
Langit sudah menggelap dengan mentari yang sudah tak terlihat lagi. Kami baru saja melewati momen indah kala sang surya sirna dari cakrawala. Hawa semakin dingin dan kami langsung mengenakan pakaian tebal lalu melihat rembulan yang tampak lebih besar dari biasanya. Rein membuatkan coklat panas untuk kami berdua. Angkasa belum menghitam sempurna dan bintang-bintang masih tertutupi oleh sinar senja yang tersisa.
“Brrr… Dingin juga ternyata di sini,” hembus Rein yang menggigil dan langsung merapatkan tangannya.
“Pastinya. Apalagi tidak lama lagi musim dingin akan tiba. Di asrama saja sudah mulai sejuk,” balasku yang kemudian menyeruput secangkir coklat panas. Kami duduk di bangku balkon bersampingan dengan pandangan ke atas melihat lukisan malam di angkasa.
“Sepertinya aku ingin ambil selimut,” ucap Rein beranjak dari bangkunya. Pada saat yang bersamaan aku tersadar bahwa balkon tempat kami berada ternyata cukup luas.
“Apa di sini ada matras atau apa pun itu?” tanyaku padanya.
“Seharusnya sih ada. Memangnya kenapa?” ujarnya.
“Bagaimana kalau malam ini kita tidur di sini?” usulku. Tanpa pikir panjang Rein langsung menyetujui usulanku.
“Wah, ide bagus! Malam ini tampak sangat indah, lebih baik kita menikmatinya,” tandasnya bersemangat.
“Baiklah, kau ambil selimut dan bantal, aku mencari matras, ya,” ucapku yang juga beranjak dari dudukku.
“Oke!” sahutnya sembari bergegas menaiki tangga. Aku yang berjalan di ruang tengah lantas kebingungan untuk mencari matras tersebut. Hingga akhirnya terbesit di benakku untuk mengecek lemari yang sama saat Rein mengambil tripod tadi sore.
“Mungkin saja di situ ada,” gumamku seraya menatap ke arah lemari itu. Sesaat aku ingin membuka lemari, kepalaku terus berpikir dan aku tidak berharap banyak dengan lemari itu. Seketika aku merasa tidak yakin. Lantas aku bergumam dan meremehkannya sambil membuka pintu lemari.
“Heh, tidak mungkin lemari ini serba ada—” cetusku yang tiba-tiba saja tercengang saat melihat gulungan matras yang berada di dalam lemari.
“Benar-benar ada…” gumamku tak percaya. Rein turun dari tangga dengan selimut dan bantal yang menutupi dirinya. Kedua tangan yang memegang bantal sedangkan selimut ia apit dan sangkutkan di kepalannya.
“Susah juga membawa semua ini,” pungkasnya berjalan di ruang tengah.
“Apa kau sudah menemukan mat— Kau kenapa?” lanjutnya yang terheran-heran melihat diriku yang hanya terdiam dan terperangah. Rein yang tidak memikirkannya lantas kembali berjalan menuju balkon.
“Kalau sudah ketemu segera bawa ke sini, ya!” lontarnya. Setelah itu, ia duduk di bangku dan menikmati coklatnya sembari menunggu diriku.
Sudah beberapa menit aku masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Beberapa detik kemudian aku tersadar dan akhirnya aku membawa sepasang matras. Tampak Rein yang sedang meneguk tetes terakhir coklat yang tersisa di cangkirnya. Aku menggelar matras tersebut lalu meletakkan bantal dan selimut yang telah dibawakan Rein sebelumnya.
“Di mana kau menemukannya?” tanya Rein penasaran.
“Lemari itu,” jawabku sambil menunjukkannya.
__ADS_1
“E—Eh? Lalu, kenapa kau hanya diam di sana?” lanjutnya terkejut.
“Yah… Aku hanya tidak percaya kalau benda ini bisa benar-benar ada di lemari itu,” balasku. Rein datang ke arahku kemudian berbaring di matras yang sudah kugelar.
“Wuah… Akhirnya badanku lega,” lontarnya sembari meregangkan tubuhnya.
Aku pun juga berbaring di matrasku yang tepat berada di sebelahnya. Seketika tubuhku menjadi rileks ditambah dengan pemandangan yang langsung menatap ke atas langit. Segala beban pikiranku mendadak hilang dan jiwaku terasa sangat tenteram. Kami berdua berbaring dengan beratapkan bintang-bintang yang berkilauan.
“Semoga saja nanti tidak mendung. Kalau hujan bisa-bisa kita kena demam,” ucapnya seraya memandang langit.
