
Langit petang nan cerah berwarna biru terang. Hawa yang mulai adem dan teduh membuat kami memberanikan diri untuk pergi keluar dari peratapan gedung di tengah musim panas ini. Akan tetapi hal tersebut tidak membuat sebagian orang untuk beraktivitas. Telihat kondisi di kompleks sekolah masih sepi, tidak banyak orang-orang yang berlalu-lalang.
Aku dan teman-temanku yang perempuan sedang berada di luar kompleks sekolah, tepatnya di jalan utama. Kami melangkahkan kaki menuju pusat perbelanjaan. Mereka semua tampak bersemangat dan riang gembira, berbeda dengan aku yang berbeda terbalik dengan mereka. Mereka semua saling mengobrol dengan bising, sementara itu aku mengikuti mereka dari belakang.
“Huft… Aku ingin pulang saja…” gumamku dalam hati, tetapi situasi saat ini tidak memungkinkan untukku kembali pulang. Tak lama kemudian Cassie menoleh ke belakang dan menatapku. Melihatku yang tidak bersemangat lantas ia melambatkan langkahnya dan berjalan tepat di sebelahku.
“Kau baik-baik saja, kan?” tanya Cassie polos.
“Yah… Sebenarnya aku ingin cepat-cepat pulang,” hembusku menjawabnya.
“Semangat! Anggap saja ini supaya kau tahu daerah sekitar sini juga,” lontarnya tersenyum. Kemudian aku membalasnya dengan menarik pipi menyeringai. Pada saat itu juga Rein menghampiri kami berdua.
“Sepertinya kalian asik sekali, sedang membicarakan apa?” tanya Rein penasaran dan aku pun menjawabnya dengan ceria. “Aku bisa mengenali daerah ini berkat kalian.” Lalu Icha dan Bella juga mendekati kami bertiga.
“Kau suka melebih-lebihkannya, ya. Haha…” sahut Rein tertawa, begitu pula denganku yang merasa terhibur dengannya.
“Tidak lama lagi kita akan sampai, kawan-kawan,” lanjut Bella gembira.
“Kalian tahu tempatnya ada di mana?” tanyaku kepada mereka berdua.
“Ya, kami sempat pergi ke pusat perbelanjaan kemarin,” jawab Icha.
“Walaupun sempat sedikit tersesat… Hehe…” ujar Bella menambahkan sembari cengengesan.
“Wah, kalian sudah berkeliaran meskipun baru sampai,” lontarku.
“Hihihi… Lagi-lagi ucapanmu berlebihan,” balas Rein. Sementara itu Cassie hanya terdiam dan menyimak kami yang tengah berbincang-bincang. Aku yang melihat dirinya seperti itu menjadi teringat bahwa Cassie cukup pemalu dengan situasi sekarang.
“Kau diam-diam saja, Cassie,” ucapku tersenyum senang ke arahnya.
“Aku bingung mau bicara apa,” tuturnya yang juga tersenyum kepadaku. Sontak Rein langsung menyahutinya sambil merangku dirinya.
“Ayolah, jangan malu-malu. Santai saja… Betul kan, Tampan.” Tepat setelah mendengar ucapannya itu, tiba-tiba aku terkejut akibat ulahnya.
“Iya… Ternyata kau juga sama-sama berlebihan, ya,” balasku.
“Betul juga kata Rein. Aku baru sadar kau ganteng,” lanjut Icha seraya menatapku dan membuatku sedikit tak enak hati.
“Kalian serius sekali ngobrolnya, ya. Sampai-sampai tidak sadar kalau kita sudah tiba,” ucap Bella kepada kami semua. Tanpa disadari, kami telah sampai di pusat perbelanjaan. Melihatnya saja dari luar sudah membuatku terkesima dengan bangunan yang sangat besar itu.
“Apa semua bangunan di daerah ini besar-besar semua?” lontarku pelan.
“Namanya juga pusat kota,” balas Bella.
