Love Exchange

Love Exchange
Episode 97 : Menjelajahi Rumah Hantu


__ADS_3

Malam hari nan cerah dengan sedikit kapas langit, khalayak semakin ramai, dan pusat kota yang terang benderang dengan cahaya lampu dari jalanan dan gedung-gedung. Hari telah semakin larut dan rembulan telah berada di puncak tertingginya bersama dengan bintang-bintang. Aku, Rein, dan Cassie masih dikejutkan dengan sebuah tempat yang ditunjukkan oleh Gavin.


“K—Kau yakin?” tanya Cassie ketakutan.


Aku menjadi teringat dengan peristiwa kala itu, ketika aku dan Cassie bersama dengan teman-teman terperangkap di sebuah bangunan angker.


“Tentu saja,” jawab Gavin bersemangat. Sepertinya Gavin dan Rein belum mengetahui kalau Cassie sangat takut dengan hal-hal yang berkaitan dengan hantu. Aku pun memberi tahu Gavin dengan berbisik ke telinganya.


“Dia penakut sekali, lho… Kuharap kau bisa memanfaatkan situasi seperti itu dengan baik.”


“Siap, Bos,” balasnya sembari mengacungkan jempol.


Kami pun mengantre di sebuah barisan yang cukup panjang. Tempat hiburan tersebut hanya menerima orang-orang yang berpasangan. Aku tidak mengerti dengan peraturan yang mereka buat. Semua yang mengantre di sini berupa manusia yang berpasang-pasangan, termasuk kami. Akhirnya kami telah berada di antrean paling depan.


“Semangat, kalian berdua!” lontar Gavin kepadaku.


“Kau tidak takut, kan?” tanyaku kepada Rein.


“Wah, kau meremehkanku, ya? Kita akan lihat nanti,” balasnya berlagak sombong. Sementara itu Cassie menggenggam tangan Gavin dengan erat. Aku dan Rein pun tersenyum melihatnya.


“Tidak ada yang perlu ditakutkan, Cassie. Ada Gavin di sebelahmu,” ucapku menenangkannya.


“B—Baiklah…” balasnya gugup. Sekarang adalah waktuku dan Rein untuk memasuki rumah hantu itu.


“Kalian sudah siap?” tanya penjaga pintu masuk. Kami berdua dengan sigap menjawabnya dengan kompak.


“Siap!”


“Silahkan,” ucap penjaga pintu sembari membukakan pintu tersebut dan mempersilakan kami untuk masuk.


Kami berdua pun masuk ke dalam seraya melihat ke berbagai arah. Setelah kami memasuki sebuah lorong, pintu masuk tertutup rapat dan membuat ruangan tampak gelap, namun kami masih bisa melihatnya. Kemudian aku dan Rein berjalan perlahan berbarengan sambil bergandengan tangan. Bahan bangunan yang terbuat dari kayu, kabut-kabut asap yang menjalar, dan suara bising yang menggaung di telinga.


“A—Ayo kita mulai berjalan,” ucapku pelan dan sedikit takut.


“Lah, tadi kau meremehkanku. Sekarang malah kau yang takut,” balas Rein sedikit jengkel kepadaku. Dengan kepala sedikit tertunduk aku melihat ke atap-atap.


“Tapi tempat ini lebih seram dari yang aku pikirkan.”

__ADS_1


Kami berdua berjalan perlahan demi perlahan. Kami berdua juga saling berbicara dengan suara yang kecil. Sementara itu Cassie dan Gavin yang mendapat giliran setelah kami harus menunggu terlebih dahulu selama lima menit. Tak lama kemudian Rein juga merasakan yang sama sepertiku. Kami berdua bertingkah bagai kucing yang dibawakan lidi.


“Benar katamu… Tempat ini menyeramkan,” lontarnya ketakutan.


Tiga menit berselang, kami masih berada di lorong yang belum jauh dari garis awal kami berjalan. Belum ada sesuatu hal yang mengejutkan kami berdua. Aku masih ditakutkan dengan suasana yang menyeramkan, begitu pula dengan Rein. Sesekali kami dikejutkan dengan suara-suara kayu yang berderit. Hal seperti saja sudah membuatku terengah-engah dan kelelahan.


“Tunggu sebentar… A—Aku capek,” ucapku sembari membetulkan napasku yang kembang kempis.


“Ayo cepat, supaya kita bisa segera keluar dari tempat ini,” sahut Rein kepadaku.


Tak lama berselang kami pun melanjutkan langkah kami sedikit demi sedikit. Terlihat sebuah jalan keluar dari sebuah lorong lurus yang tengah kami lewati. Aku pun sedikit mempercepat langkahku, meskipun sebisa mungkin aku berusaha untuk tidak menimbulkan suara berisik. Sampai akhirnya kami berada di ujung lorong dengan sebuah pintu yang terhubung menuju suatu ruangan di hadapan kami, namun sesuatu muncul tepat di depan wajah kami.


“Aaaaaaa…!” teriak kami berdua serentak. Kami berdua langsung berpelukan erat dan tidak melepaskannya dalam waktu yang tidak singkat. Seketika jantungku berdegup sangat kencang, sampai-sampai aku hampir jatuh pingsan akibat kejutan yang mengerikan tersebut.


“A—Aku… Ham…pir saja jantungan…” hembusku dengan napas yang sesak.


“Aku mau cepat-cepat keluar saja…” keluh Rein.


Tak lama kemudian kami berdua kembali melangkahkan kaki. Kami sedang berada di sebuah ruangan yang tampak seperti ruang makan. Terdapat makanan tersajikan di atas meja, namun melihatnya saja sudah membuatku ingin muntah. Kondisi ruangan yang berantakan membuat suasana menjadi semakin menakutkan. Aku melihat-lihat langkahku ke lantai yang berserakan dengan peralatan dapur. Tiba-tiba saja Rein menendang sesuatu dan membuatku tersentak kaget.


