Love Exchange

Love Exchange
Episode 168 : Musim Dingin Tiba


__ADS_3

Mentari tampak jelas di langit yang cerah dengan letaknya yang hampir berada di puncak. Orang-orang sedang berhamburan tak tentu arah. Teman-temanku sedang berada di depan majalah dinding yang berada lantai bawah gedung sekolah. Banyak kerumunan yang terjadi di sana akibat beberapa lembar pengumuman tentang perbaikan nilai.


“Syukurlah tidak ada nilai di bawah rata-rata di antara kita,” gumam Bella senang.


“Iya, aku bisa menghabiskan waktuku untuk bermain,” balas Gavin.


“Kau pikirannya hanya main terus, ya,” sahut Rein.


“Kan baru saja kita melewati pekan ujian, jadi kita harus menyegarkan pikiran kita dan membuang semua beban,” balas Gavin.


“Kira-kira bagaimana dengan Adelard dan Rein, ya?” lanjut Icha penasaran.


“Semoga saja mereka bisa mengerjakannya dengan lancar,” ucap Rein.


Di sisi lain, aku dan Cassie baru saja keluar dari ruang guru yang telah selesai mengerjakan ujian susulan. Kami berjalan di sepanjang koridor dan terlihat beberapa murid yang sibuk akan urusannya masing-masing. Tampak juga sebagian dari mereka yang berlarian dengan terburu-buru. Kami saling membahas tentang soal-soal yang diujikan tadi.


“Kau mengingat semua yang telah dipelajari, kan?” tanyaku.


“Iya, untung saja kita sudah pulih tidak lama setelah hari itu,” ucapnya yang kemudian tersenyum ke arahku.


Ia yang sedang memandangiku lantas terdengar  suara pijakan cepat dari belakang. Aku langsung menoleh ke belakang dan terdapat beberapa orang yang berlari ke arah kami. Dengan cepat aku menarik Cassie dan tanpa sengaja memeluknya. Cassie yang tak menyangkanya sontak terkejut dan terdiam tanpa kata-kata.


“Jangan berlarian di koridor!” lontarku kesal ke arah mereka.


“Maaf, kami sedang buru-buru!” sahut mereka.


“Ada-ada saja tingkah mereka,” gumamku sebal. Cassie yang ingin menyadarkanku lantas tidak tahu untuk berkata apa. Ia masih syok dengan tindakanku yang spontan. Sementara itu, aku masih memandangi mereka yang terus berlari di sepanjang koridor dari kejauhan.


“A—Adelard…?” gumam Cassie pelan. Aku yang baru tersadar seketika saja terkejut dan langsung melepas Cassie tanpa sadar.


“M—Maaf! Aku tidak bermaksud…”


“T—Terima kasih sudah menyelamatkanku…” tutur Cassie tertunduk malu.


“Kesannya seperti jadi superhero saja,” benakku dalam kepala.

__ADS_1


“Bu—Bukan masalah,” balasku tersenyum kepadanya. Seketika saja suasana menjadi canggung dan kami saling memalingkan wajah satu sama lain. Wajahku memerah dan begitu pula dengan Cassie.


“E—Eh? Kenapa tiba-tiba aku jadi begini?” gumamku dalam hati. Cassie tertunduk malu dan menghadap berlawanan denganku. Aku yang tidak ingin situasi seperti ini terus berlanjut lantas melakukan sebuah cara.


“A—Ayo kita pergi menemui yang lain,” ucapku gelagapan.


“A—Ayo,” balasnya yang juga gugup.


Sesampainya di kelas, kami kebingungan karena tidak melihat Rein dan yang lainnya di sana. Lantas aku bertanya kepada temanku yang berada di kelas. Setelah mengetahui keberadaan mereka, kami pun langsung bergegas menuruni tangga menuju lantai bawah. Langkah kami sering kali tersendat karena keramaian yang menghalangi kami. Saat berada di tangga Cassie memperingatiku.


“Pelan-pelan saja…” tuturnya.


“Oh iya, terima kasih sudah mengingatkanku,” balasku. Aku pun melambatkan langkahku dan berjalan berdampingan dengannya. Hingga akhirnya kami telah berada di lantai bawah lalu melihat-lihat sekitar dan mencari mereka.


