
Pagi hari yang cukup berawan membuat suasana menjadi teduh. Orang-orang yang sedang bersantai di ruang terbuka saat ini kini ditutupi oleh atap langit. Waktu yang terus berputar membuat kondisi semakin ramai dengan para murid yang menghabiskan akhir pekan dengan bersantai dan mengobrol. Saking penuhnya tempat ini, ada banyak orang yang sampai membawa tikar untuk di gelar di pinggir jalan. Aku bersama teman-temanku tengah membicarakan buku tentang percintaan.
Aku yang menaruh fokus ke tiap-tiap halaman, kemudian membaca sebuah pernyataan yang membuatku kebingungan. Lantas aku mengeja hingga berulang-ulang kali supaya mengerti, namun hal tersebut tidak berhasil. Karena tidak menemukan jawaban akhirnya aku bertanya kepada yang lainnya.
“Ada beberapa tanda yang muncul tanpa sadar ketika sedang jatuh cinta, apa itu?” Kemudian Rhean menjawab pertanyaanku dengan wajah yang tampak sangat tahu akan hal tersebut.
“Ya, ada beberapa tanda yang kau alami ketika kau sedang jatuh cinta dengan seseorang.” Aku yang mendengarnya justru semakin terheran-heran dengan jawabannya.
“Hah?”
“Jawabanmu barusan tidak menjawab apa-apa,” sahut Gandra seraya tersenyum menahan tawa. Gavin yang sedikit tahu kemudian bertanya untuk memastikan pengetahuannya itu.
“Contohnya seperti selalu menatap wajahnya, bukan?”
“Nah iya, maksudku seperti itu,” cetus Rhean membenarkannya, sementara itu Gandra mengangguk ke arahnya.
“Lalu apa lagi?” lanjut tanyaku penasaran.
“Coba kau buka halaman berikutnya,” balas Gandra. Aku pun membalikkan selembar halaman lalu tertulis jawaban yang aku inginkan.
“Oh iya, kan ada buku ini,” gumamku dalam hati. Ketika aku membaca, aku dibingungkan lagi dengan sebuah pernyataan yang tidak masuk ke benakku.
“Jadi orang yang sedang jatuh cinta jantungnya berdebar-debar?” tanyaku.
“Ya, biasanya tanda itu yang paling sering muncul dan mudah disadari,” jawab Gandra.
“Tapi kenapa harus seperti itu?” lanjut tanyaku yang masih belum mengerti.
“Yah… Itu artinya kau masih hidup,” sahut Gavin. Dengan polosnya aku menyadari perkataannya itu.
“Oh iya, betul juga…”
“Asal! Bukan seperti itu,” lontar Rhean. Lantas aku kembali bertanya kepadanya.
“Apa bedanya dengan yang biasa-biasa?” Rhean yang ingin menjawab pertanyaanku sontak juga kebingungan.
“Eee… Aku juga tidak terlalu mengerti… Hehe…” balasnya cengengesan.
“Mungkin dadamu terasa sesak dan mudah berkeringat,” celetuk Gandra yang juga ragu dengan perkataannya. Tak lama kemudian sang penjual minuman mengantarkan pesanan kami lalu meletakkannya di atas meja. Melihat buku yang terlintas di pandangannya sontak membuat penjual tersebut tersenyum dan berceletuk kepada kami berempat.
“Wah, sepertinya ada obrolan para lelaki di sini.”
“Iya nih, Pak… Hehe…” sahutku cengar-cengir.
__ADS_1
“Saya jadi teringat masa remaja dulu,” lanjutnya.
“Seperti apa kisah cinta Bapak dulu?” tanya Gavin penasaran.
“Aduh, Bapak juga sudah lupa-lupa ingat, Dik,” jawab penjual tersebut seraya tertawa kecil dan menggaruk-garukkan kepalanya.
Ia pun menceritakan beberapa pengalaman bersama pasangannya saat dahulu kala. Kami berempat mendengarkannya dengan saksama sembari meminum minuman yang telah kami pesan sebelumnya. Lantas aku merasa terpukau dengan kisah yang diceritakannya, begitu pula dengan teman-temanku. Terdapat beberapa kejadian yang hampir serupa dengan apa yang aku alami saat bersama Rein. Hingga akhirnya ia mengakhiri cerita dan kami mengetahui beberapa hal baru.
“Wah, romantis sekali Bapak,” puji Rhean tersenyum.
“Yah… meskipun hanya ala kadarnya saja…” balasnya menyeringai.
“Aku yang bahkan pergi ke tempat yang terbilang cukup mewah saja, tidak merasa begitu romantis dengan Rein,” benakku.
“Asal hati sudah terikat, apa pun yang dilakukan akan terasa menyenangkan bersama-sama,” ucap Gandra yang juga tersenyum.
“Tepat sekali!” sahut Bapak itu. Beberapa saat berlalu, sang penjual kembali di sibukkan dengan beberapa pesanan orang-orang yang memanggilnya.
“Kalau begitu, saya balik kerja dulu ya, Dik.” Sebelum pergi meninggalkan kami, ia sempat menyampaikan beberapa kata kepada kami semua.
“Semangat terus, ya. Jangan sia-siakan masa muda kalian.”
“Terima kasih banyak, Pak!” seru Gavin senang.
