
Khalayak orang-orang mengisi koridor dan lorong kelas menghangatkan udara di sekitarnya. Ditambah lagi dengan terik binar mentari menembus kaca-kaca tanpa ampun. Namun musim yang sedang bertransisi menuju titik beku membuat hawa menjadi campur aduk antara hangat dan sejuk bersamaan.
Aku pun bergegas pergi menuju perpustakaan. Namun ketika aku berada di depan ruang klub drama tiba-tiba saja terdengar suara dentuman dengan keras. Tak lama kemudian suara keramaian dari dalam ruangan menyertainya. Aku hanya melihatnya dari luar jendela. Sepertinya ada seseorang yang baru saja terjatuh.
Saat itu juga Emery melihatku dari dalam dan pergi keluar ruangan menghampiriku. Aku yang melihatnya panik membuatku kebingungan dan cemas.
“Adelard… M—Maaf mengganggumu. Bisa bicara sebentar.” pinta Emery memohon kepadaku.
Aku pun dipersilakan masuk ke dalam ruangan. Terlihat orang-orang panik sambil melihat seseorang yang cedera. Saat aku dan Emery masuk. Orang yang cedera itu digandeng menuju ruang kesehatan. Ruangan menjadi terisi oleh laki-laki yaitu aku seorang.
“Apa ia tidak apa-apa?” tanyaku gelisah. “Semoga… Ia adalah pemain inti kami.” jawabnya. Tidak lama kemudian ada seorang anggota klub yang masuk ke dalam ruangan sambil terengah-engah. Orang tersebut memberi tahu kami semua sesuatu meskipun napasnya belum beraturan.
“Ia tidak boleh banyak bergerak sampai benar-benar sembuh.”
“Kira-kira sampai kapan?” tanya Emery cemas.
“Kata Bu Guru kemungkinan satu pekan.” jawabnya.
“Satu pekan?” teriak seisi ruangan sembari terkejut.
“Bagaimana ini?” cetus salah seorang. Seisi ruangan menjadi panik dan tidak tahu harus bagaimana. “Padahal tinggal lusa.”
“Aku ada ide!” lontar Emery sambil menunduk malu. Seketika semuanya terdiam dan memperhatikannya. Kemudian ia berbalik arah menghadapku.
__ADS_1
“Adelard, maukah kau menggantikannya?” pinta Emery memohon kepadaku dengan badannya membungkuk dan meneteskan air mata. Aku menjadi tidak tega untuk menolaknya.
“A—A—Aku?” tanyaku terkejut dan gugup.
“Iya.” balasnya memohon dengan sungguh-sungguh. “Baiklah.” ucapku tersenyum risau. Seketika suasana menjadi cair kembali. Masih ada banyak hal yang aku ingin tanyakan, apalagi aku tidak tahu tentang ini sama sekali. Lantas Emery melanjutkan berucap kepadaku.
“Kumohon datanglah kemari sepulang sekolah.” tutur Emery kepadaku. Aku membalasnya dengan tersenyum dan menggangguk.
“Boleh aku bertanya sedikit?” tanyaku penasaran kepadanya. “Apa judul dramanya?” lanjut tanyaku.
“Pangeran Kesatria dan Pita Merah.” jawabnya tenang.
“Lalu apa yang harus kulakukan nanti? Hanya menyiapkan properti saja, kan?” tanyaku penasaran dan sedikit salah tingkah. Seketika Emery terkejut dan wajahnya memerah sembari kepalanya tertunduk lagi. Lalu aku kebingungan sekaligus khawatir dengan perangainya.
“Kau memerankan sebagai pangeran…”
Sontak aku terdiam syok dan tidak bisa berkata apa-apa. “T—Tapi aku tidak pandai berakting dan belum tahu apa-apa.” ucapku terbata-bata.
“Tidak apa-apa. Daripada tidak sama sekali.” balasnya. Perkataannya membuatku bingung apa yang ia maksud. Lagi-lagi Emery membungkukkan dirinya.
“Kumohon!”
Aku benar-benar tidak tega melihatnya.
__ADS_1
“B—Baiklah…” balasku tersenyum kepadanya. Seketika suasana menjadi tenang dan lega. Emery pun tak luput dari perasaannya yang amat senang. Senyuman masih tidak terhindarkan di bibirnya.
“Terima kasih banyak! Kutunggu kehadiranmu?” ucapnya halus bersemangat. Lantas aku menjadi salah tingkah dibuatnya. Orang-orang tiba-tiba menjadi terpaku dengan kami berdua. Aku pun mencengah tatapan tersebut agar tidak menjadi omongan yang aneh-aneh.
“Iya sama-sama.” balasku tersenyum. “Oh iya, Emery, aku harus segera pergi ke perpustakaan.” lanjutku kepadanya.
“Baiklah!” ucapnya yang menyala-nyala dan berseri-seri seperti gadis yang sedang jatuh cinta.
Namun aku dapat memakluminya karena telah membantu mereka. Meskipun begitu aku masih merasa risih dengan tatapan mereka yang setengah sadar melihat kami berdua sembari berkhayal. Sebelum pergi aku mengingatkan kepada Emery untuk tidak bersikap berlebihan.
“Emery, sadarlah. Mereka semua melihat kita berdua. Kau pastikan tidak ada kesalahpahaman, ya.” bisikku pelan dan mendekatkan mulutku di samping telinganya, tetapi respon mereka malah semakin menjadi-jadi.
“Wah… serasi sekali…” cetus salah satu dari mereka sumringah. Aku hanya bisa menarik napas sumarah dan cepat-cepat pergi dari sini.
“Mulai sekarang mohon kerjasamanya ya semua. Sampai nanti.” ucapku tersenyum kepada mereka semua.
“Dadah!” balas mereka serentak heboh. Aku yang lekas pergi berharap supaya tidak terjadi sesuatu yang tidak ku inginkan.
“Semoga semuanya baik-baik saja.”
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)
__ADS_1