
Hamburan warna ungu kejinggaan terlukis pada bumantara. Burung-burung mengepakkan sayapnya melemah menuju persembunyiannya. Sang fajar terayun-temayun seiring bintang mulai berkilap sedikit demi sedikit di atas kanvas angkasa. Keramaian menampakkan dirinya di atas tanah bersamaan khalayak yang mulai terurai.
Aku baru saja menyelesaikan pertandingan yang sangat menakjubkan. Meski asam pahit peristiwa berjalan, aku tidak ambil pusing akan itu. Sekarang adalah waktunya menghabiskan waktu berharga ini untuk bersenang-senang. Pertunjukkan yang cukup panjang membuat kami lapar. Lantas Freda mengajak kami semua untuk pergi menuju tempat makan yang akan ditujunya. Wymer tidak luput dari ajakannya.
“Ayo kita makan di Caupona Bona!” ajak Freda bersemangat meskipun rasa lapar sudah menggerogoti ususnya.
“Kaupuna—Hah?” tanya Eledarn kebingungan setengah mati. Wymer pun menjelaskan.
“Itu sebuah tempat makan yang terkenal di kota ini. Hidangannya yang komplit dan lezat terbuat dari berbagai bahan yang hanya berasal dari daerah sini,” jelasnya.
“Apa tadi namanya?” tanyaku kepada Freda.
“Caupona Bona!” lontarnya keras. Aku berusaha untuk mengejanya. Setelah beberapa kali percobaan melenturkan lidah, akhirnya aku dapat menyebutnya.
“Caupona… Bona…?”
“Nah itu dia!” sahut Freda girang setelah aku menyebutnya dengan benar.
“Sulit sekali,” cetus Hart mengeluh kesusahan. Wymer hanya tertawa melihat tingkah kami semua yang tengah berusaha mengejanya.
“Kalian lucu-lucu, ya!” celetuknya. Kemudian aku menjadi penasaran apa maksud dari kata yang kami sebut-sebut barusan.
“Aku belum pernah mendengar bahasa seperti itu. Apa artinya?” tanyaku kepada Wymer. Lalu ia menjelaskannya kepada kami semua.
“Berasal dari bahasa yang sudah digunakan sejak ribuan tahun lalu. Caupona berarti restoran dan bona artinya berkat. Meskipun bahasa sudah banyak berubah, tapi kami tidak ingin menghilangkan budaya dari nenek moyang kami,” jelasnya dengan penuh keseriusan.
“Wah jadul sekali, ya,” ucap Milard ternganga dengan penjelasan Wymer.
“Bisa dibilang begitu,” sahut Wymer. Rasa penasaranku menggelegak untuk mempelajari kosakata bahasa tersebut.
“Sepertinya seru!” lontarku menyala-nyala.
“Oh iya. Kau sendiri bagaiamana, Adelard? Kau kan alien, pastinya kau punya bahasa sendiri, kan?” cetus Hart bercanda kepadaku. Aku hanya memasang muka sebal terhadapnya. Sementara itu teman-temanku tertawa ria mendengar celotehan Hart.
“Hahaha! Betul juga kata Hart. Ayfodah kafekonah seyfudayu, Aydelaifueh!” lanjut sahut Freda membawa gelak. Kelakuan mereka berdua membuat teman-teman dan Wymer tertawa. Lantas aku mengikuti alurnya dan ikut tertawa bersama mereka semua.
“Hoyla! Nafmadayu Aydelaifueh! Xixixi!” selorohku menambah jenaka.
Setelah bermain-main melanturkan kata-kata menjadi anek dan lawak, akhirnya kami sampai di tempat makan yang kami tuju. Rasa lapar sudah terlanjut mereda tergantikan dengan rasa sakit akibat terlalu banyak terkikik tawa.
“Aduh… Aduh… Hehehe... Perutku sakit,” hembus Freda kelelahan tertawa.
“A—Aku juga…” sahut Emery. Begitu pula dengan Cassie yang tidak dapat berkata-kata, tetapi masih terus terkikik kecil. Kemudian Wymer mengajak kami untuk masuk dan memilih tempat duduk.
“Ayo kita masuk!” ajaknya.
Setibanya kami di dalam tempat makan itu, tampak Reynaud sedang duduk di meja makan seorang diri. Kemudian Wymer menyapanya dan menghampirinya. Kami pun ikut mengikutinya dari belakang.