“Adelard! Cassie! Sebelah sini!” lontar Rein dari kejauhan. Kami langsung menoleh dan bergegas menghampiri mereka.


“Kenapa ramai sekali di sini?” tanyaku kebingungan.


“Tuh,” jawab Gavin sembari menunjuk ke arah papan mading itu.


“Tidak ada nama kalian di sana,” cetus Gandra.


“B—Benarkah?” tanyaku terkejut tak percaya.


“Kalau tidak percaya coba cari saja sampai ketemu,” balas Gandra.


“Baiklah kalau kau berkata begitu,” lanjutku memercayainya.


“Tapi… Aku kurang yakin pada saat mengerjakan,” tutur Cassie pelan.


“Syukurlah kita tidak perlu mengulangnya lagi,” ucapku padanya.


Sepulang sekolah kami bergegas pulang menuju asrama. Aku dan beberapa temanku langsung menyalakan konsol gim lalu memainkannya. Sementara itu, Rein dan yang lainnya berniat untuk pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli perbekalan bahan selama musim satu minggu ke depan. Kami menghabiskan hari ini dengan bersenang-senang bersama.


Tidak lama kami bermain gim, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak dan mengambil udara segar di depan asrama. Gavin menyalakan televisi dan tidak sengaja membuka saluran berita nasional. Terdapat berita bahwa akan ada badai salju yang akan terjadi beberapa hari lagi. Aku dan yang lainnya langsung mengalihkan fokus ke berita tersebut.

__ADS_1


“Untung saja Cassie dan yang lain membeli bahan makanan,” gumam Gavin.


“Berarti akan libur sekolah,” sahut Rhean.


“Kan memang sebentar lagi akan libur musim dingin,” balasku datar.


“Oh iya, benar juga,” lanjut Rhean teringat.


Setelah mengetahui berita tersebut, Gavin mengubah saluran televisi itu namun hampir semuanya sedang menayangkan berita yang sama. Beberapa saat kemudian Rein dan yang lainnya pun datang. Rein yang baru membuka pintu lantas bergegas menuju dapur untuk meletakkan bahan-bahan menuju rak dan kulkas. Hingga pada akhirnya tanpa sengjaja ia mendengar berita yang penting tersebut.


“Akan ada badai?” tanya Rein tak percaya. Aku membalasnya dengan mengangguk ke arahnya.


“Kita akan terperangkap di asrama,” lanjut Bella pelan.


“Memang biasanya seperti itu, kan?” ujarku.


“Kalian seperti belum pernah merasakan musim dingin saja,” cetus Gandra.


Hari semakin larut dan kami pun menyantap makan malam bersama di asramaku. Kemudian kami melanjutkan bermain hingga tengah malam. Rein dan yang lainnya asyik mengobrol di ruang tengah. Pada akhirnya kami semua bermain dan bersenang-senang bersama. Tidak lama kemudian tiba-tiba saja mataku terasa berat dan dengan cepat aku langsung terlelap, begitu pula dengan yang lain.


Keesokannya, kami semua terbangun dari tidur di ruang tengah dan kami dibuat kaget dengan jam yang telah menunjukkan waktu masuk sekolah. Kejadian seperti itu kembali terjadi lagi. Kami langsung bergegas menuju gedung sekolah. Untung saja tidak terdapat penjagaan yang ketat tidak seperti kala itu. Dengan mudah kami dapat masuk ke dalam sekolah.


“Huft… Syukurlah kita tidak kenapa-kenapa,” hembus Bella terengah-engah.


“Hampir saja,” lanjut Icha.


Tidak terdapat pembelajaran lagi hingga hari terakhir di semester ini. Beberapa hari ke depan hanya dimanfaatkan untuk memperbaiki nilai dan menyelesaikan tugas yang belum dikumpulkan. Kami yang sudah tidak memiliki tanggungan lantas hanya mengobrol di dalam kelas. Hal yang sama kami lalui sampai hari terakhir masuk sekolah.


Bel terakhir berbunyi di hari terakhir masuk sekolah. Semua orang langsung berhamburan pulang dengan rasa penuh senang, termasuk kami. Setelah keluar dari gerbang sekolah, dengan penuh semangat kami menyambut liburan yang sudah ada di depan mata. Gavin berlari dengan merentangkan tangannya ke atas seraya berteriak kencang.


“Liburan, kami datang!"


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2