“Cuacanya sangat cerah sih, bahkan hanya ada sedikit awan. Kita beruntung,” sahutku dengan tatapan ke atas pula.
Suasana menjadi sepi dan syahdu dengan suara makhluk malam yang bersenandung dengan harmonis. Irama alam yang menyenangkan telinga membuat diriku terlarut dengan cepat, tidak seperti hawa perkotaan yang bising dan panas. Terdengar pula suara aliran air yang tipis. Terdapat sungai yang berada di bawah lereng gunung dari tempat kami berada. Suatu ketika terlihat hujan meteor yang menghiasi angkasa dengan sangat indah.
“Lihat! Ada bintang jatuh!” lontar Rein girang. Aku yang mendengarnya sontak terkejut dan menatap ke langit yang berhadapan langsung denganku.
“Wah, indah sekali,” decakku takjub.
“Ayo kita memanjatkan harapan!” lanjutnya bersemangat.
“Harapan? Apa akan benar-benar terkabul?” balasku kebingungan.
“Tentu saja aku dengar, aku juga pernah anak-anak. Tapi, bukannya itu hanya dongeng?” tandasku.
“Tidak ada salahnya mencoba,” jawabnya lalu ia menggenggam tangannya sembari menutup kedua matanya dan dengan kepala yang menghadap ke atas. Ia pun berharap selama beberapa saat. Aku hanya melihat dirinya dari samping. Selepas itu, ia membukakan kembali kedua matanya.
“Loh, kau tidak melakukannya? Cepat! Sebelum semuanya berakhir,” ujarnya.
“Oke, oke, aku akan melakukannya,” balasku. Aku duduk bersimpuh lalu menghadapkan kepalaku ke atas. Aku menggenggam tanganku seraya berharap dengan penuh kesungguhan. Aku melakukannya cukup lama sampai-sampai membuat Rein kebingungan sekaligus penasaran terhadapku.
“Kau tampak benar-benar serius dengan harapanmu,” gumamnya.
“Tentu, kita hidup hanya sekali, kan?” balasku.
“Apa aku boleh mengetahuinya sedikit?” lanjutnya.
“Rahasia. Mungkin akan terjawab suatu saat nanti dengan mata kepalamu sendiri,” jawabku tersenyum seraya menghadap ke langit. Ia pun mendekatkan tubuhnya lalu bersandar di pundakku.
__ADS_1
“Baiklah, biar waktu yang menjawab segalanya…” tuturnya menyeringai.
Tanpa sadar hari sudah semakin larut dan dinginnya malam mulai menusuk-nusuk kulit kami. Kami menutup seluruh tubuh kami dengan selimut serta kami juga mengenakan sarung tangan dan kaus kaki. Akhirnya kami menenangkan diri dan bersiap untuk tidur. Panorama yang sangat indah membuat kami suntuk namun kami tidak ingin mengakhirinya begitu saja.
“Sebuah anugerah bisa hidup dan melihat surga dunia,” gumamku bahagia.
“Wah, tumben sekali kau menjadi bisa di saat-saat seperti ini,” balasnya Rein bercanda.
“Bukan aku bijak. Hanya saja aku mensyukuri apa yang telah aku dapatkan hari ini dan hari-hari sebelumnya,” ucapku pelan.
“Benar juga… Dengan begitu kita bisa bahagia,” sahut Rein.
“Mungkin ini satu-satunya pengalaman yang tidak akan kita dapatkan lagi seumur hidup,” imbuhnya.
“Mungkin saja, kita cuma berjalan ke depan tanpa tahu apa yang akan terjadi,” lanjutku. Kami pun saling bersahut-sahutan satu sama lain dengan wajah menyeringai sukaria.
“Jika saja semua orang melihat keindahan malam ini…”
“Tampaknya dunia akan menjadi lebih damai seperti yang kita rasakan saat ini…”
“Andai saja langit tidak pernah merasa sedih…”
“Tentu kita tidak akan tahu rasa pahit…”
“Bagaimana kalau tidak ada bintang-bintang?”
“Lalu untuk apa pula kita diciptakan kalau tidak ada tanda kebesaran Sang Pencipta?”
“Berarti semuanya saling terhubung, kan?”
“Pastinya.”
Kami sudah merasa sangat suntuk dan tak bisa melanjutkan percakapan. Dengan perasaan senang hati kami mengucapkan kata-kata terakhir sebelum memejamkan mata dan pergi menuju alam bawah sadar.
“Selamat malam…”
“Malam… Semoga kita bisa selalu berkilau seperti bintang malam ini…”
__ADS_1
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)