Love Exchange

Love Exchange
Episode 55 : Rekreasi Dadakan


__ADS_3

Hari-hari terus berganti menguras usia tahun yang akan segera berganti. Pasir putih mulai menutupi tanah dan hawa semakin dingin. Para insan yang mengurung diri di dalam tiap-tiap kandangnya tidak ingin menantang angkasa bak beruang kala ini.


Aku yang juga tidak memiliki agenda kegiatan apapun menghabiskan liburan musim dingin ini dengan bermain dan menonton film. Tidak banyak kegiatan lain selain itu. Menghabiskan waktu di kamar merupakan solusi yang tepat menurutku untuk menikmati duniaku sendiri sekaligus beristirahat dari kekonyolan sekolah yang melelahkan.


Kali ini aku tengah bermain gim petualangan fantasi. Waktu demi waktu aku habiskan untuk mengulang-ulang permainan untuk mendapatkan barang yang aku inginkan di gim tersebut. Tidak ada yang mengganguku termasuk adikku yang juga sibuk dengan dunianya sendiri. Sampai suatu ketika ia masuk ke dalam kamarku tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Aku yang tidak sadar dengan kehadirannya masih terfokus dengan layar di hadapanku.


“Abang!” teriak adikku tepat di samping telingaku dengan tangannya menepuk kedua bahuku bersamaan. Sontak aku lompat terkejut dari bangku. Jantungku serasa ingin copot dibuatnya.


“Woi! Aku hampir jantungan, tahu!” bentakku geram kepadanya. Akibat ulahnya aku kalah dalam pertarungan di gim yang tengah ku mainkan.


“Turunlah ke bawah! Jangan mengurung diri di kandang terus!” ujar adikku serius kepadaku. “Untuk apa aku turun?” tanyaku yang tengah fokus mengulang kembali pertarungan tersebut. Saat itu juga adikku mematikan konsol gimku. Lekas ia juga berucap kesal kepadaku.


“Lihatlah sendiri di bawah! Ada yang menunggumu!” lontarnya. Aku pun terdiam kemudian menuruti perkataannya. Tidak biasanya ia marah seperti ini.


Ketika aku turun dari tangga dan menuju ruang tamu, terlihat Hart dan Freda sedang asyik mengobrol di bawah dengan ayahku. Seketika aku lemas dan berpikir yang  aneh-aneh akan terjadi kepadaku. Tak lama kemudian Hart menoleh ke arahku dan menyapaku.


“Halo, Alien!” sapanya dengan semangat kepadaku. Ternyata udara yang amat dingin ini tidak menyurutkan energinya sama sekali. “Kapan sekali-kali kau lemas dan tidak melakukan apa-apa?” gumamku sebal dalam hati. Aku pun menghampiri mereka dan menanyakan apa yang terjadi.


“Kami ingin mengajakmu jalan-jalan,” jelas Freda kepadaku. Lantas aku terkejut mendengar ucapannya barusan. Padahal orang-orang mengurungkan niatnya untuk tidak keluar dari rumah sama sekali. Aku tak habis akal dengan alur berpikirnya. Aku pun mengelak sembari mencari alasan.

__ADS_1


“Maaf aku tidak bisa,” ucapku tenang dan yakin.


“Ayolah, kita akan bersenang-senang!” lanjut Freda memakasaku untuk ikut. Aku berusaha untuk terus mengelaknya. “Tidak bisa! Aku ingin beristirahat selama liburan ini,” terangku tegas kepada mereka. Namun semangat mereka tidak lekas surut, justru semakin membara untuk terus membujukku. Lagi-lagi aku menolaknya.


“Lagi pula aku tidak akan diizinkan oleh orang tuaku,” jawabku percaya diri berharap ia tidak lagi memaksaku. Lalu Hart dan Freda terkatup diam mendengarnya. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama sampai akhirnya ayahku mengakatakan sesuatu.


“Tidak juga. Ayah mengizinkanmu, kok,” tutur ayahku tenang seraya menonton televisi. Aku pun terkejut setengah mati mendengarnya. Di saat yang bersamaan aku melihat senyum licik Hart dan Freda yang sedang kegirangan.


“Apa yang kalian katakan kepada ayahku?” batinku kesal. Tiba-tiba ibuku turun dari tangga sembari menjinjing koper yang telah terisi penuh. Aku semakin syok dengan apa yang tengah terjadi sekarang. Rasa heran juga muncul di benakku.


“Ibu sedang apa?” tanyaku penasaran.


“Kau ingin berpergian, kan? Ini sudah Ibu siapkan semuanya,” tuturnya tersenyum kepadaku. Aku masih tidak mengerti dengan koper yang disiapkannya.


“Kita akan pergi menuju Gunung Vitlessia,” terang Freda kepadaku. Lagi-lagi aku kaget bukan kepalang mendengar jawabannya.


“A—Apa? Kalian tidak bercanda, kan?” dehamku menganga tidak percaya.


“Tentu saja kami serius,” lanjut Hart semangat.

__ADS_1


“Itu kan jauh sekali. Hanya kita bertiga?” tanyaku masih tidak yakin dengan mereka. “Ramai, kok. Ada Cassie, Emery, Eledarn, dan Milard,” sahutnya yang tetap saja membara.


“Ikutlah dengan mereka, Nak. Nikmatilah masa mudamu bersama teman-teman,” cetus ayahku menyarankanku. Aku pun menarik napas pasrah dan akhirnya ikut dengan mereka.


“Baiklah… Aku akan ikut,” ucapku lesu.


“Hore! Ayo kita berangkat!” seru Hart dan Freda berbarengan. Aku pun pamit dengan keluargaku dan pergi keluar rumah.


“Mobil siapa itu?” tanyaku buncah. “Itu mobil kakakku. Aku pinjam darinya,” jawab Hart berlagak sombong. “Ayo cepat masuk. Di luar dingin,” imbuhnya lagi. Di dalam sudah ada teman-teman menunggu kami dari tadi.


“Lama sekali kalian,” celetuk Eledarn sebal. “Maaf, maaf… Alien satu ini sulit sekali diajak,” sahut Hart tertawa. Kami semua pun siap berangkat pergi.


“Tunggu! Kau bisa mengendarai mobil?” tanyaku khawatir.


“Kau kira siapa yang membawa mobil ini ke sini?” balasnya lagi-lagi berlagak sombong sambil menunjukkan kartu izin mengemudinya. “Tenang saja. Kita nikmati saja perjalanan yang panjang ini,” ucapnya tersenyum senang.


Sorak-sorai ceria terlontarkan dari mereka semua sesaat mobil berjalan. Aku yang sebelumnya sebal kemudian menyadari untuk menikmati apa yang sudah ku pustuskan. Akhirnya kami semua berangkat wisata yang mendadak ini dengan riang gembira.


“Vitlessia, kami datang!”

__ADS_1


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2