“Oi, Reynaud!” sapa Wymer berteriak arah pintu.
__ADS_1
“Eh. Wymer! Halo!” balas Reynaud.
Lalu kami semua duduk satu meja makan yang lebar. Tak lama kemudian seorang pelayan datang arkian kami memesan makanan dan minuman. Tertulis daftar makanan penuh dengan kemewahan dan nampak lezat. Freda yang sudah lapar menjadi bergairah untuk memesan banyak makanan. Lantas Cassie mendekatinya dan menenangkannya.
“Aku mau ini, itu… Ah! Ini juga!” lontar Freda menunjuk hidangan yang ingin ia pesan. Sang pelayan sampai kebingungan dengan tingkahnya.
“Maaf, bisa diulang lagi?” pinta sang pelayan kemudian pesanan Freda dibacakan oleh Emery. Freda yang berkobar-kobar seperti kerasukan membuat kami kewalahan untuk menanganinya.
“Ayolah Freda, tenangkan dirimu!” tandas Hart geram dengannya. Lekas Emery menanyakan pesanan masing-masing dari kami. Tiba-tiba Wymer menyela kami dan meminta sesuatu.
“Berikan kami hidangan terbaik yang kalian punya,” ucapnya lugas dan singkat. Sang pelayan itu pun langsung menurutinya. Sontak kami semua hanya bisa melongo tidak percaya dengan Wymer, tak terkecuali dengan Reynaud.
“K—Kau yakin? Harganya kan mahal,” cetus Reynaud kepada Wymer. Kami semua hanya menatapnya dengan wajah syok.
“Tenang saja. Hanya untuk kali ini saja, kok,” sahut Wymer cengengesan. Aku sangat berterima kasih kepadanya. “Terima kasih banyak, Wymer,” ucapku. Kemudian pesanan Reynaud datang pertama kali karena ia sudah lebih dulu memesan sebelum kami datang. Lantas ia mengajak kami untuk menyantapnya bersama.
“Sambil menunggu hidangan kalian datang. Ayo kita nikmati bersama,” cakapnya tersenyum sembari menyuguhkan makanannya ke arah kami. Freda yang sudah tergila-gila langsung mencomotnya tanpa berucap sama sekali. Seketika ia menjadi lahap seperti anak kecil.
“Sshh! Freda! Sopan sedikitlah kau!” ujarku menasehatinya. Wymer dan Reynaud hanya tertawa melihat perangai kami semua.
“Hahaha! Santai saja! Silahkan kalian ambil juga,” sambut Reynaud tertawa senang kepada kami. Lalu Reynaud dan Wymer saling menatap isyarat satu sama lain. Aku tidak mengerti apa yang direncanakannya. Lebih baik aku tidak perlu sungkan untuk ikut makan bersama mereka yang sudah menyantapnya dahulu.
Selang beberapa waktu kemudian, setelah kami mengganjal perut dengan makanan sebelumnya dan bincang-bincang santai, akhirnya satu demi satu hidangan disuguhkan tepat dihadapan kami. Masing-masing makanan dengan porsi yang amat besar diletakkan di tengah meja. Lalu kami diberi seorang-orang satu piring untuk kami bersantap.
Lagi-lagi kami semua hanya terkesima diam dengan mulut terbuka lebar. Reynaud dan Wymer hanya tersenyum ke arah kami. Selepas semua dihidangkan, Wymer mempersilakan kami untuk langsung menyantapnya.
“Ayo kita makan!” teriak Freda bersemangat sekali. Kemudian kami semua memakan semua hidangan yang disajikan seraya mengobrol terlepas ria.
“Mulutmu belepotan sekali, Hart,” cetus Milard melihat kekonyolan wajahnya.
“Makanan sedap tidak boleh disia-siakan!” sahutnya lantas merenggut makanan dan memakannya dengan lahap sama seperti Freda.
“Wuih! Santai, Hart! Kau tetap bisa menghabiskannya, kok,” tambah Eledarn menenangkan Hart. Sementara itu aku dan Cassie hanya memakannya dengan tenang.
“Bolehkah kau ambilkan makanan itu untukku?” pinta Cassie lantaran ia tidak bisa meraih makanan tersebut. Aku pun membalasnya dengan tersenyum
“Tentu saja.”
