kalau kau menang, aku juga menang terhadapnya,” sahut Bella ke arah Rein.


“Aku sudah mengerahkan semuanya,” lanjut Rein tersenyum.


“Kalian agak jahat memperlakukan Bella seperti garis finish,” ujar Icha.


“Maaf… Hehe…” balasku cengengesan.


“Kau tidak apa-apa, kan?” tanya Cassie pada Bella.


“A—Aku ti—tidak apa-apa…” jawab Bella gemetaran.


“Dia jadi ketakutan gara-gara kalian,” cetus Gandra. Kami pun menghampiri Bella dan berusaha untuk menenangkannya. Bella pun duduk di tepi danau dan ia menyaksikan kami bersama Rein.


“Minumlah… Mungkin kau akan merasa lebih tenang,” ucap Rein. Bella meminumnya kemudian menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan.


“Huh… Jantungku hampir copot tadi…” hembusnya.


“Maaf…” balas Rein lalu mereka berdua saling mengobrol.


Aku bersama yang lainnya bersenang-senang di tengah danau. Tampak para pengunjung mulai ramai di tempat ini. Kami melakukan beberapa gaya seraya berseluncur. Rhean Icha yang berseluncur kemudian melompat dengan lekuk tubuhnya yang lentur. Seketika saja aku terbayang di benakku bahwa gerakan tersebut sangat mirip seperti dansa.


“Kau lentur sekali,” ucap Gavin kagum.


“Terima kasih,” balas Icha tersenyum.


“Aku haus, ayo kita kembali ke tepi,” ajak Rhean dan kami pun mengikutinya. Aku yang berada di paling belakang mengikuti mereka sembari bermain-main. Tiba-tiba saja terdengar suara seorang perempuan berteriak memanggil namaku.


“Adelard!” Aku langsung menoleh kebelekang dan seketika tersentak kaget.


“Freda? Hart?”


Bersambung~

__ADS_1


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2