
Kala pagi buta yang masih redup, awan rendah menutupi permukaan alam yang belum terbangun. Seluruh penghuni hamparan masih beristirahat di permadani mereka masing-masing. Pemandangan yang kelabu membuat suasana menjadi sunyi dan membangkitkan bulu kuduk siapa pun. Duri-duri hawa pagi nan menusuk saubari membuatku terbangun dari tidurku karena merasa ingin buang air kecil. Aku yang masih setengah sadar lantas kedinginan dengan embun yang tersembur dari hidungku. Gigiku gemeletuk dengan kencang tanpa sadar.
“D—Dingin sekali di sini…” gumamku. Ketika aku melihat sekeliling, tampak dinding kaca yang dipenuhi oleh embun sampai-sampai aku tidak melihat bagian dalam ruangan itu. Sementara itu, Rein masih tertidur pulas dengan selimut yang menutupinya.
“Le—Lebih baik aku ke dalam saja dulu,” lanjutku gemetaran.
Setibanya di dalam, aku mengambil segelas air hangat lalu meminumnya. Seketika tubuhku terasa hangat dan aku dapat lebih leluasa untuk menggerakkan tubuhku. Hawa di dalam ruangan cukup hangat sehingga aku berdiam diri sejenak di ruang tengah untuk menghangatkan diri. Aku menyaksikan televisi dan sesekali mengucek-ucek mataku yang masih terasa berat.
Selang beberapa menit kemudian, tanpa aku sadari ternyata langit sudah menerang dengan kabut yang semakin menipis, tetapi mentari masih belum muncul dari ujung cakrawala. Terlihat dengan indah lelangitan yang berwarna jingga di awan-awang dipadukan warna biru cerah yang sudah mewarnai sebagian besar langit saat ini. Aku yang ingin melihatnya lantas berjalan menuju balkon. Sesaat aku keluar dari ruangan, aku merasa kedinginan lagi.
“Brrr… Masih dingin saja…” hembusku. Aku pun memandangi langit sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali masuk ke ruang tengah. Tidak sengaja aku melihat ke arah kamar mandi yang tampak jauh lebih hangat, sekejap saja terlintas di dalam benakku untuk membasuh tubuh supaya diriku terhangatkan.
“Sepertinya berendam air hangat akan lebih baik,” ucapku pelan. Dengan segera aku melangkah menuju bak mandi lalu menyalakan keran air hangat. Setelah beberapa saat, air hangat tersebut sudah membasahi semua tubuhku.
“Hah… Enak sekali…” decakku lega.
Di dalam genangan air hangat aku memejamkan mata dan membuat diriku rileks. Lima belas menit berlalu, aku mulai membersihkan tubuh dengan sabun dan sampo. Dalam waktu singkat, bak mandi yang aku gunakan menjadi penuh dengan buih. Setelah itu, aku melanjutkan untuk terus berendam hingga tubuhku sudah benar-benar tak terasa kaku lagi.
“Untung saja, di sini ada air hangat,” gumamku. Pada saat yang bersamaan aku teringat dengan pemandian yang aku gunakan kemarin sebelum bertemu dengan Rein. Aku pun hanya bergumam kepada diriku sendiri.
“Oh iya, kan ada pemandian air hangat di depan.”
“Mungkin aku bisa menggunakannya nanti malam…”
Di lain sisi, Rein yang baru saja terbangun dari tidurnya hanya merasakan dingin yang tidak terlalu menusuk. Mentari juga telah bersinar di atas permukaan. Melihat diriku yang sudah tak berada lagi lantas membuatnya kebingungan. Ia pun melihat ke arah lereng sejenak sembari menghirup udara segar. Tidak lama kemudian ia berjalan masuk ke ruang tengah dan terdengar suara bising dari lantai atas.
“Mungkin dia sedang rapi-rapi di atas,” gumam Rein. Kemudian ia mengambil handuk dan berniat untuk membasuh diri di kamar mandi.
__ADS_1
Aku yang tidak mengetahuinya terus bersantai di dalam. Terdengar suara pintu kaca yang terbuka dari luar. Aku langsung menoleh ke arah pintu tersebut dan terlihat Rein yang sedang mengenakan handuk baru saja membukakan pintu. Sontak kami berdua saling terkejut melihat satu sama lain. Untung saja tubuhku tertutup oleh buih yang sangat banyak. Meskipun begitu, aku merasa sangat malu terhadap dirinya.