Setelah meraihnya lalu aku memberikannya kepada Cassie. Namun saat aku menjulurkan tanganku, tiba-tiba Hart berbisik kepadaku.
“Kau akan memberikannya begitu saja?” tanya Hart pelan.
“Iya,” jawabku singkat.
“Dasar tidak peka!” lanjut bisiknya tegas. Sontak aku kebingungan apa yang ia inginkan. “Kau harus melakukannya lebih dari ini,” imbuhnya.
Cassie menjadi terheran-heran dengan tingkah kami berdua. Ia juga tidak berani memotong pembicaraan kami terlebih dengan makanan yang masih ada di sendokku dan belum ku letakkan di atas piringnya. Aku dan Hart masih lanjut saling berbisikkan.
“Hah? Apa maksudmu?” tanyaku heran.
__ADS_1
“Makanan itu sudah ada di sendokmu,” balas Hart kepadaku. “Lalu?” lanjut tanyaku. Kemudian Hart menghela napas.
“Huft… Dia minta supaya kau suapi, tahu!” Seketika aku terkejut mendengarnya.
“Menyuapny—“ teriakku kaget, tetapi mulutku langsung ditutup oleh Hart. Sontak semua perhatian tertuju kepadaku.
“Sstt… Jangan berteriak seperti itu,” desis Hart sedikit jengkel kepadaku. “T—Tapi, b—bagaimana mung—kin kalau ia ingin seperti itu?” tanyaku gelagapan dengan pelan kepadanya.
“Kalian berdua kenapa?” tanya Wymer buncah dengan perangai kami berdua.
“Ti—Tidak apa-apa!” ucapku kepanikan sendiri. Lantas aku meletakkan makanan yang sudah dipinta Cassie sebelumnya.
“Maaf,” tuturku kepadanya. Ia hanya meresponnya dengan tersenyum gugup kepadaku.
Tiba-tiba saja beberapa orang membuka pintu dengan cukup keras lalu berteriak kepada orang-orang yang sedang asyik-asyiknya menyantap makanan.
“Permisi! Kami utusan dari pemimpin kota!” teriak salah seorang dari mereka. Orang-orang seketika terdiam dan memperhatikannya, termasuk kami.
“Apa dari kalian melihat seseorang bernama Adelard?” tanya mereka sembari menunjukkan gambar wajahku yang terlukis pada gulungan kertas yang direntangkannya. Kemudian orang-orang menghadap ke arahku.
“Ini orangnya, Pak!” teriak Hart melambaikan tangan ke arah orang-orang itu. Lalu mereka pun menghampiriku. Pakaiannya yang menggunakan baju zirah dan pedang membuat dirku menjadi ketakutan. Setelah itu mereka semua berlutut dan menunduk ke arahku.
“Tuan Adelard. Kami, prajurit penjaga kota, ingin mengantarkan anda menuju kediaman tuan Thudric,” Aku yang kelabakan tidak mengerti apa-apa.
“S—S—Siapa?” tanyaku gemetaran.
“Pemimpin kota,” jawab Wymer dengan tenang. Lantas para prajurit itu mengajak kami untuk segera pergi.
“Anda dibutuhkan sekarang, tuan!”
“Hanya aku sendiri?” lanjut tanyaku.
“Iya, tuan,” jawabnya.
Kemudian aku pergi meninggalkan teman-temanku, begitu pula dengan Wymer dan Reynaud yang masih menghabiskan makanan yang sedikit lagi habis. Dengan penuh rasa heran aku berjalan mengikuti para prajurit itu. Aku yang sedang dikawal membuat diriku terlihat seperti orang yang amat penting.
Sementara itu teman-temanku masih kebingungan dengan apa yang terjadi. Lalu Milard bertanya kepada Wymer.
“Apa yang terjadi?” tanya Milard penuh penasaran.
“Kita lihat saja nanti,” jawabnya tersenyum. Kemudian mereka melanjutkan menghabiskan hidangan dengan rasa penasaran.
Aku yang sedang berjalan melintasi toko-toko menjadi malu lantaran mata orang-orang menjadi terpaku ke arahku. Sedangkan kepalaku masih bertanya-tanya.
“Apa yang telah ku perbuat?” tanyaku kepada diriku sendiri.
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)
__ADS_1