“Astaga! Apa itu?” tanyaku was-was.


“Perhatikan langkahmu!” ujarku sedikit jengkel kepadanya.


“Iya, iya, maaf…”


Akhirnya kami berhasil keluar dari ruang makan yang berantakan. Kini kami memasuki ruangan lainnya. Aku belum menangkap dengan jenis ruangan yang kami masuki sekarang. Terdapat kantung-kantung besar yang menggantung dari atap ruangan. Rein berada di belakang sembari memegang erat pundakku. Tanpa sadar ia menginjak sebuah cairan lengket di kakinya.


“E—Eh? Cairan apa ini?” tanya Rein ketakutan. Aku pun menoleh ke belakang dan mendekatkan pandanganku ke lantai itu. Ternyata cairan tersebut mirip seperti lem.


“Lem?” jawabku ragu. “Tapi mengapa ada lem di tempat seperti ini?” lanjutnya kembali bertanya kepadaku.


“Aku juga tidak tahu,” balasku.


Lalu aku kembali menghadap ke depan, sontak sebuah wajah terlihat tepat di depan mataku. Wajahnya yang buruk rupa dan tubuh tersebut menggantung terbalik. Aku yang melihatnya langsung syok dan termangap diam tanpa sepatah kata pun. Sekilas aku merasa kalau aku sempat tak sadarkan diri. Pandanganku menjadi gelap dan terbayang-bayang dengan hal-hal yang mengerikan. Namun mataku masih terbuka lebar seperti ingin lepas dari wajahku. Rein yang sekejap melihatnya sontak menutupi pandangannya di punggungku.


“I—I—I—I—I—Ini bu—bukan orang sung—guhan, k—kan?” lontarku gelapagan setengah mati.

__ADS_1


“Aku tidak mau melihatnya!” sahut Rein ketakutan.


Aku melangkah dengan mata setengah tertutup, sedangkan Rein berada tepat di balik punggungku. Kami keluar dari ruangan tersebut dan memasuki sebuah ruangan lagi, tetapi ruangan yang sedang aku lihat saat ini menyerupai dengan ruang keluarga. Tampak sebuah sofa dan televisi yang menyala tanpa sinyal. Sekilas ruangan ini mirip dengan ruang tengah yang berada di asrama kami.


“Hanya televisi, kan…? Ayo kita cepat keluar dari sini,” ucapku pelan kepada Rein.


Kami harus melewati televisi tersebut untuk keluar dari ruangan ini. Namun saat kami berada tepat di depan televisi, tiba-tiba saja televisi tersebut memutarkan sebuah tayangan yang menampilkan sesosok wajah bertopeng dan berbicara dengan suara yang mengerikan. Suara yang diucapakannya memiliki nada yang cempreng sembari terkikik-kikik.


“Halo! Selamat malam!”


“Tidak ada yang perlu kalian takutkan. Aku di sini hanya ingin mengajak kalian pergi bermain.”


“Hihihihihi!”


“Ayo bermain bersamaku! Jangan keluar dari ruangan ini!"


“Ayo bermain bersamaku! Ayo main bersamaku!”


Tiba-tiba saja suara sosok tersebut menjadi sangat rendah dengan ekspresi marah pada topeng yang dipakainya.


“AYO BERMAIN BERSAMAKU!”


Sontak kami berdua lari terbirit-birit keluar dari ruangan tersebut. Ternyata kami masih dihadapkan dengan sebuah ruangan lagi, namun kali ini terdapat kasur di sudur ruangan. Kami yang sangat ketakutan mencari pintu keluar dari ruangan ini, tetapi hanya terdapat sebuah pintu yang terhubung dengan ruangan yang sebelumnya. Sementara itu suara teriakan sosok tersebut masih terdengar jelas dan terngiang-ngiang di kepalaku.


“Bagaimana ini? Kita keluar lewat mana?” tanya Rein panik. Aku juga kalang kabut dan melihat ke sekitar, namun suara bising sosok tersebut membuatku pusing dan pandanganku agak buyar. Tak lama kemudian terdengar suara bayi yang tertawa dengan keras. Aku baru tersadar ada sebuah boneka bayi yang terletak di atas meja cermin itu.


“Astaga! Apa lagi ini…?” lontarku gelagapan. Lalu aku melihat sebuah lemari yang tertutup.


“Semoga ini adalah pintu keluarnya!” seruku sambil membuka pintu tersebut dengan kencang. Dan ternyata benar saja, lemari itu adalah pintu tersembunyi untuk keluar. Kami pun berlari pergi melewati lemari tersebut dan akhirnya petuangan angker kami telah usai. Seorang penjaga pintu keluar menyambut kami dengan gembira.


“Selamat! Kalian berhasil keluar dari rumah hantu ini!” Sementara itu kami berdua sangat kelelahan dan napas kami sangat berantakan.


“Akhirnya… Kita keluar juga…” hembus Rein lega. Lalu kami meninggalkan rumah hantu tersebut dan menunggu Cassie dan Gavin. Sembari menunggu, kami beristirahat di sebuah bangku yang berada di seberang tempat itu. Tidak banyak pembicaraan yang kami lakukan. Pada saat itu juga, terpikirkan di benakku keadaan Cassie sekarang.


“Astaga! Bagaimana dengan Cassie? Di akan baik-baik saja di dalam, kan?”


“Oh iya! Cassie!”

__ADS_1


Bersambung~


Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)


__ADS_2