“Adelard? Ternyata kau di sini?”
“Rein? Kau sudah bangun?”
Rein tetap masuk ke dalam lalu mengambil perlengkapan mandi miliknya yang berada di rak dinding. Ia tampak tidak memikirkan diriku yang berada di hadapannya. Aku pun berusaha untuk tetap tenang agar suasana tidak menjadi canggung.
“Kau ingin mandi di pemandian?” tanyaku.
“Ya, aku pergi dulu ya,” jawabnya yang sudah membawa perlengkapan tersebut kemudian berjalan keluar dari kamar.
“Huft… Hampir saja…” hembusku lega.
Beberapa detik berselang aku berniat untuk keluar dari kamar mandi dan segera berpakaian, namun aku kebingungan karena tidak ada handuk milikku. Lantas terbesit di kepalau dan teringat kalau aku lupa membawa handuk. Ruangan yang tampak sepi dari dalam kamar mandi membuatku memberanikan diri untuk berjalan menuju ruang tengah tanpa penutup sedikit pun.
“Tadi kalau tidak salah Rein mengambil handuk dari lemari ini, kan?” gumamku. Aku mencari handuk yang bercampur dengan pakaian-pakaian kami di dalam lemari tersebut, tetapi aku tak kunjung menemukannya. Aku menjadi panik dan merasa takut kalau Rein melihatku yang terbuka seperti ini.
“A—Adelard? Kau sedang apa dengan penampilan begitu? Pakai pakaianmu,” ujarnya kebingungan.
“R—R—R—R—R—R—R—R—Reiiinnn…?” lontarku tercengang gagap dan malu setengah mati.
“A—A—Aku se—dang mencari… handuk…” lanjtuku.
“Oh, itu ada di lemari bagian bawah sebelah kanan,” sahutnya.
“Kau kenapa balik lagi?” tanyaku tak habis pikir.
__ADS_1
“Sabun wajahku ketinggalan,” jawabnya yang kemudian pergi meninggalkanku. Aku yang baru saja menukannya lantas merasa sangat lega dan senang.
“Cepat tutup belalaimu,” serunya yang tengah mengambil sabut itu dari dalam kamar mandi. Sontak aku tersadar dan segera mengenakan handuk tersebut. Ia keluar dari kamar mandi dan berniat untuk pergi ke pemandian lagi.
“Kenapa tidak di kamar mandi saja? Aku sudah menggunakannya,” tandasku.
“Aku ingin mencobanya,” jawabnya.
Setelah berpakaian di lantai atas, seketika saja terdengar suara berisik yang berasal tidak jauh dari tempatku berada. Aku yang kebingungan lantas mencari tahu asal suara tersebut. Hingga akhirnya aku menemukan seekor kucing kecil yang berada di bawah lemari. Aku mencoba untuk memanggilnya namun kucing tersebut hanya terdiam menatapku. Beberapa detik berselang terdapat hembusan angin yang cukup kencang dan membunyikan suara ranting-ranting pohon di sekitar.
“Itu dia!” lontarku.
Aku mematahkan ranting yang berada sangat dekat dari jendela kamar. Kemudian aku memain-mainkannya dan membuat kucing itu tertarik dan berlari mengejarnya. Tampak bulunya yang berwarna putih bersih dengan warna mata yang sangat cantik. Aku langsung memegangnya dan membawanya ke atas kasur. Aku pun bermain-main dengan kucing itu.
“Cantik sekali kucing ini,” gumamku. Dia hanya terdiam tenang berada di atas kasur yang empuk. Bulunya terasa sangat halus dan lembut. Tanpa sadar aku mengelus-elus bulunya dengan perlahan. Rein yang datang dari lantai bawah sontak terkejut dan langsung berlari menghampiriku.
“Elok sekali… Di mana kau menemukannya?” tuturnya.
“Di bawah lemari. Aku mengetahuinya karena ada suara berisik dari sana,” jawabku.
“Jadi suara tadi ternyata suara kucing?” gumamnya pelan.
“Kau bilang apa?” sahutku yang tak mendengar jelas perkataannya.
“Tidak, bukan apa-apa,” balasnya tersenyum. Ia pun ikut mengelus-elus kucing tersebut dan bermain-main dengannya. Rein yang sangat menyukai kucing tersebut lantas bertanya-tanya.
“Boleh tidak ya kubawa pulang?”
__ADS_1
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)