Kemudian kami semua pergi masuk ke dalam gedung tersebut. Anehnya, tempat yang sedang kulihat saat ini sangat ramai sekali, tidak seperti kompleks sekolah yang sepi. Kami semua melangkahkan kaki di sepanjang koridor dengan toko-toko yang berjajar di samping kami. Barang-barang yang dipamerkan dari masing-masing toko membuat siapa pun yang melewatinya menjadi tergoda. Hal tersebut benar-benar terjadi pada para perempuan itu.
__ADS_1
“Lihat tas-tas itu! Bagus sekali,” lontar Icha berbunga-bunga.
“Hmm… Wangi sekali… Aku jadi lapar,” lanjut Bella.
“Adelard, kau ingin membeli es krim di sana?” ajak Cassie kepadaku. Rein yang mendengar ucapan mereka lantas menjadi sedikit sebal, lalu ia mengingatkan mereka akan tujuan awal kami semua ke sini.
“Ingat, kita ingin pergi ke toko swalayan.” Mereka bertiga yang sudah bersemangat mendadak menjadi lesu setelah mendengarkan Rein. Kemudian Icha, Bella, dan Cassie saling bersahut-sahutan.
“Yah… Padahal aku ingin lihat-lihat sebentar.”
“Perut yang sudah lapar tidak bisa ditahan.”
“Setidaknya kita bisa menyegarkan mulut sebentar, kan?”
Aku yang mendengar mereka bertiga membuatku menggeleng-gelengkan kepala. Kami pun terus berjalan menuju toko swalayan, dan selama itu pula mereka terus tergoda oleh toko-toko yang dilihat mereka. Sementara itu Rein tidak seperti mereka, dengan tenang ia berjalan sembari melihat kiri dan kanan.
“Kau tidak ingin membeli sesuatu?” tanyaku penasaran.
“Utamakan dahulu apa yang kita butuhkan, lalu apa yang kita inginkan,” jawabnya dengan elegan.
“K—Kau bijak sekali…” pujiku terpukau padanya.
“Dengan begitu kau bisa menjadi dewasa,” balasnya tersenyum.
“Aku akan menunggu kalian di sini,” ucapku sembari duduk di bangku yang tersedia di pinggir koridor. Mereka semua pun mengizinkanku untuk tidak ikut ke dalam. Namun Rein tersenyum licik ke arahku dan memiliki niat jahat kepadaku. Aku yang melihatnya menjadi merinding ketakutan.
“Baiklah, aku akan bersama Adelard di sini,” lontar Rein tiba-tiba. Seketika mereka bertiga tidak menerima dengan keputusan yang mendadak itu.
“Tidak bisa, lebih baik aku saja yang menemaninya,” balas Icha kesal.
“Biar aku saja. Kalian belanja saja ke dalam,” sahut Bella. Cassie juga tak luput dari rasa jengkel.
“Lah, bukannya kau yang butuh belanja. Lagi pula aku dan Adelard sudah kenal lebih lama. Jadi aku yang akan menemaninya di sini.”
“Tidak adil kalau seperti itu,” balas Icha tidak terima.
“Kalau begitu bagaimana kalau kita tentukan dari hompimpa,” usul Rein tenang. Aku yang melihat mereka yang ribut membuatku dongkol, tetapi aku tidak tahu berkata apa.
“Huft… Apalagi yang terjadi sekarang…” batinku pasrah dalam hati.
“Baiklah! Ayo kita tentukan!” sahut Bella. Kemudian mereka melakukan permainan tangan tersebut dan dimenangkan oleh Rein. Seharusnya mereka bisa berdamai dan menerimanya, akan tetapi keadaan berbanding terbalik dan situasi menjadi lebih keruh.
“Pokoknya ia bersamaku!” seru Icha seraya menggenggam.
“Berani sekali kau, Anak Baru,” balas Cassie geram.
