Love Exchange

Love Exchange
Episode 132 : Festival Kembang Api


__ADS_3

Suatu petang di tengah akhir pekan, kami berempat bersiap-siap untuk pergi menuju tempat festival. Aku dan Gavin yang telah lebih dulu selesai lantas menunggu Rein dan Cassie. Mereka terlihat sedang kesulitan untuk mengenakan pakaian tradisional. Setelah sekian waktu menunggu, akhirnya mereka menyelesaikannya. Kemudian kami berempat datang menghampiri teman asrama sebelah. Tampak mereka sudah menunggu kami di depan koridor.


“Sudah siap semua?” tanya Bella.


“Sudah!” balas Gavin bersemangat.


“Kalian berempat terlihat cantik sekali,” ucap Gandra kepada para perempuan itu. Sontak mereka menjadi tersipu dan senang pada saat yang bersamaan.


“Terima kasih…” balas Bella.


“Ayo kita jalan!” lontar Icha.


“Ayo!”


Kami pun melangkahkan kaki di sepanjang trotoar tengah kota. Suasana sekitar diramaikan dengan berbagai kendaraan yang melintas serta orang-orang yang juga mengarah ke tujuan yang sama. Terdapat banyak perempuan yang mengenakan pakaian tradisional. Rein yang berada di sebelahku lantas berusaha untuk meraih tanganku. Untung saja aku dapat membaca maksudnya. Aku pun memegang tangannya. Gavin merasa iri setelah melihat kami berdua.


“Apa aku boleh bergandengan tangan dengannya?” gumam Gavin dalam hati. Beberapa detik berselang tiba-tiba saja Cassie menggeggam tangan Gavin dan membuat Gavin terkejut.


“Tidak apa-apa, kan?” tutur Cassie pelan.


“Ti—Tidak masalah!” sahut Gavin gelagapan. Teman-temanku yang berada di belakang kami berempat lantas merasa senang. Pada saat itu pula mereka mengetahui jawaban dari kejadian di perpustakaan kala itu.


“Semuanya terjawab sudah,” celetuk Gandra. Aku pun menoleh ke belakang karena kebingungan dengan perkataannya. Akan tetapi, seketika aku sangat terkejut dengan apa yang sedang kulihat sekarang.


“Apa mak— E—Eh? Se—Sejak kapan kalian berpacaran juga?” lontarku tak percaya. Gavin, Cassie, dan Rein juga tersentak kaget sekaligus melongo dan terperangah. Terlihat Gandra yang bergandengan tangan dengan Bella, sedangkan Rhean bersama Icha.


“Mungkin bisa dibilang kita akrab…?” jawab Bella ragu.


“Ta—Tapi kalian saling bergandengan tangan…” balas Gavin.


“Kami hanya mengikuti kalian saja,” lanjut Gandra tersenyum.


“Betul, kami juga ingin seperti kalian,” sahut Icha.


“Kalau begitu, kenapa kalian tidak berpacaran saja?” usul Rein.


“Bagaimana menjelaskannya, yah…” jawab Bella bimbang.


“Lebih baik kita lanjut jalan dahulu saja,” ucap Gandra. Kami pun mendengarkannya lalu kembali berjalan menuju pusat kota.


Sesampainya di sana, mentari sedang terbenam dan tinggal menyisakan sebagian wajahnya yang masih terlihat. Tampak beragam kios yang berjajar di sepanjang jalan seperti biasa. Lampu-lampu yang bercahaya kuning kejinggaan bergantung-gantung menerangi tempat festival. Kami masih berjalan bersama-sama. Hingga akhirnya kami harus berpisah karena tujuan yang berbeda-beda.

__ADS_1


“Aku ingin ke sana.”


“Kami ingin ke sebelah sana.”


Aku melanjutkan langkah kaki mengelilingi taman bersama Rein, Cassie, dan Gavin. Langkah kami terhenti di sebuah kios makanan di pinggir jalan.


“Apa kau ingin itu?” tanya Rein kepadaku.


“Boleh, ayo kita ke sana,” balasku.


“Kalian ingin titip?” lanjut Rein.


“Ya. Oh iya, kami juga ingin membeli minuman di sana. Kalian juga mau kan?” jawab Gavin kemudian ia kembali bertanya kepada kami. Aku pun mengiakan pertanyaannya. Kami berempat lantas saling berpisah dan kami datang menghampiri penjual makanan itu.


“Kami pesan masing-masing empat buah,” ucap Rein.


“Semua jenis?” tanya sang penjual dengan heran.


“Iya,” jawab Rein tersenyum.


“Oke,” balasnya. Ia pun menyiapkan pesanan kami. Sembari menunggu, kami menyaksikan ia yang sibuk memasaknya. Tidak lama kemudian ia mengajak kami untuk mengobrol.


“Program pertukaran pelajar?”


“Iya,” jawabku menyeringai.