Setelah itu, kami melanjutkan pembiacaraan kami berempat. Hingga suatu ketika, hari sudah semakin terik dan awan telah pergi dari atas kami. Kami baru sempat membaca sepertiga bagian dari buku tersebut. Lalu kami memutuskan untuk pergi dari taman belajar dan berjalan-jalan santai mengelilingi kompleks sekolah. Akan tetapi, cuaca yang begitu panas membuat kami berkucuran keringat.
“Iya, panas sekali…” sahutku sembari mengelap wajahku dengan pakaianku.
“Bagaimana kalau kita pergi berenang?” ajak Rhean bersemangat.
“Berenang di mana?” tanya Gavin kebingungan.
“Di kompleks ini kan ada gedung akuatik. Kita pergi ke sana saja,” jawab Rhean. Aku yang mendengarnya lantas sedikit terkejut.
“Loh, memangnya boleh?” Lalu Rhean kembali menjawab pertanyaanku dengan sangat yakin.
“Tentu saja, semua fasilitas kan tersedia untuk para pelajar di sini.”
“Baiklah kalau begitu,” sahut Gandra.
Kami berempat kemudian pergi menuju gedung akuatik yang tidak jauh dari tempat kami berada sekarang. Terik matahari yang membakar membuat kami mempercepat langkah kami. Terlihat dari kejauhan sedikit keramaian di luar gedung tersebut. Sesampainya di dalam gedung, kami dikejutkan dengan suasana yang cukup ramai dengan orang-orang. Aku merasa seperti layaknya berada di taman air publik.
“Ramai sekali di sini. Mereka tidak semuanya anggota klub renang, kan?” tanya Gavin yang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
“Ya, tempat ini kan bebas untuk siapa saja,” jawab Rhean. Kemudian kami pergi menuju ruang ganti klub renang untuk berganti pakaian dengan baju renang milik klub tersebut, tetapi saat kami melihat setiap loker, tidak ada satu pun baju renang yang tersisa.
“Yah… kosong semua. Bagaimana ini?” tanyaku.
“Kita pakai pakaian dalam saja,” sahut Rhean yang tidak sabar untuk masuk ke dalam air.
“Oh iya, pantas saja banyak orang yang juga seperti itu,” lanjutku tersadar.
Setelah itu, kami kembali menuju kolam renang. Aku yang mendorong kursi roda Gavin lantas meletakkannya di pinggir dekat dengan tempat duduk yang tersedia. Kemudian kami bertiga berlari menuju kolam dan melompat. Gavin yang masih cedera itu hanya bisa melihat kami bertiga dari kejauhan.
“Ah… Segarnya…!” lontar Rhean merasa lega.
“Hanya tidak ada perosotan di sini,” balasku. Beberapa waktu berselang, kami akhirnya kembali naik ke pinggir dan pada saat itulah kami bertiga bertemu dengan Bella dan Icha dengan baju renang yang mereka kenakan.
“Halo semua! Kalian juga ada di sini ternyata,” ucap Bella.
“Iya, habisnya di luar panas sekali,” sahut Rhean.
“Apa kau sedang latihan klub hari ini?” tanyaku penasaran.
“Tentu tidak. Ini kan hari libur,” jawab Bella tersenyum.
“Oh iya, di mana Gavin?” tanya Icha. Lantas Gandra menengadahkan kepalanya ke arah tempat Gavin berada seraya berkata, “Tuh.” Kemudian Bella mengajakku untuk ikut melompat dari papan lompat tertinggi seperti waktu itu.
“E—Eh?” Tapi aku hanya seperti ini,” balasku sedikit khawatir.
“Ayolah, seru tahu!” ajaknya yang penuh ceria. Aku pun dengan pasrah mengikutinya dari belakang, sementara itu yang lainnya kembali melompat ke dalam kolam dari pinggir. Setibanya kami berdua berada di atas, lantas Bella menantangiku sebuah tantangan.
“Ayo kita lihat lihat siapa yang lebih dulu sampai di bawah!”
“Ayo, siapa takut,” balasku. Kami berdua berdiri di atas papan lompat yang bersebelahan. Lalu Bella memberi aba-aba dan menghitung mundur.
“Satu, dua, tiga!” Sontak kami berdua melompat dan bergaya menukik ke bawah untuk mendapatkan kecepatan penuh. Aku berhasil lebih dulu muncul ke permukaan, namun pada saat yang bersamaan aku merasakan sesuatu yang aneh.
“Yes! Aku menang!” lontarku senang. Kemudian Bella yang menghampiriku sontak memalingkan wajahnya dengan penuh rasa malu.
“Adelard!” Aku yang kebingungan lantas melihat ke arah bawah. Pada saat itu juga aku terkejut sejadi-jadinya.
“Astaga! Aku tidak menyadarinya!” Di sisi lain, teman-temanku sedang asyik bermain bersama. Mereka sedang memainkan permainan menahan napas di dalam air. Permainan berhasil seri lantaran mereka muncul ke permukaan di saat yang bersamaan, tetapi Icha kebingungan dengan sesuatu yang berada di kepalanya.
“Icha, apa yang ada di kepalamu itu?” tanya Rhean yang juga terheran-heran. Icha pun mengambilnya dan baru menyadarinya.
“E—Eh? pakaian dalam siapa ini?”
__ADS_1
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)