__ADS_1
Sontak mereka bertiga menarik-narik tanganku ke berbagai arah sambil bersahut-sahutan dengan suara yang kencang. Sampai-sampai hal tersebut menarik perhatian orang-orang di sekitar. Sementara itu Rein hanya menatapku sembari tersenyum licik. Dengan penuh kesal aku menatapnya dengan tajam dan wajah murka.
“Jadi seperti ini kau bermain… Aku akan membalasmu!” gerutuku dalam hati. Beberapa waktu berlalu, akhirnya kami mencapai suatu keputusan bersama.
“Nah, seperti ini lebih baik,” lontar Rein tersenyum senang. Keputusan akhir yang disetujui mereka adalah kami semua pergi masuk ke dalam toko tersebut, termasuk diriku. Sembari melangkah dan mengambil beberapa barang, aku masih geram dengan ulah yang Rein lakukan kepadaku.
“Ujung-ujungnya aku ikut ke dalam,” sesalku dalam hati. Aku menatap Rein dengan wajah kesal, sedangkan ia hanya membalasku dengan tersenyum dan mengangkat kedua jari sebagai simbol perdamaian. Lebih dari dua jam kami habiskan di tempat ini. Setelah membayar kasir dan keluar dari toko, aku merasa sangat lega.
“Akhirnya!” lontarku. Tak lama kemudian mereka berempat berkumpul lalu saling berbisik membahas sesuatu. Aku tidak tahu apa yang mereka rencanakan.
“Ayo kita ke suatu tempat,” ucap Bella.
“Kita mau ke mana lagi?” tanyaku kebingungan.
“Rahasia,” jawab Icha tersenyum.
Kami pun berjalan ke tempat yang belum aku ketahui sebelumnya. Setibanya di tujuan sontak aku menjadi syok dan mulutku terbuka lebar.
“K—Ke—Kenapa ke sini?” tanyaku tercengang.
“Besok kita akan ke pantai,” jawab Rein gembira.
Sekali lagi, aku dikejutkan dengan keputusan mereka yang sangat tiba-tiba. Lantas mereka berempat menarikku masuk ke dalam. Tampak pakaian-pakaian yang dipajang merupakan baju renang perempuan. Ternyata aku dibawa oleh mereka ke toko pakaian renang perempuan. Toko tersebut dipenuhi oleh para pengunjung yang berupa perempuan, sedangkan aku hanya laki-laki seorang. Hal tersebut membuatku malu dan menutup-nutupi wajahku. Terdengar suara bisikan orang-orang yang cukup jelas masuk ke telingaku.
“Lihat, tampan sekali.”
“Dia membawa empat perempuan sekaligus?”
“Aku ingin jadi salah satu dari mereka.”
“Beginilah jika jadi orang ganteng. Hihihi…” Kalimat demi kalimat terdengar dari para pengunjung yang menatapiku dengan wajah yang berbunga-bunga. Aku sudah tidak tahan menahan malu dan wajahku sudah semerah apel. Tak lama kemudian teman-temanku datang dan memperlihatkan baju renang yang dipilih mereka.
“Bagaimana menurutmu?” celetuk Rein kepadaku.
“Pilih saja sesuai keinginan kalian!” jawabku kalang-kabut sembari memalingkan wajah dari mereka.
“Eh…? Tidak boleh, ya?” balas Cassie yang polos dan keheranan.
“Aku akan menunggu kalian di luar!” seruku seraya berlari keluar dari toko. Mereka dan orang-orang melihatku dengan wajah kebingungan. Aku yang telah berada diluar merasa bersalah atas apa yang telah terjadi barusan. Aku hanya bisa berkeluh kesah di dalam batinku.
“Dewa, kenapa hal seperti ini selalu terjadi padaku?”
Bersambung~
Sekiranya jika cerita ini seru dan menarik, mohon berkenan untuk setia mendukung dan sebar luaskan ke pembaca lainnya :)
__ADS_1