Di lain sisi, Gavin dan Cassie menghampiri sebuah kios minuman ringan. Gavin memesan empat minuman kepada penjual itu. Tanpa waktu lama, mereka berjalan kembali dengan dua gelas yang berada di masing-masing tangan mereka. Tempat yang sangat ramai dan penuh dengan lalu-lalang pengunjung membuat mereka kesulitan untuk berjalan. Tiba-tiba saja ada seseorang yang menyenggol Cassie dan membuatnya terjatuh. Dengan cepat Gavin menahan dirinya dengan tubuhnya. Minuman yang berada di tangan mereka tertumpah sedikit.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Gavin khawatir.


“I—Iya, aku baik-baik saja. Terima kasih…” Lalu dengan tangan yang penuh lengket mereka berjalan menghampiri kami berdua yang sudah berada di bangku taman.


“Ini titipan kalian,” ucap Gavin.


“Kenapa tangan kalian basah?” tanyaku kebingungan.


“Yah… Tadi ada sesuatu terjadi…” jawab Gavin cengengesan.


“Syukurlah minumannya hanya tumpah sedikit,” celetuk Rein.


“Kau lebih mementingkan minuman daripada kami?” balas Gavin sebal.

__ADS_1


“Tentu!” lontar Rein tersenyum dan menyindirnya. Kemudian kami menempati bangku taman tersebut. Namun aku dibuat heran dengan bangku taman yang amat panjang ini.


“Apa betul ini bangku taman?” tanyaku heran.


“Iya juga, ya. Aku baru lihat bangku taman seperti ini,” balas Rein.


“Lebih baik kita menyantap makanan ini saja,” sahut Gavin.


Kami berempat menikmati makanan dan minuman yang ada. Aku dan Rein saling duduk bersebelahan, begitu pula dengan Gavin dan Rein. Ditemani suara bising keramaian dan harum wangi makanan menjadi saksi bisu kejadian kami saat ini. Suasana yang seperti itu lantas membuat Rein melakukan sesuatu yang tidak sempat terpikirkan olehku.


“Adelard, buka mulutmu.” Cassie yang melihat kami sontak melakukan hal serupa kepada Gavin.


“Aaaa…” ujar Cassie sembari mengulurkan makanan yang berada di tangannya ke arah Gavin. Tanpa pikir panjang Gavin langsung memakannya. Kemudian waktunya giliranku dan Gavin untuk melakukan hal tersebut kepada mereka berdua.


“Enak?” tanya Gavin kepada Cassie.


“Hmm…! Enak!” balasnya tersenyum.


Tak terasa waktu terus berjalan hingga akhirnya jam telah menunjukkan bahwa pertunjukkan kembang api akan segera dimulai. Kami yang baru saja menghabiskan semua makanan langsung bergegas menuju sungai yang berada tidak jauh dari pusat festival. Tempat itu sangat tepat untuk menyaksikan keindahan kembang api dan kota secara bersamaan. Seketika jembatan dan tepi sungai itu di penuhi dengan lautan manusia. Aku pun merangkul Rein supaya tidak terpisah denganku. Hal yang sama juga dilakukan Gavin kepada Cassie.


Berada di pinggir pagar pembatas kami berdiri sembari menunggu pertunjukkan tersebut. Terlihat banyak pasangan yang juga berada di sekitar kami. Kami pun saling mengobrol dan membagi canda tawa. Terdengar sebuah rumor kalau tepat saat kembang api pertama menyala di angkasa, pada saat tersebutlah segala permohonan dapat terkabul. Terlebih lagi jika terdapat sebuah pasangan yang saling berciuman dengan penuh ketulusan, maka cinta mereka akan sejati.


“Rumor dari mana itu? Apa itu benar?” ujar Rein bertanya-tanya.


“Entahlah, aku juga baru tahu kalau ada kepercayaan seperti itu,” balasku.


Tidak lama waktu berselang, akhirnya terdengar suara pengumuman kalau pertunjukkan akan segera dimulai dalam hitungan detik. Secara bersama-sama, semua pengunjung menghitung mundur. Kami semua berdiri dan saling berhadap-hadapan dengan pasangan kami. Aku dan Rein saling menatap mata dengan wajah yang bahagia, begitu pula dengan Gavin dan Cassie yang berada tepat di belakangku.


“Sepuluh. Sembilan. Delapan…” Lantas aku dan Rein saling mendekat.


“Tiga, dua, satu!”


Sontak kembang api pertama menyala dengan sangat terang dalam waktu yang cukup lama. Aku yang melangkah sedikit demi sedikit tiba-tiba saja terpeleset akibat manginjak kulit pisang yang berasal entah dari mana. Sembari memegang pundak Rein, aku terjungkal ke belakang dan mendorong Gavin. Aku dan Rein terjatuh dengan posisi yang saing berpelukan di atas tanah. Tanpa sadar, kami saling berciuman satu sama lain. Sementara itu, Gavin yang terdorong lantas mencium Cassie tanpa sengaja. Pada saat itu, terdengar suara jepretan kamera yang berada di samping kami.


“Foto yang indah sekali…” Kemudian terdengar suara bapak-bapak yang sedang tergelitik tawa. Kami berempat pun menoleh ke arah mereka. Seketika kami terkejut syok setengah mati setelah mengenal mereka. Dengan wajah tercengang, terlontar sebuah kata dengan cukup keras secara bersamaan dari kami semua.


“Ayah?”


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2