Love Exchange

Love Exchange
Episode 59 : Pasar Merah


__ADS_3

Cakrawala biru cerah dan awan yang mengilap terang menyambut pagi yang syahdu. Burung-burung beterbangan bersiul kicau memanggil insan yang masih terselempai tenang. Dunia mulai mengisi lembaran baru. Mata yang tengah berat-beratnya dipaksakan gegana untuk terbuka.


Aku terbangun dari tidurku. Sementara itu Hart sedang asyik-asyiknya mendengkur di sebelahku. Lantas aku langsung membangunkannya.


“Hart bangun… Oi…” ucapku sembari mendorong-dorongnya. Namun ia tetap terlelap dan tidak menanggapi sama sekali.


Lima menit berlalu dan ia masih saja seperti ini. Aku yang tidak ingin membuang waktu kemudian pergi ke ruang tengah. Di sana sudah ada teman-temanku yang sedang mengobrol santai, terkecuali Freda. Lalu aku menyapa mereka semua.


“Selamat pagi,” lontarku kepada mereka.


“Pagi,” balas Cassie tersenyum.


“Di mana Hart? Belum bangun?” tanya Eledarn seraya  menonton televisi. “Tebak saja sendiri,” sahutku bercada kepadanya. “Sudah kuduga,” lanjut balas Eledarn kemudian kami tertawa bersama.


Tak lama kemudian Hart datang dengan perangainya yang setengah sadar. Ia pun menyapa kami.


“Wuah… Swolomat Powgi,” sapanya sambil menguap lebar. Lalu datang pula Freda dari belakangnya. Namun entah mengapa ia sangat bersemangat bagai kacang direbus satu.


“Yuhuu! Ayo kita bersiap-siap!” seru Freda melompat-lompat kegirangan. Kemudian semua orang berpikir dan bingung harus berbuat apa.


“Kamar mandi hanya ada dua,” cetus Emery sembari merenung buncah. Lantas Hart membalasnya.


“Kalau begitu kita mengantre saja. Sambil menyiapkan makanan.”


Setelah itu kami membagi-bagi tugas dan masak bersama. Selain itu ada yang bergiliran mandi. Aku dan Emery mendapat giliran pertama. Kamar mandi berada di lantai satu dan dua. Aku menggunakan yang berada di atas. Sementara itu yang lainnya menyiapkan sarapan.


“Oi, Hart! Bantu sini. Jangan asyik nonton sendiri!” teriak Freda kepada Hart yang sedang hanyut dengan televisi di hadapannya.

__ADS_1


Freda yang jengkel kemudian menghampirinya sembari membawa panci dan centongan. Tepat di samping telinga Hart dipukullah panci tersebut dengan keras dan nyaring.


“Pang! Pang! Pang!”


Sontak Hart terdiam syok bergemetar dan suara tersebut masih terngiang-ngiang di telinganya. Orang-orang yang mendengarnya juga terkejut setengah mati dan hampir membuatnya jantungan.


“Bantu woi!” lontar Freda kepadanya.


Kemudian Hart langsung menurutinya, tetapi tatapan yang lebar nan kosong serta mulutnya yang menganga seperti orang yang kehilangan jiwa. Eledarn, Milard, dan Cassie yang melihatnya begitu kemudian menjadi cemas dengan Hart.


“Kau tidak apa-apa, kan?” tanya Cassie khawatir. Namun Hart tidak menanggapinya dan terus melanjutkan kerjanya menyiapkan piring-piring.


Tidak lama kemudian aku dan Emery telah selesai membersihkan diri. Aku yang sedang mengelap kepalaku lantas bingung dengan Hart yang seperti itu.


“Ada apa dengannya?” tanyaku kepada Freda. Lalu ia menjawabnya dengan nada yang masih jengkel.


“Hanya memberinya teguran,” jawabnya. Aku tidak melihat kejadian itu menjadi heran kebingungan. Kemudian aku menggantikan Hart yang selanjutnya mendapat giliran mandi.


“Apa yang kalian lakukan?” tanya Hart kebingungan.


“Eh? Ke mobil, kan?” jawab Emery juga buncah.


“Tidak perlu. Jalan kaki sudah cukup. Tidak terlalu jauh, kok,” sahut Freda.


“Betul. Sekalian supaya tetap sehat dengan berjalan,” lanjut sambung Hart.


“Baiklah. Ayo jalan!” ajak Milard bersemangat. Kami pun pergi berjalan kaki, tetapi aku masih belum tahu ke mana kita tuju. Terlebih lagi aku tidak tahu peta kota ini sama sekali. Lantas aku bertanya kepada Hart.

__ADS_1


“Ke mana kita akan pergi?”


“Ke Pasar Merah,” jawabnya singkat dan tenang.


“Pasar Merah?” tanyaku lagi. Hart pun tidak mau banyak menjawab. “Nanti kau akan lihat sendiri.”


Perjalanan kami menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit saja. Berangkat dari pondok penginapan yang disuguhi dengan pemandangan sawah dan ladang. Tidak tepat berada di dalam kota. Mungkin Hart dan Freda memilihnya karena lebih murah. Seiring mendekati kota lambat laun keramain mulai tampak dan bangunan ala kota pedesaan. Aku sudah tidak sabar ketika sudah sampai nanti.


Sesampainya di kota, lebih tepatnya Pasar Merah, kami dibuat takjub dengan atmosfer yang jauh berbanding terbalik dengan kota kami berasal. Orang-orang yang menjalani keseharian menambah hangat dan keseruan yang akan kami alami. Suasana bising pasar tradisional tidak pernah ku temui sebelumnya.


“Wah… Jadi ini yang namanya pasar tradisional?” ucap Cassie terkesima.


“Lihat-lihat! Barang yang dijualnya bagus sekali. Ayo kita ke sana!” lontar Freda lompat-lompat bersemangat dan mangajak kami semua. Para wanita tersebut pun tidak tahan dengan godaan mata yang ingin segera berbelanja. Lantas Hart memanggil mereka.


“Ekhem.”


“Ada apa?” tanya Emery kebingungan.


“Kita tidak tertarik dengan itu,” jawab Hart.


“Kalau begitu, bagaimana kalau kita mulai berpencar saja dari sini?” usul Freda.


“Baiklah. Mulai sekarang kita bebas ke mana pun kita mau pergi. Asalkan jangan keluar dari area pasar ini,” lanjut Milard menambahkan.


“Oke. Nanti sore kita berkumpul lagi di sini. Ayo kita menikmati apa-apa yang ada di pasar yang sangat besar ini!” seru Freda berkobar-kobar.


“Ayo!” sambut kami semua serentak.

__ADS_1


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2