Love Exchange

Love Exchange
Episode 54 : Penghujung Tahun


__ADS_3

Jarum weker yang menunjuk utara dan selatan menandakan benang baru mulai terpilin, namun cakrawala yang kelabu tidak memperkenankan binar mentari hadir menembus awan.. Pasir putih yang akan segera bergulir menutup rentang album sekolah selama satu semester ini.


“Gwrr… Dingin sekali…” lontar Freda sembari mendekap kedinginan.


“Untung saja ini hari terakhir sekolah,” lanjut Hart menambahkan. Sementara itu aku hanya menyimaknya saja.


“Tapi lebih baiknya lagi kita mengakhiri tahun ini dengan hal yang tak terlupakan waktu itu,” tutur Freda tersenyum bahagia.


“Betul sekali. Itu merupakan festival terbaik yang pernah kulihat. Apalagi suasana kerajaan yang membuatku seperti kembali ke masa lalu sungguhan,” sahut Hart ceria seraya mendangakkan kepalanya ke atas. “Ditambah lagi dengan paduka raja yang membuatku hampir meleleh,” lantur Freda sambil membayangkannya. Lantas aku menjadi malu dan jengkel di saat yang bersamaan.


“Sudahlah… Jangan dilebih-lebihkan,” ujarku gugup kepada mereka.


“Ayolah, tidakkah kau berpikir itu hebat. Itu semua berkatmu,” ucap Freda cengar-cengir.


“Tidak. Itu semua berkat kalian semua,” balasku.


“Bijak sekali ucapanmu barusan. Kau benar-benar cocok menjadi seorang raja,” puji Hart dengan nada menyindir.

__ADS_1


“Raja Adelard Lavient,” celetuk Freda. Lama-kelamaan aku menjadi sebal dengan tingkah mereka.


“Sudah, sudah,” tuntutku.


“Sayangnya sang raja yang asli tidak tertarik mencari pasangan…” papar Hart tersenyum licik. “Padahal aku ingin sekali menjadi ratu,” seloroh Freda penuh harap.


“Wah, wah… kode, kode, kode,” lontar Hart bercanda.


“Ayolah, aku tidak ingin seperti itu. Aku ingin bersekolah biasa dahulu,” gumamku geram kepada mereka. Sontak Freda terkejut dan tersipu malu.


“Eh? K—Kau mengerti maksudnya tadi?” tanya Freda menguncup malu. “Entahlah. Tapi yang pasti kalian tadi menyindirku, kan?” sahutku sedikit bingung. Lantas Freda menarik napas lega.


“Freda? Kau demam?” tanyaku cemas. Lalu Freda tiba-tiba berlari sembari berteriak keras dan panjang.


“Adelard bodohhhh…!” Aku tidak habis pikir dengan apa yang dilakukannya. Aku hanya melongo berdiri diam.


“A—Apa yang terjadi dengannya?”

__ADS_1


“Kasihan… Alien tidak dapat membaca situasi,” sindir Hart kepadaku kemudian ia melanjutkan langkahkah. Aku yang tertinggal di belakang kemudian berlari menghampirinya.


“Hah? Apa maksudmu?” tanyaku penasaran.


“Suatu saat kau akan mengerti,” jawabnya tenang.


“Apa? Ayolah, Hart. Sudah sekian kalinya aku mendengar kalimat itu teru—.” cakapku yang saking penasarannya seperti anak kecil namun langsung terpotong dengan telunjuk Hart yang menempel menutup bibirku.


“Sstt… Kau akan memahaminya sendiri,” bisik Hart sambil tersenyum. Saat itu juga membuatku merinding dan terdiam kebingungan. Dengan gagahnya Hart pergi meninggalkanku lagi. Tak lama berselang kami mendengar suara histeris dari lorong.


“Ada yang pingsan!” teriak salah satu perempuan dari lantai atas.


Aku yang masih berada di bawah tidak jauh dari gerbang bersama dengan Hart tidak tahu apa yang barusan terjadi. Seketika perhatian tertuju dengan teriakan tersebut. Untung saja tim kesehatan dengan sigap meresponnya. Aku dan Hart melanjutkan jalan menuju kelas.


Tidak ada pembelajaran pada hari terakhir ini. Kami hanya membereskan dan mengemas barang-barang yang sekiranya penting dari loker kelas. Setelah itu kami semua mengikuti upacara penutupan semester ganjil di aula. Pada penghujung tahun ini aku menutup lembar buku tahunanku seraya berharap.


“Semoga sekolah ini tetap baik-baik saja.”

__ADS_1


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2